Search

Larangan Produk Zaitun di Palestina, Strategi 77 Tahun Rezim Zionis

Para penjajah percaya bahwa mengusir warga Palestina dari tanah mereka dimulai dengan mencabut akar pohon zaitun. Selama 77 tahun pendudukan, pelarangan hasil zaitun telah menjadi strategi sistematis rezim Zionis. (Mehr News)

BERITAALTERNATIF.COM – Menyerang pohon zaitun di Palestina selama 77 tahun pendudukan telah menjadi kebijakan tetap yang dijalankan dengan penuh kesengajaan oleh pasukan Israel. Serangan terhadap hasil panen pohon zaitun—yang selama bertahun-tahun menjadi sumber penghidupan utama bagi keluarga Palestina—masih terus berlangsung hingga hari ini.

Dampaknya sangat besar terhadap pertanian, ekonomi, dan identitas bangsa Palestina. Serangan yang dilakukan pasukan pendudukan terutama meningkat setiap kali musim panen tiba, karena pohon zaitun merupakan simbol utama rakyat Palestina.

Zaitun adalah komoditas pertanian terbesar bagi warga Palestina, mencakup sekitar 45 persen dari seluruh lahan pertanian di wilayah tersebut. Namun warga Palestina dilarang memanen hasil dari tanah mereka sendiri pada musim panen. Di Area C Tepi Barat, yang mencakup sekitar 60 persen dari lahan pertanian Palestina, pembatasan dan larangan dari otoritas pendudukan diterapkan secara ketat.

Keteguhan seorang warga Palestina di tanah airnya sejalan dengan keteguhan pohon zaitun yang tumbuh di sana. Para penjajah dan pemukim percaya bahwa untuk mengusir rakyat dari tanah mereka, langkah pertama adalah dengan mencabut pohon zaitun hingga ke akar.

Karena itu, seperti tahun-tahun sebelumnya, tahun ini pun pasukan pendudukan Israel menyerang kegiatan panen di beberapa desa: Al-Nazla al-Syarqiyah di utara Tulkarem, Turmus Ayya di utara Ramallah, dan Mukhmas di utara Yerusalem yang diduduki.

Dalam serangan tersebut, sejumlah warga mengalami sesak napas akibat gas air mata yang ditembakkan oleh pasukan Israel. Saksi mata mengatakan bahwa pasukan pendudukan menembakkan gas air mata dan peluru kejut untuk menghalangi para petani Palestina melanjutkan panen di tanah mereka.

Selain itu, seorang remaja Palestina bernama Ism Jihad Naser dari Kota Beita mengalami luka parah akibat serangan tentara Israel ketika sedang memetik zaitun, dan kini berada dalam kondisi koma.

Rezim pendudukan Israel menjalankan kebijakan larangan hasil zaitun melalui tiga cara utama. Cara pertama adalah melalui pendudukan dan aturan yang membatasi masuknya pupuk ke pasar, menutup jalan serta pos lintas batas, dan mendirikan lebih dari 900 pos pemeriksaan di seluruh Tepi Barat.

Ekspor hasil panen ke luar negeri juga dilarang. Bahkan jarak antara Ramallah dan Nablus yang hanya 50 kilometer bisa memakan waktu enam jam untuk ditempuh, dan banyak petani dilarang mendatangi ladang mereka sendiri.

Cara kedua adalah dengan serangan langsung. Tentara dan para pemukim kerap menyerang petani di ladang, mencuri hasil panen, hewan ternak, dan peralatan mereka. Pasukan Israel juga merusak pohon zaitun menggunakan buldoser, meracuni tanah, atau membanjiri pohon dengan air limbah untuk mematikan tanaman.

Cara ketiga adalah melalui pembangunan tembok pemisah atau “tembok apartheid” yang dibangun setelah Intifada Kedua. Panjang tembok ini mencapai sekitar 670 kilometer. Untuk bisa menyeberanginya, warga memerlukan izin khusus yang hanya berlaku selama dua hari dan biasanya diberikan hanya untuk mencangkul atau memanen.

Sejak agresi Israel ke Gaza pada Oktober 2023, tidak ada petani yang diizinkan masuk ke tanahnya sendiri, dan buah zaitun dibiarkan membusuk di pohon. Pada tahun 2024, sebagian petani baru mendapatkan izin setelah musim panen usai; banyak pohon sudah rusak dimakan rumput liar dan lahan mereka terbengkalai selama dua tahun berturut-turut.

Warga Palestina berdiri tegak seperti pohon zaitun mereka yang berumur ratusan tahun. Para petani, pekerja, dan pengusaha minyak zaitun menantikan musim panen setiap tahun, meski selalu diiringi ancaman dari pasukan pendudukan.

Selama puluhan tahun pendudukan dan pelarangan hasil zaitun, banyak keluarga yang kehilangan sumber penghasilan utama dan tak lagi bisa menggunakan hasil panen untuk kebutuhan sosial seperti biaya pernikahan atau pembangunan rumah. Serangan berulang terhadap pohon zaitun menjadi salah satu kejahatan paling keji dari pendudukan Israel—sebuah tragedi yang sejarah tak akan pernah lupakan.

Jika menilik sejarah, jelas bahwa Palestina adalah tanah asal pohon zaitun. Pohon ini bukan sekadar tanaman, tetapi simbol kehidupan, ketahanan, dan identitas nasional rakyat Palestina.

Banyak di antaranya berusia ratusan bahkan ribuan tahun, menjadi saksi dari peradaban dan perjuangan panjang bangsa ini. Setiap pohon zaitun merepresentasikan sejarah, keteguhan, dan hak yang sah atas tanah ini—sebab itulah penjajah menjadikannya sasaran utama penghancuran. (*)

Sumber: Mehr News
Penerjemah: Ali Hadi Assegaf
Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA