BERITAALTERNATIF – Jenderal Letnan Jenderal Syahid Hajj Qassem Soleimani, mantan Komandan Pasukan Quds, gugur sebagai syahid pada 3 Januari 2019 bersama sejumlah pendampingnya, termasuk Abu Mahdi al-Muhandis, Wakil Kepala Pasukan Mobilisasi Rakyat Irak, akibat serangan Amerika Serikat atas perintah Presiden AS Donald Trump.
Berkat kedekatannya dengan Tuhan, ketulusan dalam bertindak, serta kemampuannya memahami dan mengenali musuh, syahid ini memiliki keahlian tinggi dalam membaca arah perkembangan ke depan. Dengan menganalisis situasi dan peristiwa secara akurat, ia berkali-kali berhasil menggagalkan rencana musuh dan memberikan pukulan strategis yang menentukan.
Salah satu prediksi terpenting Jenderal Soleimani adalah kemunculan kelompok teroris ISIS di Irak. Dengan pemahaman menyeluruh terhadap dinamika Irak serta karakteristik berbagai pihak, suku, dan mazhab, ia telah memberi peringatan kepada para pejabat Irak enam bulan sebelum ISIS muncul secara terbuka. Ia menyampaikan bahwa Amerika Serikat, dengan dukungan sejumlah negara Eropa termasuk Inggris serta beberapa negara kawasan, tengah berupaya membentuk kekuatan teroris di Irak yang akan berfungsi sebagai lengan operasional Amerika di kawasan tersebut. ISIS melancarkan operasi pertamanya di Irak pada 10 Juni 2015, sementara Jenderal Soleimani telah memprediksi sejak Desember 2014 bahwa misi kelompok proksi Amerika ini tidak terbatas pada Irak saja. Ia menegaskan bahwa setelah menguasai Irak dan menciptakan ketidakstabilan, kelompok tersebut akan menyerang negara-negara lain, termasuk Suriah dan Lebanon. Bahkan pada Mei 2015, menjelang pemilu Irak, Jenderal Soleimani kembali mengingatkan para pejabat bahwa kelompok-kelompok takfiri yang berpusat pada ISIS telah sepenuhnya menguasai provinsi-provinsi barat Irak dan hampir secara terbuka akan mengumumkan eksistensinya.
Pada saat itu, mesin propaganda Barat menggambarkan ISIS sebagai kelompok pencari keadilan anti-Syiah dan berupaya menampilkan mereka sebagai lawan pemerintah Syiah Irak yang diklaim memperjuangkan hak-hak kaum Sunni. Akibat propaganda tersebut, sebagian pejabat Irak memandang prediksi Jenderal Soleimani dengan sikap ragu. Namun berbekal informasi yang akurat, Jenderal Soleimani meyakinkan mereka bahwa keberadaan ISIS dan dukungan Amerika terhadap kelompok tersebut adalah nyata. Ketika ISIS berhasil merebut kota-kota penting, termasuk Samarra, dan mendekati Baghdad melalui operasi besar-besaran, Jenderal Soleimani menegaskan bahwa arus ini masih bisa dihentikan. Dengan kehadirannya yang berani di medan, penggerakan pasukan Irak, serta pembentukan Pasukan Mobilisasi Rakyat yang diisi para pemuda beriman dan pejuang, kelompok teroris itu akhirnya berhasil dilumpuhkan dan dihancurkan di Irak.
Dalam peristiwa lain, ketika ISIS muncul di Suriah dan berada di puncak aksi-aksi teror dengan dukungan Amerika Serikat dan Israel, Jenderal Soleimani kembali memprediksi kekalahan ISIS, bahkan menyebutkan perkiraan waktunya. Setelah kesyahidan Mohsen Hojaji, ia menyampaikan pesan tegas bahwa akar ISIS akan dikeringkan dalam waktu tiga bulan, dan prediksi tersebut benar-benar terwujud.
Prediksi penting lainnya adalah pengungkapan rencana rezim Zionis untuk menyerang Suriah, Lebanon, dan Iran. Pada 19 September 2012, dalam wawancara dengan Al-Arabiya, ia mengatakan bahwa Israel berencana menyerang Suriah, Lebanon, dan Iran dengan dukungan Amerika Serikat, serta menunggu Suriah melemah akibat konflik internal sebelum melancarkan serangan. Prediksi ini kemudian menjadi kenyataan dengan agresi Israel terhadap Suriah, Lebanon, dan Iran dengan dukungan Amerika.
Salah satu prediksi paling krusial Jenderal Soleimani adalah tentang ketidakstabilan rezim Zionis di masa depan. Pada Februari 2017 dalam konferensi Raz Ridvan, ia menegaskan bahwa tindakan rezim Zionis menunjukkan ketidakstabilan struktural dan psikologis, serta merupakan upaya putus asa terakhir yang menandakan bahwa rezim tersebut tidak akan bertahan lama. Operasi Badai al-Aqsa menjadi bukti nyata dari prediksi ini. Meskipun Jenderal Soleimani telah gugur dan tidak menyaksikan langsung proses kemunduran Israel, realitas di lapangan menunjukkan bahwa setelah Operasi Janji Sejati, rezim pendudukan mengalami kerusakan besar di bidang militer, politik, ekonomi, sosial, dan psikologis. Saat ini, Israel menjadi rezim yang paling dibenci di dunia dalam opini publik, dan setelah lolos dari kekalahan telak dengan bantuan Amerika Serikat dalam perang 12 hari melawan Iran, tanda-tanda stabilitas hampir tidak lagi terlihat.
Terkait Iran, Jenderal Soleimani meyakini bahwa kemenangan akhir akan menjadi milik bangsa Islam Iran dan Islam murni. Ia percaya bahwa selama masyarakat Iran mampu menjaga persatuan dalam ketaatan kepada kepemimpinan dan wilayatul faqih, seluruh konspirasi musuh-musuh Revolusi Islam akan dapat digagalkan.
Semoga kenangannya senantiasa dikenang dan jalannya tetap diteruskan. (*)
Sumber: Mehr News
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf












