BERITAALTERNATIF.COM – Pemerintah Qatar membantah klaim Gedung Putih yang menyebut Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah memberi peringatan sebelum Israel melancarkan serangan terhadap para negosiator Hamas di Doha.
Pernyataan Gedung Putih itu disampaikan hanya beberapa jam setelah serangan menghantam kawasan permukiman di ibu kota Qatar, Selasa, 9 September 2025. Qatar selama ini berperan sebagai mediator utama dalam pembicaraan gencatan senjata yang didukung AS untuk mengakhiri perang di Gaza.
Juru bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, mengatakan Trump telah memerintahkan utusannya, Steve Witkoff, untuk memberi tahu Qatar mengenai serangan itu. Namun, Kementerian Luar Negeri Qatar menegaskan klaim tersebut tidak benar. Juru bicara Majed Al-Ansari menulis bahwa panggilan dari pejabat AS baru diterima saat ledakan sudah terdengar di Doha.
Menteri Luar Negeri Qatar Syekh Mohammed bin Abdulrahman Al Thani, bahkan menyebut panggilan dari AS datang sepuluh menit setelah serangan dimulai dan menegaskan bahwa insiden itu merupakan bentuk “terorisme negara”.
Serangan tersebut menewaskan lima anggota Hamas serta seorang petugas keamanan Qatar. Trump kemudian menyatakan penyesalan atas lokasi serangan itu, menekankan bahwa keputusan diambil Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, bukan dirinya.
Meski Washington menyebut serangan itu tidak mendukung tujuan AS maupun Israel, banyak pihak di kawasan menilai pemerintahan Trump tetap ikut bertanggung jawab.
Hamas menegaskan bahwa serangan tersebut menjadi bukti Israel tidak berniat mencapai kesepakatan damai dan justru ingin menggagalkan setiap upaya internasional.
Emir Qatar Syekh Tamim bin Hamad Al Thani mengecam keras serangan itu sebagai pelanggaran kedaulatan negaranya dan ancaman bagi stabilitas kawasan.
Syekh Tamim menegaskan Qatar akan mengambil langkah yang diperlukan untuk menjaga keamanan dan kedaulatan negara.
Qatar selama ini dikenal sebagai sekutu strategis AS dan berstatus “non-NATO major ally” sejak 2022. Namun, para analis menilai serangan Israel di jantung Doha, hanya beberapa kilometer dari pangkalan militer terbesar AS di kawasan, menunjukkan lemahnya perlindungan meski memiliki status kehormatan tersebut.
Beberapa pakar juga menilai serangan itu akan memperburuk kredibilitas AS, mendinginkan diplomasi, dan menimbulkan tekanan besar bagi negara tetangga Qatar, termasuk UEA dan Arab Saudi, agar mengambil sikap tegas terhadap Israel. (*)
Sumber: Fars News
Penerjemah: Ali Hadi Assegaf
Editor: Ufqil Mubin












