Search

Manuver Militer Besar-Besaran di Pangkalan Amerika di Timur Laut Suriah

Sumber lapangan di timur laut Suriah menunjukkan bahwa pergerakan Amerika Serikat baru-baru ini kemungkinan terkait dengan perkembangan militer yang dikhawatirkan Washington akan terjadi di kawasan. Lalu apa yang sebenarnya ditakutkan AS? (Mehr News)

BERITAALTERNATIF – Di tengah pernyataan resmi mengenai rencana pengurangan keberadaan militer AS di timur laut Suriah dan di sisi lain adanya gelombang besar pengiriman pasukan serta perlengkapan ke pangkalan-pangkalan sejak beberapa pekan lalu, terlihat adanya kontradiksi besar dalam sikap Amerika terhadap isu Suriah pasca jatuhnya pemerintahan Presiden Bashar al-Assad, terutama terkait keberadaan pangkalan militer di wilayah timur Efrat.

Pada awal tahun ini, Departemen Pertahanan AS mengumumkan niatnya untuk mengurangi separuh jumlah pasukan di Suriah pada akhir 2025 dan menutup sejumlah pangkalan penting di timur Efrat dengan alasan “berkurangnya ancaman ISIS di dalam Suriah”.

Pengumuman itu kemudian diikuti gerakan intensif militer AS untuk membongkar pangkalan, memindahkan peralatan militer dan logistik dari timur laut Suriah menuju Irak melalui jalur darat. Pada paruh pertama tahun ini, aktivitas konvoi militer melalui perbatasan meningkat dalam rangka pelaksanaan rencana penarikan militer tersebut.

Namun, aktivitas militer di pangkalan timur Efrat berhenti secara tiba-tiba sejak empat bulan lalu. Sumber lapangan Kurdi mengatakan kepada Al-Mayadeen Net bahwa militer AS memutuskan menunda penarikan pasukannya akibat perkembangan lapangan dan politik yang terjadi di Suriah, serta situasi keamanan rapuh di kawasan timur laut negara itu—ditambah munculnya kembali aktivitas ISIS dan serangan-serangan kelompok tersebut di beberapa titik di wilayah timur Suriah.

Sumber Kurdi tersebut menegaskan bahwa salah satu alasan utama AS mundur dari rencana penarikan adalah ketidakmampuan pemerintahan transisi Suriah untuk mengendalikan seluruh wilayah negara, meningkatnya ketegangan internal seperti yang terjadi di wilayah pesisir pada Maret lalu dan di Suweida pada Juli, serta bentrokan yang terus terjadi antara pasukan pemerintah dan “Pasukan Demokratik Suriah” (SDF) di garis kontak timur Efrat. Semua hal ini, menurut sumber tersebut, dianggap AS sebagai peluang yang bisa dimanfaatkan ISIS untuk menghidupkan kembali jaringan mereka di Suriah.

Sumber itu juga menyebutkan bahwa alasan tidak langsung AS menunda penarikan pasukannya adalah keinginan pemerintahan Presiden Donald Trump untuk menyelesaikan kesepakatan 10 Maret, yaitu integrasi SDF ke dalam pemerintahan baru dan penyatuan upaya keduanya dalam memerangi ISIS.

Kembalinya Aktivitas Militer di Pangkalan AS

Sejak pertengahan September lalu, aktivitas di pangkalan Amerika di timur Efrat kembali meningkat. Namun kali ini berupa pengiriman berbagai jenis penguatan militer, termasuk senjata berat, sistem pertahanan udara, perangkat elektronik canggih, dan pasukan tambahan yang ditempatkan di pangkalan Deir ez-Zor, Hasakah, dan Raqqa.

Beberapa pekan terakhir juga terjadi latihan militer intensif menggunakan amunisi tajam, pesawat tempur, dan helikopter untuk meningkatkan kesiapan tempur pasukan AS.

Informasi menunjukkan bahwa AS baru-baru ini membawa sekitar 100 truk berisi perlengkapan logistik dan militer melalui perbatasan Al-Walid dari Kurdistan Irak menuju pangkalan-pangkalan di timur laut Suriah. Selain itu, lebih dari 10 pesawat kargo yang membawa peralatan militer mendarat di kawasan tersebut dan distribusinya dilakukan ke pangkalan-pangkalan di Provinsi Hasakah.

Menurut laporan lapangan, tiga pangkalan utama AS di Hasakah mengalami status siaga keamanan yang belum pernah terjadi sejak jatuhnya pemerintahan Assad. Pangkalan-pangkalan itu adalah:
— Tal Baydar, di jalur internasional wilayah utara Hasakah
— Kharab al-Jir, di pedesaan utara Hasakah
— Kompleks perumahan ladang minyak Al-Jabsa di kota Al-Shaddadi, bagian selatan Hasakah

Pangkalan-pangkalan ini merupakan pusat penghubung utama militer AS di timur Suriah dan menjadi jalur suplai utama bagi pangkalan AS lain di timur Efrat, karena seluruh suplai udara tiba di pangkalan tersebut sebelum diteruskan melalui jalur darat ke Deir ez-Zor dan Raqqa.

Latihan Militer Berskala Besar

Sejak awal Oktober, pangkalan Al-Shaddadi di wilayah Hasakah menggelar latihan intensif yang berfokus pada operasi pendaratan udara, latihan penerbangan menggunakan pesawat tempur dan drone, serta simulasi menghadapi serangan udara dengan berbagai jenis senjata.

Latihan-latihan itu diiringi pengaktifan sistem radar di dalam pangkalan, peningkatan penjagaan keamanan, serta intensifikasi patroli militer di sepanjang jalur menuju pangkalan. SDF juga melakukan patroli penyisiran di desa-desa sekitar selama latihan berlangsung.

Delegasi Militer AS Memeriksa Pangkalan Hasakah

Dalam rangka pergerakan militer tersebut, sumber lapangan mengatakan kepada Al-Mayadeen Net bahwa delegasi keamanan AS mengunjungi pangkalan Tal Baydar, memeriksa kesiapan sistem pertahanan, posisi penjagaan, radar, sistem komunikasi, dan kamera pemantau.

Delegasi itu juga mengunjungi pangkalan Kharab al-Jir di kota Al-Yarubiyah dekat perbatasan Suriah–Irak dan memeriksa kesiapan militernya. Kunjungan ini bertepatan dengan kedatangan pesawat kargo AS yang membawa sistem pertahanan udara canggih. Delegasi tersebut meminta pemasangan radar baru, aktivasi perangkat komunikasi modern, dan pemasangan kamera pemantau sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan perkembangan militer di masa depan.

Sumber lapangan menilai bahwa pergerakan terbaru AS kemungkinan berkaitan dengan kekhawatiran terjadinya perkembangan militer besar, seperti pecahnya konflik antara SDF dan pasukan pemerintah, atau kemungkinan operasi militer Turki terhadap kelompok Kurdi di wilayah dalam Suriah.

Sumber tersebut juga menyoroti adanya kekhawatiran AS mengenai potensi serangan ISIS terhadap pangkalan Amerika di Suriah pada waktu mendatang. (*)

Sumber: Mehr News
Editor: Ali Hadi Assegaf

 

 

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA