Search

Pejabat Pakistan: Netanyahu Destabilisasi Kawasan, AS Hambat Perundingan

Mantan Menteri Informasi Pakistan sekaligus Senator, Mushahid Hussain Sayed. (Pakistan Today)

BERITAALTERNATIF.COM – Dalam wawancara eksklusif dengan Al Mayadeen, mantan Menteri Informasi Pakistan sekaligus Senator, Mushahid Hussain Sayed, menyoroti peran Pakistan dalam memfasilitasi perundingan Iran–Amerika Serikat, membahas hambatan menuju putaran kedua negosiasi, serta perkembangan regional yang melibatkan Lebanon, Selat Hormuz, dan ketegangan kawasan yang lebih luas.

Dalam wawancara tersebut, Sayed menekankan upaya diplomatik Pakistan dalam memfasilitasi komunikasi tidak langsung maupun langsung antara Iran dan AS, dan menyebut proses ini sebagai terobosan langka dalam diplomasi kawasan.

Dia menyatakan bahwa Pakistan “mencapai sesuatu yang hampir mustahil” pada putaran awal pembicaraan dengan membantu mempertemukan perwakilan Iran dan AS di satu meja.

Ia menegaskan bahwa makna penting dari upaya tersebut terletak pada “mempertemukan pihak Iran dan Amerika dalam satu ruangan,” yang ia sebut sebagai pencapaian diplomatik yang signifikan.

Menurutnya, harapan tetap tinggi untuk putaran kedua perundingan antara Teheran dan Washington. Namun, Sayed menekankan bahwa kemajuan tersebut bergantung pada pencabutan blokade laut AS terhadap Iran.

Sayed juga mengatakan bahwa kelanjutan dialog sangat bergantung pada perubahan kebijakan AS. Pakistan, menurutnya, tetap menjalin kontak aktif dengan Teheran dan Washington, termasuk melalui komunikasi dengan pimpinan militer Pakistan yang turut berperan sebagai fasilitator.

Dia menegaskan bahwa kepemimpinan Iran merespons secara positif permintaan dari kepala angkatan darat Pakistan untuk meredakan ketegangan di Selat Hormuz, jalur maritim yang sangat strategis.

Ia menyebut bahwa posisi awal Iran mengharapkan pelonggaran pembatasan yang diberlakukan AS, namun hal tersebut belum terwujud. Meski demikian, keputusan Iran untuk menunjukkan fleksibilitas terkait Selat Hormuz mencerminkan kesediaannya mendukung upaya de-eskalasi.

Ia menyebut “bola sekarang ada di tangan Amerika,” menegaskan bahwa Washington harus mengambil langkah berikutnya jika negosiasi ingin berlanjut.

Sayed juga memperingatkan bahwa jika pembatasan terhadap pelabuhan Iran terus berlanjut, delegasi Iran kemungkinan tidak akan berpartisipasi dalam pembicaraan selanjutnya yang dijadwalkan di Islamabad.

Dia mengidentifikasi blokade AS terhadap Iran sebagai hambatan utama bagi putaran kedua perundingan, dan menyebutnya “salah secara hukum dan moral.”

Ia berpendapat bahwa Presiden AS, Donald Trump, mungkin pada akhirnya akan mempertimbangkan kembali posisi tersebut, dan bahwa pencabutan blokade dapat membuka jalan bagi dialog baru.

Sayed juga menilai kebijakan AS saat ini gagal mencapai tujuannya, serta menyatakan bahwa Washington berada di bawah tekanan untuk menemukan strategi keluar dari ketegangan regional yang berlangsung.

Dalam pernyataannya, dia menuduh Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, memainkan peran utama dalam meningkatkan ketegangan kawasan, dan menyebutnya sebagai sosok yang mendestabilisasi Asia Barat.

Ia juga menyatakan bahwa Netanyahu memengaruhi kebijakan AS dan menyeretnya ke dalam perang melalui “pemerasan” politik serta berkas Epstein yang kontroversial, di mana Trump disebut-sebut banyak disebut.

Selain itu, Sayed menyatakan bahwa Israel tidak menginginkan perdamaian, dan bahwa Zionisme mengejar gagasan Israel Raya, sebuah konsep yang ditolak di kawasan.

Dia menambahkan bahwa perlawanan regional, termasuk sikap Iran, telah menantang kelayakan proyek tersebut.

Mantan menteri tersebut juga menyinggung perkembangan di Lebanon, dengan menyatakan bahwa gencatan senjata tercapai setelah adanya tekanan terhadap kepemimpinan Israel.

Ia mengklaim bahwa Trump berperan dalam mendorong Netanyahu menuju de-eskalasi berdasarkan saran diplomatik, serta bahwa Iran juga secara tepat mendesak gencatan senjata di Lebanon, yang disebutnya sebagai korban agresi.

Sayed menekankan bahwa perdamaian di kawasan saling terkait, di mana stabilitas di Iran dan Asia Barat secara langsung berkaitan dengan perdamaian di Lebanon.

Dia juga menyebut bahwa pembahasan mencakup kerangka yang lebih luas, di mana Lebanon tidak diperlakukan sebagai isu terpisah, melainkan bagian dari penyelesaian regional yang lebih besar.

Ia menegaskan peran Pakistan sebagai aktor penting di kawasan, dengan menyoroti statusnya sebagai satu-satunya kekuatan nuklir di dunia Islam serta pendukung konsisten perjuangan Palestina.

Sayed menyebut bahwa Pakistan berada pada posisi strategis untuk terus memainkan peran mediasi antara kekuatan regional dan global.

Dia menyampaikan optimisme yang hati-hati bahwa kesepakatan antara Teheran dan Washington pada akhirnya dapat tercapai, bahkan berpotensi ditandatangani di Pakistan jika negosiasi berhasil.

Ia menutup dengan menegaskan bahwa Selat Hormuz bukanlah akar dari ketegangan, melainkan akibat dari konflik geopolitik yang lebih luas, yang dikaitkannya dengan kebijakan regional AS dan Israel. (*)

Sumber: Al Mayadeen

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA