Search

Pandangan Ayatollah Khamenei tentang Rencana Perdamaian Ukraina

Dalam pidato televisi terbarunya, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, Pemimpin Revolusi Islam, membahas krisis Ukraina dengan merujuk pada intervensi Amerika di berbagai penjuru dunia. (Mehr News)

BERITAALTERNATIF – Dalam pidato televisi terbarunya, Ayatollah Khamenei, Pemimpin Revolusi Islam, menyinggung krisis Ukraina dengan menunjuk pada intervensi Amerika di berbagai bagian dunia yang menjadi salah satu faktor pemicu perang. Beliau berkata, “Amerika memulai perang dahsyat di Ukraina dan tidak meraih hasil apa pun. Presiden Amerika yang sekarang ini mengatakan bahwa ia akan menyelesaikan masalah tersebut dalam tiga hari; sekarang, setelah satu tahun, ia dengan paksa sedang memaksakan sebuah rencana 28 pasal pada negara yang justru ia sendiri yang telah menyeretnya ke dalam perang.”

Beberapa poin dari cuplikan singkat ini telah dicatat dan dibahas sebagai berikut.

  1. Dalam bagian ini, Pemimpin Revolusi Islam menggambarkan Ukraina sebagai negara yang telah dibawa Amerika masuk ke dalam perang. Jika melihat ke belakang, dapat kita lihat bahwa kepentingan Amerika menuntut dilemahkannya peran Rusia dalam perkembangan internasional di Eropa Timur, Asia Barat, dan kawasan Eurasia, dalam kerangka kompetisinya dengan Rusia. Untuk mencapai tujuan ini, Amerika bersama Eropa memutuskan untuk memaksa Rusia terlibat perang dengan Ukraina dan menjadikan negara itu sebagai umpan untuk menyeret Rusia ke dalam perang. Bagi Amerika, hancurnya umpan tidak penting; yang penting adalah menjebak Moskow dalam perang. Di sepanjang jalan ini, Inggris berkali-kali menekankan perlunya penguatan militer Ukraina dan dorongan agar negara itu bergabung dengan NATO, dan pemerintah Ukraina yang pro-Barat di bawah Presiden Zelensky, dengan dukungan hangat Amerika Serikat dan NATO, menyambut konfrontasi militer dengan Rusia. Dengan cara inilah Amerika dan Eropa menyeret Ukraina ke dalam perang.
  2. Seperti yang ditegaskan Ayatollah Khamenei, presiden Amerika Serikat saat ini, setelah memasuki Gedung Putih, mengumumkan bahwa ia akan mengakhiri perang di Ukraina dalam waktu tiga hari, tetapi setahun setelah klaim ini, perang di Ukraina masih terus berlanjut.

Setelah berkuasa, Trump mengklaim bahwa ia akan mendirikan perdamaian antara Rusia dan Ukraina dengan cara memaksakan solusi, dan pada saat yang sama wakil presidennya, J.D. Vance, dengan penuh optimisme mengatakan, “Trump akan duduk bersama Rusia, Ukraina, dan Eropa, lalu mengatakan kepada mereka agar mereka sendiri merundingkan suatu perjanjian damai.” Namun seiring berlalunya waktu, terbukti bahwa meskipun telah terjadi beberapa kali kontak telepon antara Trump dan Putin, bahkan disertai pertemuan antara para pejabat tinggi Amerika dan Rusia di Riyadh, tidak ada hasil nyata yang dicapai. Trump, yang putus asa meyakinkan Rusia, mencoba memaksa tercapainya perundingan dengan cara menekan Ukraina dan Eropa, dan pertemuannya yang penuh penghinaan dengan presiden Ukraina, yang berujung pada pengusiran Zelensky dari Gedung Putih, menunjukkan bahwa penyelesaian krisis Ukraina tidak semudah yang dibayangkan Trump.

  1. Pemimpin Revolusi Islam juga menyinggung pemaksaan rencana 28 poin oleh Trump dalam pernyataannya, dengan mengatakan, “Sekarang, setelah satu tahun, ia dengan paksa sedang memaksakan rencana 28 poin pada negara yang justru ia sendiri yang telah menyeretnya ke dalam perang.” Namun rencana 28 poin yang diajukan Amerika Serikat kepada Ukraina ini secara persis sejalan dengan kepentingan Rusia dan memenuhi keinginan Moskow. Rencana ini diajukan pada saat Rusia berada dalam posisi yang kuat berkat kemajuannya di wilayah Ukraina dan penguasaan atas kota-kota penting, dan karena itu, Trump telah berusaha memuaskan Rusia bahkan sebelum meminta pendapat Ukraina dan negara-negara Eropa.

Menurut rencana ini, dua kota penting dan strategis Ukraina, yaitu Donetsk dan Luhansk, serta pulau strategis Krimea akan tetap berada di bawah kendali Moskow, sanksi terhadap Rusia akan secara bertahap dicabut, NATO harus berunding dengan Rusia untuk mendapatkan persetujuannya, isu keanggotaan Ukraina di NATO—yang merupakan alasan utama perang—akan dicoret, dan Amerika Serikat akan menjamin pelaksanaan rencana tersebut. Dalam rencana sepihak ini, Rusia hanya akan setuju untuk menghentikan serangan terhadap Ukraina, dan inilah satu-satunya capaian yang diperoleh Ukraina dari rencana Trump.

Tampaknya, para anggota NATO, termasuk Inggris, Prancis, dan Jerman, tidak sepakat dengan Amerika Serikat atas rencana ini, namun sudah pasti NATO harus menahan diri untuk tidak memperluas aliansi ke arah timur dan menerima dominasi Rusia atas wilayah-wilayah strategis Ukraina. Secara alamiah, penerimaan rencana ini oleh NATO akan tercatat dalam sejarah sebagai kegagalan terbesar kedua Pakta Pertahanan Atlantik Utara setelah pendudukan Afghanistan.

Pada akhirnya, sesuai penjelasan Ayatollah Khamenei, perang dahsyat yang dilancarkan Amerika Serikat ini tidak membuahkan hasil dan menjadi bukti kebijakan perang Trump. Presiden Amerika Serikat yang pernah mengatakan bahwa ia akan menyelesaikan persoalan Ukraina dalam tiga hari, kini setelah satu tahun memaksakan perang atas Ukraina, justru berusaha memaksakan perdamaian lewat rencana 28 poin, sementara ia sendiri masih belum bisa berharap adanya kedamaian yang nyata di negara itu. (*)

Sumber: Mehr News
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf

 

 

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA