BERITAALTERNATIF.COM – Kapasitas luar biasa pangkalan Bagram dalam mendukung operasi militer, kekayaan besar sumber daya mineral Afghanistan, letaknya yang dekat dengan perbatasan Tiongkok, serta peluang memperkuat pengaruh Amerika Serikat (AS) di Asia Tengah—semua ini menjadi alasan utama mengapa Donald Trump kembali melirik pangkalan strategis yang dulu pernah menjadi pusat operasi militer AS tersebut.
Pangkalan Bagram, yang selama bertahun-tahun menjadi jantung operasi militer Amerika di Afghanistan, kini kembali berada di garis depan perebutan pengaruh geopolitik. Tempat ini bukan sekadar bekas pangkalan militer, melainkan simbol dari persaingan global yang melibatkan Washington, Taliban, dan juga kekuatan-kekuatan besar kawasan.
Trump baru-baru ini secara terbuka berbicara mengenai keinginannya untuk mengambil kembali kendali atas Bagram. Dia bahkan sampai melontarkan ancaman keras bahwa bila Taliban tidak menyerahkan pangkalan itu kembali ke tangan Amerika, maka “hal-hal buruk” akan terjadi bagi Afghanistan.
Pernyataan tersebut segera mendapat respons keras dari Taliban. Para pemimpin Taliban menegaskan dengan tegas bahwa mereka tidak akan pernah mengizinkan pasukan asing, termasuk Amerika, untuk kembali mendirikan pangkalan di tanah Afghanistan.
Mereka juga menyinggung Perjanjian Doha tahun 2020, sebuah kesepakatan yang secara jelas memuat komitmen AS untuk tidak lagi mengancam kedaulatan dan integritas wilayah Afghanistan. Ucapan Trump ini membuat sorotan dunia kembali tertuju pada pentingnya Bagram dalam peta strategi global.
Empat Alasan Utama Amerika Ingin Menguasai Kembali Bagram
Pertama, lokasi geografis yang strategis dan peran dalam menghadapi ancaman global. Pangkalan Bagram berada hanya 50 kilometer dari Kabul, ibu kota Afghanistan, dan sekitar 800 kilometer dari perbatasan Tiongkok. Letaknya di jantung Asia menjadikannya salah satu titik paling strategis untuk memantau gerakan militer negara-negara besar.
Bagi Washington, Bagram adalah posisi yang ideal untuk mengawasi aktivitas militer Beijing, khususnya di kawasan Xinjiang di mana Tiongkok sedang memperluas jaringan rudal dan memperkuat kapasitas militernya.
Dengan memiliki kembali Bagram, AS dapat menempatkan mata dan telinga militer mereka tepat di depan pintu masuk Tiongkok, sekaligus mempertahankan kekuatan militernya di jalur-jalur penting seperti Laut China Selatan atau bahkan Selat Malaka.
Kedua, menguasai kekayaan mineral Afghanistan. Afghanistan dikenal memiliki cadangan mineral yang sangat besar dan bernilai strategis. Menurut perkiraan, nilai total cadangan mineral non-migas negara ini mencapai lebih dari 3 triliun dolar AS.
Mineral-mineral itu mencakup emas, tembaga, besi, hingga logam langka, dan yang paling penting adalah litium. Litium kini dianggap sebagai “emas putih” karena menjadi bahan utama pembuatan baterai untuk mobil listrik, perangkat elektronik, serta sistem energi terbarukan.
Beberapa laporan bahkan menyebutkan bahwa cadangan litium Afghanistan bisa menyaingi negara-negara produsen utama seperti Chili dan Argentina. Menurut laporan terbaru Badan Survei Geologi AS (USGS), Afghanistan masih memiliki potensi mineral tersembunyi senilai sekitar 60 miliar dolar.
Jika dieksploitasi, cadangan ini bisa memberi dampak besar bagi perekonomian global. Karena itulah, Afghanistan menjadi incaran negara-negara besar yang ingin mengamankan akses terhadap bahan baku strategis, termasuk AS dan Tiongkok.
Ketiga, pentingnya Asia Tengah dalam peta energi dunia. Asia Tengah selama beberapa tahun terakhir semakin dipandang sebagai kawasan vital dalam perebutan energi.
Negara-negara seperti Turkmenistan dan Uzbekistan memiliki cadangan gas dan minyak yang sangat besar. Dengan kembali menguasai Bagram, AS akan mendapatkan pijakan strategis untuk memperluas pengaruhnya di kawasan yang kini lebih banyak berada di bawah bayang-bayang Rusia dan Tiongkok.
Bagram, yang lokasinya tidak jauh dari Pakistan, Iran, Rusia, dan tentu saja Tiongkok, bisa menjadi pusat pengendalian bagi strategi Amerika di seluruh kawasan.
Banyak analis keamanan memperkirakan bahwa jika aliansi-aliansi regional anti-Amerika semakin menguat, Bagram akan berperan sebagai titik sentral Amerika dalam menghadapi aliansi tersebut.
Keempat, kapasitas operasional Bagram yang besar. Bagram bukan sekadar pangkalan biasa. Ia memiliki dua landasan pacu panjang yang sanggup menampung pesawat kargo raksasa seperti C-5 Galaxy hingga pesawat pembom berat.
Selama dua dekade perang Afghanistan, Bagram menjadi pusat utama operasi udara maupun darat. Jika kembali dikuasai, fasilitas ini bisa digunakan Amerika untuk operasi militer yang lebih cepat dan kompleks di Asia Selatan maupun Timur Tengah.
Dengan kondisi dunia yang semakin sarat ketegangan, Bagram bisa memberi keunggulan kepada Washington untuk melakukan pengerahan pasukan secara cepat, meluncurkan serangan drone, bahkan memantau potensi ancaman dari negara-negara tetangga Afghanistan. Trump melihat penguasaan kembali Bagram sebagai cara untuk menjaga kontrol militer Amerika atas kawasan yang bergolak.
Biaya dan Risiko bagi AS
Namun rencana Trump ini tentu bukan tanpa konsekuensi. Mengembalikan pangkalan Bagram ke dalam operasi penuh berarti Amerika harus kembali menanggung biaya yang sangat besar. Diperkirakan miliaran dolar harus digelontorkan untuk membangun kembali infrastruktur pangkalan, menyediakan persenjataan, dan memastikan kelengkapan fasilitas modern.
Lebih dari sekadar biaya finansial, pengalaman dua puluh tahun perang Afghanistan dan juga Irak menunjukkan bahwa keterlibatan militer Amerika sering kali hanya menghasilkan kerugian manusia yang besar.
Ribuan tentara AS gugur, ratusan ribu warga sipil Afghanistan menjadi korban, dan jutaan lainnya terpaksa mengungsi. Tidak ada keuntungan strategis signifikan yang benar-benar dicapai.
Trump, ketika pertama kali maju menjadi presiden, justru menjanjikan pengurangan intervensi asing. Ia mengusung slogan America First dan berulang kali menekankan bahwa Amerika harus fokus pada masalah domestik ketimbang perang luar negeri.
Itulah mengapa wacana untuk kembali ke Afghanistan berpotensi menimbulkan kekecewaan besar di kalangan rakyat Amerika sendiri.
Banyak warga AS sudah lelah dengan perang panjang dan mahal yang dianggap tidak membawa hasil nyata. Kembalinya Amerika ke Bagram akan dipandang sebagai langkah mundur, pengulangan kesalahan lama, dan pengkhianatan terhadap janji politik Trump.
Selain itu, citra internasional Amerika juga akan semakin terpuruk. Perang Afghanistan dan Irak telah mencoreng reputasi AS di mata dunia. Kehadiran militer mereka justru dipandang sebagai simbol kehancuran, penderitaan, dan ketidakstabilan. Jika Washington benar-benar kembali ke Bagram, dunia internasional akan melihatnya sebagai kelanjutan dari kebijakan gagal masa lalu.
Pada akhirnya, keputusan semacam ini berpotensi menyeret Amerika kembali ke perang yang panjang, mahal, dan tanpa ujung. Korban manusia akan terus bertambah, biaya ekonomi kian membengkak, sementara dukungan publik di dalam negeri semakin menurun. Posisi politik AS di dunia juga bisa semakin melemah, karena diplomasi mereka akan dianggap tidak konsisten dan penuh kontradiksi. (*)
Sumber: Mehr News
Penerjemah: Ali Hadi Assegaf
Editor: Ufqil Mubin












