BERITAALTERNATIF.COM – Pemimpin gerakan Ansarullah Yaman, Sayyid Abdul Malik al-Houthi, menyoroti agresi berdarah rezim Zionis selama dua tahun terakhir yang dilakukan dengan senjata buatan Amerika Serikat, serta memperingatkan dampak berbahaya dari normalisasi hubungan dengan Tel Aviv.
Dikutip dari kanal Al-Masirah, Sayyid Abdul Malik menegaskan bahwa serangan rezim Zionis dalam dua tahun terakhir merupakan agresi paling brutal dan berdarah di era modern.
Menurutnya, musuh Zionis terus melanjutkan serangan sejak pendudukan Palestina hingga saat ini, dengan kejahatan yang dilakukan menggunakan bom penghancur buatan AS yang secara langsung menyasar warga sipil.
Dia menambahkan bahwa rezim Zionis bahkan mengumpulkan para kontraktor untuk melaksanakan proyek penghancuran total di Jalur Gaza. Dengan dukungan AS, mereka telah membunuh dan melukai sekitar 11 persen penduduk Gaza di wilayah yang sangat sempit.
“Ini adalah angka pembantaian tertinggi dalam sejarah kontemporer. Layak disebut sebagai ‘kejahatan abad ini’,” ujarnya.
Ia menjelaskan, Israel telah memulai penghancuran total Jalur Gaza dari utara hingga selatan, menghancurkan permukiman penduduk dengan serangan udara dan bahan peledak.
Salah satu tujuan utama Tel Aviv selama dua tahun terakhir adalah pengusiran paksa penduduk Gaza, yang telah menyebabkan pengungsian berulang terhadap ribuan warga Palestina.
Lebih dari 1.000 masjid menjadi target, dan bahkan kuburan-kuburan tidak luput dari serangan. Sayyid Abdul Malik juga mengungkapkan bahwa lebih dari 2.000 jenazah telah dicuri oleh pasukan Israel.
Dia menegaskan bahwa Operasi Badai Al-Aqsa adalah peristiwa penting dan penuh berkah, menjadi titik balik besar dalam perjuangan rakyat Palestina selama beberapa dekade terakhir.
Ia memperingatkan bahwa proyek “Israel Raya” bertujuan menjadikan seluruh kawasan dan sumber dayanya sebagai alat kepentingan Amerika dan Tel Aviv.
Menurutnya, upaya perubahan nama kawasan Timur Tengah hanyalah bagian dari proyek besar untuk menundukkan bangsa-bangsa di wilayah tersebut.
“Normalisasi hubungan dengan Israel adalah pengkhianatan mutlak terhadap umat, dan setiap bentuk kerja sama dengan musuh Zionis adalah bentuk pengkhianatan,” tegasnya.
Sayyid Abdul Malik menambahkan, komitmen rezim-rezim Arab dalam perjanjian normalisasi membuat Israel perlahan-lahan menguasai wilayah, terutama dengan menyingkirkan isu Palestina dari prioritas dunia Arab.
Terkait dengan konfrontasi antara Iran dan Israel, dia menjelaskan bahwa Republik Islam Iran telah berhadapan langsung dengan rezim Zionis dalam beberapa pertempuran besar.
Ia menyinggung Operasi Janji yang Ditepati yang disertai serangan rudal terbesar dalam sejarah pertempuran melawan Israel, serta perang 12 hari yang melibatkan konfrontasi terbuka. “Rezim Zionis, dengan dukungan Amerika, telah melancarkan agresi terhadap Iran,” katanya.
Pemimpin Ansarullah itu juga memperingatkan adanya “pendudukan akal dan hati”, yaitu upaya sistematis untuk membenarkan agresi Israel dan memengaruhi opini publik demi kepentingan Washington dan Tel Aviv.
Ia menyebut ada rencana berbahaya untuk mengaitkan ekonomi negara-negara Arab dengan Israel, sehingga Tel Aviv dapat mengendalikan urusan ekonomi kawasan. “Operasi Badai Al-Aqsa telah menunda rencana itu,” ujarnya.
Sayyid Abdul Malik mengungkapkan bahwa Israel bahkan berencana membangun kanal pengganti Terusan Suez, yang disebut “Kanal Ben Gurion”, untuk menguasai jalur perdagangan, sistem komunikasi, dan bahkan internet global.
“Proyek ini masih terus dijalankan, termasuk ambisi Israel untuk menguasai sumber air dan akhirnya mewujudkan impian lama: menguasai wilayah dari Sungai Nil hingga Sungai Efrat,” katanya.
Dalam bagian akhir pidatonya, dia juga mengkritik beberapa negara Teluk yang membuka wilayah udara mereka untuk pesawat mata-mata Israel.
Ia menilai tindakan itu sangat berbahaya karena “para penjajah yang mereka bantu justru memata-matai mereka sendiri.”
Menurutnya, bahkan sebelum Operasi Badai Al-Aqsa, Israel telah bersiap melancarkan agresi besar terhadap Gaza.
Mengenai operasi militer Yaman untuk mendukung Gaza, Sayyid Abdul Malik menyebut bahwa sejauh ini telah dilakukan lebih dari 1.835 serangan rudal dan drone terhadap target Israel.
Dia menegaskan bahwa perjuangan itu akan terus berlanjut selama rezim Zionis melanjutkan agresinya terhadap rakyat Palestina. (*)
Sumber: Mehr News
Penerjemah: Ali Hadi Assegaf
Editor: Ufqil Mubin












