Search

Pembantaian Sistematis terhadap Jurnalis di Gaza

Gaza menjadi salah satu tempat paling berbahaya di dunia untuk peliputan media. Jurnalis, sebagai warga Palestina yang tinggal di Gaza, secara sistematis dan sengaja menjadi target rezim Zionis. (Mehr News)

BERITAALTERNATIF.COM – Warga Palestina sejak lahir sudah berada dalam ancaman; setiap saat mereka berusaha bertahan hidup di tengah pemboman serta blokade bantuan medis, air, dan makanan oleh rezim pendudukan. Dalam situasi ini, jurnalis lokal Palestina adalah satu-satunya pihak yang dapat memberi gambaran jelas kepada dunia tentang apa yang sebenarnya terjadi di Gaza.

Sejak 7 Oktober, Jalur Gaza yang panjangnya 365 km menjadi salah satu lokasi paling berbahaya di dunia bagi jurnalis. Mereka menghadapi masa paling berdarah, dengan peliputan berita terhambat oleh pemadaman listrik dan internet. Akhirnya, secara sistematis dan sengaja mereka dibidik agar fakta tentang kejahatan pembersihan etnis oleh penjajah Zionis tidak tersampaikan ke publik.

Safinaz Al-Louh, jurnalis lepas di Gaza yang kehilangan saudara kameramennya dalam perang, mengatakan kepada DW, “Sulit menggambarkan bagaimana rasanya berada di Gaza. Suara bom, ledakan, dan jumlah korban tewas sungguh tak terlukiskan.”

Sejak dimulainya perang terhadap Gaza dalam 22 bulan terakhir, 233 jurnalis dan pekerja media di Gaza, Tepi Barat, dan Yerusalem gugur. Bertepatan dengan peringatan wafatnya Mahmoud Saremi dan Hari Jurnalis, laporan ini menyoroti sejumlah kasus pembunuhan jurnalis oleh rezim Zionis serta alasan mereka menjadi target.

Serangan tentara Israel tidak hanya di lokasi liputan, tapi juga ke rumah keluarga jurnalis.

Pertama, Wael Al-Dahdouh, Kepala Biro Al Jazeera, kehilangan istri, anak-anak, dan beberapa anggota keluarganya dalam serangan udara pada 25 Oktober 2023 saat ia meliput pemboman di Gaza. Rumah yang dibom berada di kamp pengungsi Nuseirat, tempat mereka mengungsi setelah rumah awal mereka hancur.

Kedua, Mohammad Abu Hatab, jurnalis TV Palestina, gugur bersama 11 anggota keluarganya.

Ketiga, Mohammad Abu Hsira, jurnalis Kantor Berita Wafa, gugur bersama lebih dari 40 anggota keluarganya; rekannya Mohammad Hamoudeh terluka.

Keempat, Mohammad Mansour, jurnalis Palestina Al-Youm TV, gugur bersama istri dan anaknya di Khan Younis.

Kelima, Hossam Shabat, jurnalis Al Jazeera Mubasher berusia 23 tahun, gugur ketika mobilnya dibom di Beit Lahiya. Israel menuduhnya “penembak jitu teroris”, tuduhan yang dibantah Shabat semasa hidup dan juga oleh Al Jazeera.

Carlos Martinez dari Committee to Protect Journalists mengutuk pembunuhan Mansour dan Shabat, menegaskan bahwa jurnalis adalah warga sipil dan penyerangan terhadap mereka di zona perang adalah ilegal.

Israel juga mengebom lebih dari 50 kantor media, termasuk kantor AFP, Al Jazeera, Al-Sharq TV, dan berbagai stasiun radio di Gaza yang kini berhenti siaran karena kekurangan listrik. Di Tepi Barat, puluhan jurnalis ditangkap, rumah mereka digerebek, dan mereka diintimidasi.

Tidak hanya jurnalis Palestina, suara-suara dari dalam Israel yang berseberangan dengan narasi resmi juga dibungkam.

Pertama, Israel Frey, jurnalis kiri Israel, ditangkap dan diinterogasi setelah memuji perlawanan Palestina yang menargetkan sasaran militer.

Kedua, Shireen Abu Akleh, jurnalis Al Jazeera, tewas ditembak tentara Israel. Meski bukti video, laporan PBB, investigasi CNN dan The New York Times, serta analisis forensik menyimpulkan bahwa itu adalah serangan sengaja, Israel sempat menyangkal hingga bukti tak terbantahkan muncul.

Ketiga, beberapa bulan setelah pembunuhan Abu Akleh, Israel membunuh Ghufran Warasneh, jurnalis dan mantan tahanan, dengan tembakan ke bagian atas tubuh.

Hingga kini Israel melarang masuk jurnalis asing ke Gaza, meski ada desakan dari berbagai media dan organisasi kebebasan pers internasional. Mahkamah Agung Israel belum mengeluarkan putusan atas gugatan Foreign Press Association. Hanya segelintir jurnalis yang diizinkan masuk, itu pun dalam kunjungan militer yang sangat dikontrol.

Mohammad Abdulrahman Abu Ubaid, jurnalis Al-Alam di Gaza, mengatakan, “Kami dibidik karena menyiarkan gambar dan laporan pembunuhan yang dilakukan Israel. Meski mental kami hampir runtuh melihat genosida setiap hari, kami berusaha bertahan. Kami menyerukan kepada semua jurnalis di dunia untuk terus membongkar kejahatan ini dan menyebarkannya di forum internasional.” (*)

Sumber: Mehr News
Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA