BERITAALTERNATIF.COM – Menurut laporan harian al-Akhbar Lebanon, setelah kunjungan J.D. Vance—wakil Presiden AS—ke Tel Aviv, sejumlah sumber menyatakan bahwa keberlanjutan gencatan senjata di Gaza sangat ditentukan oleh kebijakan dan sikap Amerika Serikat.
Misi Wakil Trump di Wilayah Pendudukan
Menurut laporan tersebut, bahkan jika Amerika serius berusaha mencegah kembalinya perang, hal itu tidak berarti situasi akan terkendali sepenuhnya. Peluang keberhasilan tetap terbatas, kecuali Israel menunjukkan kesediaan nyata untuk memberikan konsesi besar — sesuatu yang tampak mustahil mengingat perhitungan politik dan keamanan Tel Aviv.
Sumber-sumber itu menekankan bahwa, meski begitu, tidak bisa dikatakan gencatan senjata akan runtuh secara tiba-tiba. Tanda-tanda yang ada justru menunjukkan meningkatnya ketegangan secara bertahap melalui bentrokan sporadis dan pelanggaran kecil yang terus menempatkan kesepakatan di ambang kehancuran, tanpa benar-benar membatalkannya.
Menurut al-Akhbar, keberlanjutan gencatan senjata kini tidak lagi ditentukan oleh kehendak kedua pihak—Hamas maupun Israel—melainkan oleh tekanan langsung dan berkelanjutan dari pemerintahan Donald Trump. Gedung Putih memandang kelangsungan gencatan senjata ini sebagai kepentingan strategis penting untuk mendorong visi dan kepentingannya pascaperang Gaza.
Namun, perjalanan Vance tidak semata-mata bertujuan menekan Israel agar mempertahankan gencatan senjata melalui upaya diplomatik cepat. Ia juga membawa misi strategis lain, yakni menyiapkan “meja perundingan” untuk tahap selanjutnya setelah proses pengembalian jenazah tawanan Israel selesai.
Tiga Syarat Rumit Gencatan Senjata Versi Trump
Pemerintahan Trump secara resmi menyatakan bahwa tujuannya adalah menjaga stabilitas situasi saat ini sampai tercapai “visi menyeluruh” untuk Gaza, yang dibangun di atas tiga pilar utama—semuanya sulit dilaksanakan.
Pertama, perlucutan senjata Hamas, yang merupakan syarat paling rumit. Kedua, pembentukan pasukan keamanan internasional di untuk menjaga stabilitas. Dan ketiga, pengaturan ulang tata kelola wilayah tersebut agar sesuai dengan kerangka politik baru pascaperang. Dua syarat pertama saja—perlucutan senjata dan penempatan pasukan internasional—sudah sama sulitnya untuk diwujudkan.
Hambatan bagi misi Amerika ini sangat banyak dan kompleks, sehingga membuat visi Washington tentang “hari setelah perang” hampir mustahil terlaksana. Terlebih karena Hamas jelas tidak akan menyerahkan senjatanya secara sukarela—senjata merupakan sumber kekuatan, legitimasi, dan keberadaan gerakan tersebut.
Sementara itu, Israel menolak keras setiap bentuk kehadiran politik Hamas di Gaza dan menuntut penghapusan total kelompok itu. Di sisi lain, kondisi kemanusiaan di Jalur Gaza kini berada di titik terburuk: kehancuran masif, infrastruktur lumpuh total, dan ribuan warga kehilangan tempat tinggal. Dengan situasi seperti ini, penerapan kesepakatan politik apa pun di lapangan akan sangat sulit.
Tiga Skenario Masa Depan Gencatan Senjata Gaza
Sumber-sumber politik memaparkan tiga kemungkinan skenario untuk tahap selanjutnya.
Pertama: Mempertahankan status quo. Dalam skenario ini, AS terus menekan agar gencatan senjata tidak runtuh. Hamas perlahan menyerahkan jenazah tawanan Israel yang tewas, sementara Tel Aviv — bergantung pada dinamika politik internalnya—mungkin membuka atau menutup sebagian perlintasan Rafah.
Meski begitu, bentrokan kecil tetap akan berlangsung di garis perbatasan tanpa menimbulkan pecahnya perang besar. Namun dalam kondisi seperti ini, tidak akan ada negosiasi nyata, dan masa depan Gaza pascaperang tetap kabur.
Kedua: Kembali ke perang terbuka. Meskipun Israel secara terbuka menunjukkan keinginan untuk melanjutkan perang melawan Gaza, keputusan akhir untuk memulainya kembali sebenarnya tidak berada di tangan Tel Aviv, melainkan di tangan Washington. Hanya Amerika yang dapat memberikan “lampu hijau” atau justru menahan Israel untuk tidak melangkah lebih jauh.
Ketiga: Kesepakatan terbatas di bawah pengawasan AS. Dalam skenario ini, kedua pihak akan mengambil langkah-langkah terbatas dan berhati-hati terkait masa “setelah kesepakatan”. Ini bukan solusi politik yang komprehensif, bahkan bukan kesepakatan formal, melainkan bentuk pengelolaan konflik yang terkontrol di bawah pengawasan Washington.
Perang yang belum Selesai, hanya “Tertunda”
Kesimpulan yang dapat diambil, menurut al-Akhbar, adalah bahwa perang Israel terhadap Gaza sebenarnya belum berakhir. Perang itu hanya “ditangguhkan”—bukan karena keputusan Palestina atau Israel, tetapi karena keputusan Amerika Serikat.
Situasi saat ini dapat digambarkan sebagai perang yang masih berlanjut di bawah “alat bantu pernapasan” buatan, yang sewaktu-waktu bisa berhenti bekerja. Artinya, ketegangan belum berakhir; perang hanya menunggu sinyal baru dari Washington untuk benar-benar berlanjut atau berhenti. (*)
Sumber: Mehr News
Penerjemah: Ali Hadi Assegaf












