BERITAALTERNATIF.COM – Buku berjudul Arayesh Jangi atau Formasi Masa Perang ini menceritakan upaya para perempuan Iran dalam bidang kemanusiaan dan perlawanan.
Di tengah berbagai krisis sosial, budaya, dan kemanusiaan, pengalaman hidup menunjukkan bahwa upaya individu maupun kelompok, bahkan dalam skala kecil sekalipun, dapat membawa perubahan besar bagi kehidupan orang lain.
Tindakan-tindakan ini membuka jalan baru bagi solidaritas terhadap mereka yang rentan, dan dengan mendokumentasikannya, kita dapat memahami bagaimana orang-orang biasa mampu berperan dalam perubahan sosial yang bermakna.
Kisah-kisah yang disampaikan oleh para perempuan memiliki bobot tersendiri. Mereka sering kali menggambarkan secara detail keterbatasan, tantangan, serta dampak nyata dari tindakan mereka terhadap keluarga dan masyarakat di sekitar.
Melalui gaya penceritaan seperti ini, pembaca bisa terhubung langsung dengan pengalaman manusiawi, dan melihat bagaimana dorongan pribadi dapat tumbuh menjadi gerakan sosial yang lebih luas.
Buku Arayesh Jangi merupakan salah satu upaya untuk menulis ulang sejarah dari perspektif perempuan. Karya ini dibangun dari kisah-kisah nyata tentang partisipasi perempuan dalam berbagai bidang perjuangan dan kegiatan kemanusiaan.
Penulisnya, Maryam Borzoui, dalam wawancaranya bersama Mehr News Agency, menjelaskan apa yang mendorongnya menulis buku tersebut.
Judul buku ini, kata Borzoui, berakar dari ucapan Imam Khomeini yang menyatakan bahwa “perang kita adalah perang iman, dan perang ini tidak mengenal batas.”
Bagi Borzoui, pandangan itu menggambarkan peran perempuan Muslim Iran sebagai sosok yang selalu siap menghadapi konfrontasi—baik di medan tempur, maupun di ranah budaya dan sosial.
Ia menegaskan bahwa perang tidak selalu berbentuk militer; perang juga bisa hadir dalam bentuk kerja sosial, pelayanan publik, atau aksi kemanusiaan. Dalam setiap medan perjuangan, semua sumber daya yang ada perlu digerakkan sebaik mungkin.
Di inti dari setiap wawancara yang dilakukan Borzoui, ada satu pertanyaan utama yang selalu muncul dari para narasumber, “Apa yang bisa saya lakukan?”
Pertanyaan ini datang dari berbagai latar belakang—dokter, penjahit, mahasiswa, ibu rumah tangga—semuanya ingin berkontribusi.
Menurut Borzoui, kekuatan utama buku ini justru terletak pada keberagaman cara para perempuan itu berperan. Masing-masing memberikan yang terbaik sesuai kemampuan dan situasi mereka, mulai dari tugas-tugas sederhana seperti menyiapkan makanan, hingga kegiatan profesional dan misi kemanusiaan di wilayah konflik.
Beberapa kisah dalam buku ini menceritakan tentang perempuan-perempuan dari Khuzestan, Ahvaz, Bushehr, dan Shiraz yang melakukan perjalanan ke Lebanon untuk membantu perempuan dan anak-anak korban perang.
Bergantung pada situasi, mereka tinggal selama satu minggu hingga satu bulan, menyelenggarakan program pendidikan dan kegiatan bermain bagi anak-anak, sekaligus mengajar kelas merajut bagi perempuan dewasa.
Melalui kegiatan itu, mereka berusaha mengurangi tekanan psikologis dan memberikan secercah ketenangan bagi keluarga yang hidup di bawah bayang-bayang perang.
Borzoui menegaskan bahwa buku ini sepenuhnya didasarkan pada kisah nyata dan hasil wawancara langsung. Tujuannya adalah untuk menjaga sejarah lisan perempuan Iran agar peran mereka tidak terlupakan, disangkal, atau disalahartikan oleh generasi setelahnya.
Dia juga berharap buku ini dapat diterjemahkan ke berbagai bahasa agar pesan perjuangan perempuan Iran dapat menjangkau khalayak internasional.
“Ketika dunia membaca kisah para perempuan di garis perlawanan, mereka akan merasa terinspirasi—dan semangat gerakan ini akan terus hidup,” kata Borzoui menutup wawancara.
Lebih dari sekadar catatan sejarah, Arayesh Jangi menjadi pengingat bahwa keberanian tidak selalu ditunjukkan dengan mengangkat senjata. Kadang, keberanian itu hadir dalam bentuk membantu, mendengarkan, mengajar, atau menyembuhkan.
Di tangan para perempuan Iran, nilai-nilai kemanusiaan menjelma menjadi kekuatan perlawanan yang nyata—kekuatan yang mengubah penderitaan menjadi harapan, dan kesunyian menjadi suara yang menggema lintas generasi. (*)
Sumber: Mehr News
Penerjemah: Ali Hadi Assegaf
Editor: Ufqil Mubin












