BERITAALTERNATIF.COM – Program pembangunan dapur umum di Kutai Timur ternyata didominasi oleh pengusaha lokal. Demikian kata Plt Asisten I Pemerintahan Umum dan Kesra Setkab Kutim, Trisno.
Hal ini menjadi kabar gembira bagi perekonomian lokal karena melibatkan masyarakat setempat secara langsung.
Dia menjelaskan, dari sembilan calon investor yang mempresentasikan rencana mereka, mayoritas berasal dari Kutim.
Hanya satu investor yang datang dari Samarinda. Sisanya tersebar di berbagai kecamatan seperti Sangatta, Bengalon, Kaliorang, Kaubun, hingga Muara Ancalong.
“Kita sengaja memprioritaskan investor lokal karena mereka lebih paham kondisi daerah, mudah mengakses lokasi, dan mampu menyesuaikan dengan potensi lokal,” ujarnya kepada awak media baru-baru ini.
Ia menambahkan, kehadiran investor lokal juga meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam pembangunan dapur, karena mereka bisa membantu distribusi, pengawasan, dan pemeliharaan dapur.
Para investor lokal ini berbeda-beda dalam jumlah titik yang diusulkan. Ada yang mengusulkan puluhan titik, ada juga yang hanya mampu menangani dua hingga tiga titik. Semua disesuaikan dengan kapasitas dan kesanggupan mereka.
Trisno menekankan, tidak ada pembagian titik secara merata. Sistemnya fleksibel, mengikuti kemampuan masing-masing investor.
“Yang penting dapur bisa berjalan lancar, tidak ada titik yang terbengkalai,” katanya.
Menurutnya, investor lokal memahami tantangan wilayah yang jauh dan terpencil, termasuk keterbatasan air bersih, bahan baku, dan akses jalan. Hal ini membuat mereka lebih siap menghadapi rintangan dibanding investor luar daerah.
Para investor telah menyiapkan mitigasi. Misalnya, mereka sudah mempersiapkan alternatif sumber air, sistem penyimpanan bahan baku, dan strategi distribusi yang efisien.
Selain itu, keterlibatan investor lokal membantu memperkuat ekonomi daerah, karena sebagian besar pembelian bahan baku dilakukan dari pedagang dan petani setempat.
Trisno menegaskan, program dapur umum tidak hanya soal distribusi makanan, tapi juga memberdayakan pengusaha lokal dan masyarakat sekitar. Hal ini sejalan dengan visi pemerintah daerah meningkatkan kesejahteraan masyarakat Kutim.
Dia juga menekankan, investor lokal lebih mudah diawasi dan dievaluasi oleh Satgas, sehingga potensi kesalahan atau kelalaian bisa diminimalkan.
“Kita ingin memastikan semua proses berjalan transparan, efektif, dan efisien. Dengan investor lokal, kontrol menjadi lebih mudah,” katanya.
Para investor lokal menunjukkan keseriusan dan kapabilitas tinggi, mulai dari perencanaan, pembangunan, hingga distribusi makanan. Semua pihak merasa optimistis.
Ia menambahkan, keberhasilan investor lokal dalam program dapur umum akan menjadi contoh bagi pengusaha lain di Kutim untuk terlibat di proyek sosial dan pembangunan daerah.
Program ini tidak hanya memberi manfaat jangka pendek, tapi juga membangun jejaring ekonomi dan sosial yang kuat antara pemerintah, investor, dan masyarakat lokal. (adv)
Penulis: Gaffar
Editor: Ufqil Mubin














