BERITAALTERNATIF.COM – Militer Iran memperingatkan akan adanya langkah balasan di laut di Selat Hormuz setelah Amerika Serikat mengumumkan blokade angkatan laut terhadap negara tersebut.
Keamanan di Teluk Persia dan Laut Oman akan diberlakukan secara timbal balik, menyusul pengumuman AS tentang blokade laut yang menargetkan Iran, kata juru bicara Markas Pusat Khatam al-Anbiya, Letnan Kolonel Ebrahim Zolfaghari.
Zolfaghari mengatakan Iran menganggap pertahanan perairan teritorialnya sebagai “tugas yang alami dan sah,” seraya menegaskan bahwa kehadiran kapal yang berpihak pada kekuatan asing di jalur maritim utama tidak akan diizinkan.
“Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran secara tegas dan jelas menyatakan bahwa keamanan pelabuhan di Teluk Persia dan Laut Oman adalah untuk semua atau tidak untuk siapa pun,” ujar juru bicara tersebut, memperingatkan bahwa setiap ancaman terhadap keamanan maritim Iran akan berdampak luas bagi kawasan.
Pernyataan itu menegaskan kembali posisi Teheran bahwa mereka akan terus mengatur lalu lintas di Selat Hormuz di bawah “rezim permanen” yang dijalankan oleh angkatan bersenjatanya.
Disebutkan pula bahwa kapal yang berafiliasi dengan pihak lawan “tidak memiliki dan tidak akan memiliki hak untuk melintas” di jalur air strategis tersebut, sementara kapal lain akan diizinkan lewat sesuai aturan Iran.
Iran menekankan bahwa pembatasan navigasi laut oleh AS adalah “ilegal” dan merupakan tindakan “pembajakan maritim”.
“Jika keamanan pelabuhan Republik Islam Iran di perairan Teluk Persia dan Laut Oman terancam, maka tidak ada pelabuhan di Teluk Persia dan Laut Oman yang akan aman,” tegasnya.
Langkah AS ini muncul setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan tindakan untuk mencegat kapal yang masuk atau keluar dari pelabuhan Iran, menyusul 21 jam perundingan yang tidak membuahkan hasil antara pejabat AS dan Iran di Pakistan.
Blokade tersebut, yang dijadwalkan mulai berlaku Senin (13/4/2026), diperkirakan melibatkan pasukan angkatan laut AS untuk mencegat dan berpotensi menyita kapal yang terkait dengan aktivitas maritim Iran atau kapal yang melintasi selat sesuai aturan Iran.
Menurut Komando Pusat AS, langkah ini akan diberlakukan terhadap kapal dari semua negara, sambil tetap mempertahankan kebebasan navigasi bagi kapal yang menuju pelabuhan non-Iran melalui Selat Hormuz.
Pengumuman ini menyusul gagalnya perundingan, meskipun Washington menyatakan bahwa proposalnya merupakan “penawaran final dan terbaik,” menurut Wakil Presiden AS JD Vance.
Trump menyatakan keyakinannya bahwa kesepakatan masih bisa dicapai, sambil kembali menegaskan tuntutan utama Washington agar Teheran sepenuhnya menghentikan program nuklirnya.
Dia secara konsisten menggambarkan aktivitas pengayaan uranium Iran—yang diizinkan dalam kewajibannya sebagai penandatangan Perjanjian Non-Proliferasi Nuklir (NPT)—sebagai indikasi upaya memperoleh senjata nuklir, meskipun Iran berulang kali membantah hal tersebut, dan AS tetap menuntut kebijakan nol pengayaan sebagai jaminan.
Eskalasi ini telah mengguncang pasar energi global, dengan harga minyak mentah melonjak akibat kekhawatiran gangguan pasokan dari kawasan Teluk.
Bursa saham Asia juga melemah di berbagai indeks utama karena kekhawatiran bahwa ketidakstabilan berkepanjangan dapat memengaruhi impor energi dan arus perdagangan.
Para analis memperingatkan bahwa gangguan berkepanjangan di Selat Hormuz—jalur yang dilalui sebagian besar pengiriman minyak dunia—dapat memperparah volatilitas di pasar energi yang sudah tertekan, terutama bagi ekonomi Asia yang sangat bergantung pada pasokan dari Teluk. (*)
Sumber: Al Mayadeen












