BERITAALTERNATIF – Bahkan sebelum Iran benar-benar menjadi tajuk utama berita, skenario itu sudah bisa terlihat sedang disiapkan dan dimasukkan ke dalam teleprompter oleh para pencinta kekuasaan dan pengobar perang.
Pertama-tama muncul bingkai klasik media Barat dengan sudut pandang lembut: “para demonstran damai” berhadapan dengan “rezim”. Setelah itu, angka-angka mulai berputar liar dan kehilangan pijakan.
Kemudian para “pakar” berdatangan, biasanya wajah-wajah yang sama dari kalangan operator politik di pengasingan, lembaga pemikir di Washington, dan para pemantau yang menyebut diri mereka “pegiat hak asasi manusia”, sambil menyodorkan angka-angka yang tidak bisa diverifikasi secara independen, apalagi ketika internet sedang diblokir.
Saya sudah cukup umur untuk melihat pola narasi ini dimainkan berulang kali di Irak, Libya, Suriah, dan juga Venezuela.
Dan akhirnya, ketika suhu emosi publik sudah cukup tinggi, kesimpulan kebijakan pun ditawarkan. Rakyat Iran sedang menderita, kata media Barat, dan karena itu penggunaan kekuatan dianggap sah.
Di titik inilah kita masuk ke logika yang benar-benar tidak masuk akal. Rakyat Iran, yang sedang menghadapi cekikan ekonomi akibat sanksi, justru harus dibom oleh pihak yang sama yang menjatuhkan sanksi tersebut.
Inilah kesimpulan tak terucap namun selalu hadir di pusat liputan Barat yang mengaku netral. Karena jika Barat benar-benar peduli pada rakyat Iran, sanksi itu sudah lama dicabut. Ini bukan ilmu roket.
Namun penderitaan tidak diperlakukan oleh Barat sebagai alasan untuk mencabut sanksi atau menggunakan diplomasi. Penderitaan justru dibingkai sebagai bukti bahwa sebuah negara telah gagal dan membutuhkan intervensi eksternal. Rasa sakit ekonomi dijadikan bukti. Kerusuhan sipil dijadikan izin.
Ironisnya, Iran adalah rumah bagi sebuah peradaban kaya yang telah berusia ribuan tahun dan memberikan kontribusi yang tak terhitung bagi dunia, jauh sebelum negara-negara Barat lahir.
Gagasan bahwa kekuatan-kekuatan Barat yang selama ini terus merongrong kedaulatan Iran tiba-tiba peduli pada hak asasi manusia rakyat Iran adalah sesuatu yang sepenuhnya absurd.
Dan ini bukan analisis. Bahkan bukan analisis yang buruk. Ini adalah rekayasa narasi.
Mungkin contoh paling kuat datang dari BBC. Dalam program andalannya, Newsnight, BBC menayangkan rekaman massa yang berunjuk rasa mendukung Republik Islam dan pemerintah, namun justru menyiratkan bahwa mereka adalah kelompok oposisi.
Memang benar, pada awalnya ada protes di Iran. Itu tidak diperdebatkan. Sebagian berakar pada persoalan ekonomi yang nyata. Namun bahkan laporan bisnis Barat sendiri mengakui bahwa sanksi adalah faktor utama yang memperparah tekanan tersebut, terutama sejak Amerika Serikat kembali memberlakukan sanksi besar-besaran setelah secara sepihak keluar dari kesepakatan nuklir pada 2018.
Inflasi, runtuhnya nilai mata uang, dan kelangkaan barang tidak terjadi di ruang hampa. Semua itu adalah hasil dari perang ekonomi yang berkelanjutan. Kita sudah melihat taktik ini diulang berkali-kali di masa lalu.
Namun inilah hal-hal yang terkubur di bawah tajuk “protes damai”. Ketika kerusuhan berubah menjadi pembakaran, bentrokan bersenjata, serangan terhadap kantor polisi, perusakan infrastruktur, atau pembunuhan warga sipil, detail-detail itu menjadi suara latar, jika pun disebutkan. Dan itu karena sebagian besar kerusuhan tersebut dipicu oleh aktor-aktor luar, termasuk Israel. Media Israel sendiri bahkan mengakuinya.
Aktivis Amerika Shaun King, penulis di North Star, adalah salah satu jurnalis yang mendokumentasikan bagaimana media Israel secara terbuka membicarakan peran Israel dalam upaya mendestabilisasi Iran.
Karena itu, tidak perlu menjadi seorang jenius untuk memahami bahwa masjid-masjid yang dibakar di berbagai kota Iran bukanlah ulah rakyat Iran sendiri.
Sebagaimana ditulis Ali Abunimah di X, merujuk pada misteri bagaimana sebagian “aktivis” menerima bantuan dari luar, ia mengatakan bahwa “kebenaran bersembunyi di depan mata”.
Semua yang kita saksikan selama beberapa pekan terakhir adalah upaya yang disengaja untuk mengubah protes ekonomi menjadi operasi yang disebut “pergantian rezim”. Dan upaya itu gagal, seperti berkali-kali sebelumnya, termasuk pada Juni tahun lalu.
Perang informasi hidup dari angka. Angka besar. Angka mengejutkan. Angka yang bergerak lebih cepat daripada konteks.
Klaim yang tidak bisa diverifikasi, puluhan ribu orang tewas, eksekusi massal yang dikabarkan akan segera terjadi, semuanya beredar bebas pada saat verifikasi paling sulit dilakukan.
Pemadaman internet, blokade komunikasi, dan kabut informasi tidak diperlakukan sebagai alasan untuk berhati-hati. Sebaliknya, semua itu diperlakukan sebagai peluang. Ketiadaan kepastian menjadi kanvas kosong.
Angka besar tidak selalu berarti kebenaran. Terkadang, itu hanyalah alat tekanan.
Dan begitu angka-angka itu tertanam dalam imajinasi publik, tahap berikutnya pun berjalan dengan sendirinya. Namun kali ini, upaya itu gagal.
Saya berpendapat bahwa mayoritas publik tidak tertipu olehnya.
Di tengah kerusuhan yang penuh kekerasan, unjuk rasa besar-besaran yang mendukung pemerintah digelar di Teheran dan kota-kota lain. Jutaan orang turun ke jalan untuk mendukung negara dan menentang apa yang mereka sebut sebagai campur tangan Amerika dan Israel dalam urusan dalam negeri Iran.
Namun konteks penting ini selalu dihilangkan oleh media seperti BBC.
Aksi-aksi tersebut adalah peristiwa nyata dan terdokumentasi. Namun gambar dan video dari unjuk rasa itu beredar luas secara daring dan dalam ruang komentar, lalu disajikan sebagai bukti “pemberontakan anti-rezim”.
Gambar-gambar itu dijadikan bukti bagi narasi yang sebenarnya bukan miliknya. Trik semacam ini jauh lebih penting daripada yang tampak di permukaan.
Audiens Barat dibiasakan untuk mengaitkan campur tangan asing dengan pemilu di Eropa atau Amerika Utara. Di tempat lain, hal itu dianggap sebagai paranoia. Padahal infrastruktur pengaruh eksternal didokumentasikan secara terbuka: aliran pendanaan, program pelatihan, jaringan amplifikasi media, dan lobi politik semuanya beroperasi lintas negara.
Selama kerusuhan, akun-akun yang terkait dengan Israel dan Mossad menerbitkan pesan berbahasa Persia yang secara langsung menyapa para perusuh Iran, mengklaim solidaritas dan memberi sinyal keterlibatan.
Seorang menteri Israel kemudian secara terbuka menyatakan bahwa agen-agen mereka beroperasi di dalam Iran. Mantan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Mike Pompeo juga mengonfirmasinya. Ini bukan tuduhan Iran atau klaim media pemerintah. Ini adalah pengakuan.
Namun dimensi ini jarang muncul dalam laporan utama media Barat. Ketika pun muncul, ia diperkecil atau dibingkai sebagai sesumbar ala Hollywood. Gagasan bahwa badan intelijen asing mengeksploitasi kerusuhan dianggap tidak masuk akal, bahkan ketika pejabat asing mengatakannya secara terbuka.
Publik terus diajarkan bahwa sebagian bangsa hanya bisa “dibantu” melalui kekerasan. Bahwa penderitaan mereka adalah bukti kegagalan moral, bukan akibat kebijakan. Bahwa bom bisa datang dengan topeng kepedulian.
Pertanyaannya bukan apakah protes terjadi. Protes memang terjadi.
Pertanyaannya adalah apakah kita akan terus menerima kebohongan demi kebohongan dari sebuah sistem yang sama sekali tidak peduli pada hak asasi manusia di Global South, dan hanya digerakkan oleh hasrat terhadap minyak, sumber daya alam, dan kendali geopolitik.
Richard Sudan adalah jurnalis dan penulis yang berbasis di London. (*)
Sumber: Presstv.ir
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf












