BERITAALTERNATIF.COM – Fakultas Teknik Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) melalui Pusat Studi Penelitian dan Pengelolaan Lingkungan Hidup menggelar pameran karya mahasiswa dan inovasi riset yang menjadi puncak rangkaian kegiatan akademik sepanjang Desember 2025.
Kegiatan yang dilaksanakan di Lapangan Basket Unikarta pada Kamis (18/12/2025) ini menampilkan beragam inovasi strategis di bidang pertambangan, reklamasi pasca tambang, pengelolaan lingkungan, hingga teknologi pengolahan air layak konsumsi.
Ketua Pusat Studi Penelitian dan Pengelolaan Lingkungan Hidup Fakultas Tekni Unikarta, Dr. Ansahar, menjelaskan bahwa rangkaian kegiatan ini diawali dengan pelibatan mahasiswa dalam forum ilmiah berskala nasional dan internasional.
“Pada seminar internasional ke-8 di Unmul, kami mengikutsertakan dua judul penelitian. Kemudian pada 3 Desember, mahasiswa juga kami libatkan dalam seminar nasional di Universitas Pancasila, Jakarta, dengan dua judul penelitian. Jadi sepanjang Desember, kami sudah mengikuti dua kegiatan besar, internasional dan nasional, dengan total empat judul,” ujarnya.
Dia menuturkan, pameran yang digelar saat ini merupakan puncak dari seluruh rangkaian kegiatan tersebut, dengan menampilkan empat maket aktivitas pertambangan dan reklamasi pasca tambang.
Pameran tersebut menggambarkan siklus pertambangan secara utuh, mulai dari metode tambang terbuka, aktivitas pertambangan, penutupan tambang menjadi lahan pasca tambang, hingga proses reklamasi.
“Dari aktivitas pertambangan ini, khususnya reklamasi dan lahan pasca tambang, kami tawarkan berbagai pemanfaatan ekonomi. Mulai dari tanaman pokok, kelapa sawit, perkebunan, padi dan sawah, pergudangan, pemukiman, hingga pemanfaatan reklamasi sebagai taman rekreasi dan area pemancingan,” jelasnya.
Selain itu, turut dipamerkan 12 poster proposal penelitian pengembangan daerah yang berfokus pada Rencana Aksi Pengurangan Risiko Bencana (RA-PRB) berbasis masyarakat. Dari jumlah tersebut, tujuh proposal dirancang untuk segera dikerjakan sebagai riset lanjutan.
“Karena kami adalah peneliti, ide-ide ini tidak berhenti pada konsep. Hari ini kami deklarasikan kepada para pemangku kepentingan yang hadir. Kajian ini mencakup pengurangan risiko bencana kebakaran, perubahan iklim, perhutanan sosial masyarakat, pemanfaatan lahan pasca tambang, hingga kebakaran hutan, yang semuanya dikaji secara akademik,” ungkapnya.
Ansahar menambahkan, hasil kajian tersebut ditujukan untuk melahirkan indeks prediktif yang mampu memproyeksikan kondisi risiko bencana hingga tiga tahun ke depan.
Yang paling menarik perhatian pengunjung, lanjutnya, adalah empat prototipe teknologi pengolahan air layak konsumsi, yakni teknologi pengolahan air gambut, air bekas tambang atau air void, air tanah, serta air payau atau air asin.
“Air gambut yang selama ini dianggap tidak layak, kami temukan teknologinya sehingga bisa menjadi air layak konsumsi. Begitu juga air bekas tambang, air tanah, dan air payau. Semua sudah berbentuk prototipe teknologi,” katanya.
Dia menegaskan bahwa seluruh inovasi yang dipamerkan tidak berhenti sebatas konsep atau prototype semata, melainkan telah dikembangkan menjadi aksi nyata yang siap diimplementasikan. Setiap teknologi dilengkapi dengan Detail Engineering Design (DED), Rencana Anggaran Biaya (RAB), laporan output, serta policy brief.
“Artinya, kalau mau diterapkan, semua sudah siap. Biayanya berapa, output-nya apa, semua sudah ada. Kalau ditotal berdasarkan RAB, nilai keseluruhannya mendekati Rp 1 miliar,” jelasnya.
Antusiasme terhadap inovasi tersebut juga datang dari berbagai pihak. Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) tercatat hadir dalam tiga gelombang berbeda, mulai dari kepala bidang, kepala laboratorium, hingga kepala teknis lapangan. “Mereka sangat tertarik, terutama pada teknologi pengelolaan air gambut,” ujarnya.
Selain itu, dari delapan perwakilan industri yang diundang, enam di antaranya hadir dan menyatakan ketertarikan. Bahkan, menurutnya, telah muncul tiga calon investor, terdiri dari dua pihak industri dan satu dari unsur pemerintah.
“Industri melihat inovasi teknologi ini sebagai peluang. Bukan sekadar keinginan dari kampus, tapi justru kebutuhan dari mereka. Ini yang membuat kami optimistis,” ucapnya.
Ia menjelaskan, kegiatan ini tidak hanya memamerkan inovasi riset dan teknologi lingkungan, tetapi juga merencanakan peluncuran dua buku akademik karya Ansahar. Namun, peluncuran tersebut belum dapat dilaksanakan bersamaan dengan kegiatan pameran karena terkendala proses pengiriman buku.
“Peluncuran dua buku ini jelas ada, tetapi hari ini belum bisa dilakukan karena tergendala pengiriman,” ujarnya.
Dua buku yang akan diluncurkan tersebut masing-masing berjudul Buku Ajar Panduan Praktis Penyusunan Skripsi dan Buku Referensi Metode Penelitian. Buku ajar disusun sebagai panduan praktis bagi mahasiswa agar lebih cepat dan sistematis dalam melaksanakan penelitian serta menyusun skripsi, sementara buku referensi difungsikan sebagai rujukan akademik dalam pengembangan metodologi penelitian.
“Secara substansi sebenarnya mirip, hanya dibedakan dalam gaya dan tujuan penulisan. Ada buku ajar, buku referensi, dan buku monograf. Pendekatannya berbeda-beda, cara mengunyah materinya juga berbeda,” jelasnya.
Ansahar menambahkan, sebagai dosen dan pendidik, terdapat kewajiban akademik untuk menghasilkan minimal satu buku setiap tahun, baik berupa buku ajar, buku referensi, maupun buku monograf. Dengan rampungnya dua buku tersebut, kewajiban tersebut telah terpenuhi dan tinggal menunggu distribusi serta peluncuran resmi.
Dia menjelaskan bahwa output utama dari seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari partisipasi seminar nasional dan internasional hingga pameran inovasi, adalah diseminasi hasil riset kepada masyarakat dan para pemangku kepentingan, khususnya pemerintah daerah dan pengguna (user).
“Outputnya adalah memberikan informasi kepada masyarakat, terutama pemerintah daerah dan user, bahwa Unikarta, khususnya Fakultas Teknik dan Pusat Studi Lingkungan Hidup, mampu melakukan riset pengembangan daerah berbasis pengurangan risiko bencana yang berbasis masyarakat,” ujarnya.
Riset tersebut mencakup rencana aksi pengurangan risiko bencana seperti kebakaran, perubahan iklim, perhutanan sosial, konflik lahan, hingga dinamika sosial masyarakat, yang seluruhnya dikaji secara akademik dan diarahkan untuk menjadi basis pengambilan keputusan.
Menurutnya, sebagai seorang peneliti dan akademisi, karya ilmiah yang dihasilkan sudah cukup jika dijadikan rujukan kebijakan. Namun, ia juga menyampaikan kritik konstruktif terhadap kurangnya dukungan kelembagaan di lingkungan universitas.
“Seharusnya kegiatan-kegiatan seperti ini mendapat dukungan dari lembaga universitas, khususnya LPPM, karena ini adalah kegiatan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat,” tegasnya.
Ia menilai LPPM seharusnya berperan sebagai engine of innovation, sementara Badan Penjamin Mutu (BPM) menjadi mesin peningkatan kualitas. Dukungan tersebut diharapkan tidak hanya sebatas administratif, tetapi juga berupa kolaborasi nyata.
“Ini jangan sampai menjadi one man show. Harusnya dikerjakan bersama-sama sebagai kerja institusional, bukan individu. Tapi tidak apa-apa, kami tetap kerjakan,” katanya.
Terkait respons eksternal, Ansahar mengungkapkan bahwa sejumlah instansi pemerintah seperti DLHK, Bappeda, dan PDAM, serta pihak industri, telah menunjukkan ketertarikan terhadap inovasi dan hasil riset yang dipamerkan. Meski demikian, kendala klasik berupa keterbatasan anggaran kerap menjadi alasan belum optimalnya tindak lanjut dari pihak pemerintah.
“Alasannya selalu soal anggaran, terpangkas atau tidak tersedia. Padahal secara konsep dan narasi, mereka mengakui ini bisa dikembangkan,” ujarnya.
Sementara itu, dari sektor industri, peluang kerja sama dinilai lebih konkret. Bahkan, jika seluruh program dan inovasi yang ditawarkan dikomersialisasikan atau dilelang, potensi nilai kerja sama yang dapat dinegosiasikan diperkirakan mencapai Rp 700 juta hingga Rp 1 miliar. “Tinggal bagaimana kelanjutannya,” pungkas Ansahar. (*)
Penulis: Ahmad Rifai
Editor: Ufqil Mubin










