BERITAALTERNATIF.COM – Seorang mahasiswa Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) membeberkan kronologi terjadinya kericuhan hingga perusakan ruang kelas yang digunakan sebagai lokasi Musyawarah Besar (Mubes) Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unikarta, yang terjadi pada Minggu (14/12/2025).
Menurut kesaksian mahasiswa tersebut, kericuhan berawal dari keputusan pending sidang yang dilakukan pada Minggu siang sekitar pukul 13.00 Wita dalam forum Mubes BEM Unikarta.
Dia menjelaskan, sehari sebelumnya yakni Sabtu, 13 Desember 2025, peserta forum dan panitia telah menjalani rangkaian kegiatan hingga dini hari, sehingga banyak yang kelelahan. Akibatnya, saat forum dijadwalkan kembali dibuka pada pukul 13.00 Wita, sebagian peserta dan panitia belum berada di lokasi.
“Pending itu disepakati jam 1 siang. Tapi karena hari sebelumnya sudah sampai subuh, banyak peserta dan panitia belum hadir,” ujarnya kepada awak media Berita Alternatif pada Senin (15/12/2025).
Dalam forum tersebut, presidium sidang terdiri dari tiga orang. Permasalahan kemudian muncul ketika Presidium I mengambil keputusan secara sepihak untuk kembali memending forum hingga pukul 22.00 Wita. Keputusan ini, menurut narasumber, tidak melalui musyawarah peserta forum, padahal pada saat itu kuorum sidang telah terpenuhi.
“Teman-teman forum merasa kuorum sudah terpenuhi dan sidang bisa dilanjutkan sesuai tata tertib,” jelasnya.
Forum pun tetap berjalan selama sekitar 20 hingga 30 menit. Namun situasi kemudian memanas ketika sekelompok massa yang disebut berasal dari Fakultas Teknik datang bergerombol dari arah gerbang depan kampus Unikarta.
“Mereka datang beramai-ramai dari depan gerbang kampus, merobohkan baliho sampai hancur,” ungkapnya.
Massa tersebut kemudian berlari menuju gedung tempat sidang berlangsung dan melakukan pelemparan batu berukuran cukup besar ke arah kaca ruangan. Batu-batu tersebut dilempar dari pinggir jalan depan gedung hingga masuk ke dalam ruangan sidang.
“Untungnya tidak ada korban jiwa dan tidak ada peserta yang terkena lemparan, tapi semua peserta panik dan ketakutan,” tuturnya.
Setelah melakukan pelemparan, massa disebut sempat masuk hingga mendekati pintu ruang sidang. Aksi tersebut diduga dipicu oleh ketidakpuasan karena merasa aspirasi dari Fakultas Teknik tidak dihargai dan suara mereka tidak dianggap dalam forum.
Padahal, menurut mahasiswa tersebut, jalannya sidang telah mengikuti prosedur dan tata tertib yang berlaku. Ia menilai, justru kesalahan utama terletak pada keputusan sepihak Presidium Sidang.
“Presidium sidang tidak berhak memutuskan pending secara sepihak. Seharusnya dikonfirmasi dulu ke delegasi-delegasi, bukan langsung memutuskan sendiri,” tegasnya.
Dia juga menyoroti bahwa setelah memutuskan pending hingga pukul 22.00 Wita, Presidium Sidang tidak lagi berada di lokasi, sehingga memperkeruh situasi dan memicu ketegangan di antara peserta.
Mahasiswa tersebut menjelaskan bahwa kericuhan tidak hanya terjadi di luar ruangan, tetapi juga berlanjut hingga ke dalam ruang sidang Mubes. Aksi kekerasan meliputi pemukulan, pelemparan meja dan kursi, hingga adu mulut antarmahasiswa.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa pelaku anarkis dan provokasi tidak hanya berasal dari satu fakultas. Selain mahasiswa Teknik, sejumlah mahasiswa dari fakultas lain juga disebut terlibat, termasuk Fakultas Pendidikan Agama Islam.
“Yang jadi pelaku anarkis dan provokator bukan hanya dari Teknik. Ada juga dari fakultas lain, termasuk FAI, yang ikut meributkan forum,” jelasnya.
Kericuhan di dalam ruangan berlangsung cukup serius. Mahasiswa menyebut sejumlah fasilitas kelas mengalami kerusakan akibat aksi massa yang tidak terkendali.
“Di dalam ruangan itu meja dilempar, kursi diambil, dan terjadi baku pukul. Semua berjalan begitu saja, situasinya sangat kacau,” katanya.
Beruntung, di tengah situasi tersebut, peserta forum telah lebih dulu merekam kejadian menggunakan video. Rekaman tersebut memperlihatkan rangkaian peristiwa sejak massa datang dari luar kampus, merusak baliho, hingga masuk ke dalam ruangan Mubes.
“Alhamdulillah teman-teman sempat merekam video, mulai dari mereka datang menghancurkan baliho sampai ke dalam ruangan. Semua terekam jelas,” tambahnya.
Kericuhan Terjadi Dua Kali
Menurutnya, insiden tersebut bukanlah kejadian tunggal. Kericuhan serupa telah terjadi sebelumnya di ruang Fisipol, sehingga peristiwa pada Minggu itu disebut sebagai kericuhan kedua.
“Chaos ini sebenarnya sudah yang kedua. Kemarin juga terjadi di ruang Fisipol. Yang memulai kurang lebih sama, dari FAI dan Teknik,” ungkapnya.
Ia juga menyebut bahwa Ketua BEM Fatek diduga memiliki peran penting dalam memicu keributan. Hal itu dipicu oleh ketidakpuasan atas keputusan forum yang tetap berjalan meski sebelumnya diputuskan pending.
“Ketua BEM Teknik tidak terima karena forum tetap lanjut, padahal dia sudah memending. Karena dia merasa sudah tidak punya power dan kehilangan kekuatan untuk menegaskan forum ditunda, akhirnya dia memilih jalan meributkan dan men-chaos-kan forum,” ujarnya.
Dugaan Skema Penggagalan Forum
Mahasiswa tersebut juga mengungkap adanya dugaan skema yang disusun oleh pihak-pihak tertentu yang merasa kalah dalam kontestasi Mubes. Tujuannya, menurut dia, bukan lagi memenangkan kandidat, melainkan menggagalkan forum secara keseluruhan.
“Chaos dua kali itu bukan inisiatif dari lima BEM yang sekarang jadi koalisi. Tapi memang sudah ada skema dari rekan-rekan yang kalah. Kalau kandidat mereka tidak naik, setidaknya forum diributkan, diperlambat, bahkan diusahakan supaya tidak ada Presma sama sekali tahun ini,” tegasnya.
Ia menilai tindakan tersebut dilakukan secara sengaja dan terorganisir, sehingga kericuhan terjadi dalam skala besar.
Forum Disepakati Lanjut, Pelaku Akan Disanksi
Meski demikian, mahasiswa itu menegaskan bahwa mayoritas peserta forum tetap berkomitmen menyelesaikan Mubes secara konstitusional dan damai. Forum lanjutan telah disepakati bersama BEM serta seluruh pimpinan lembaga dan peserta forum.
“Forum disepakati lanjut besok siang jam 1. Semua pimpinan lembaga, peserta forum, dan korban di dalam forum sudah menyetujui,” jelasnya.
Terkait pelaku kericuhan, dia menyebut bahwa langkah penindakan telah dilakukan dan sanksi tegas akan dijatuhkan, baik terhadap pelaku lapangan maupun provokator.
“Pelaku sudah ditindak dan akan diberikan sanksi tegas, mulai dari tingkat fakultas sampai ke ranah universitas,” tuturnya.
Sidang Lanjutan
Mahasiswa tersebut menjelaskan bahwa sebelum kericuhan terjadi, forum Mubes sebenarnya telah berjalan cukup jauh dan produktif. Sidang telah memasuki tahapan teknis pemilihan kandidat, kriteria pencalonan, hingga mekanisme pemilihan Presiden Mahasiswa. “Forum sudah sangat maju,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, dalam beberapa forum sebelumnya, pembahasan tata tertib pemilihan bahkan hampir sepenuhnya rampung. Tata tertib telah dibahas hingga menyisakan satu poin terakhir yang siap diketuk palu, sebelum dilanjutkan ke pembahasan kriteria pencalonan.
“Artinya, setelah satu poin terakhir tatib diketuk, forum langsung masuk ke pembahasan kriteria pencalonan. Ada sekitar 15 poin kriteria yang rencananya dibahas keesokan harinya,” jelasnya.
Tuntutan Tegas terhadap Provokator
Atas insiden tersebut, mahasiswa bersama peserta forum lainnya menyampaikan tuntutan tegas agar para provokator dan pelaku kericuhan ditindak. Tuntutan itu disampaikan secara terbuka saat aksi dan orasi di lingkungan kampus, yang juga disaksikan oleh Wakil Rektor III, Kabag Kemahasiswaan Budi Yusuf, Ketua BEM, serta ketua-ketua BEM di Unikarta.
“Kami menuntut agar para provokator dan pelaku keributan ditindak tegas. Karena keributan ini sudah berulang dan mengancam nyawa serta keberlangsungan forum,” tegasnya.
Tuntutan tersebut, lanjutnya, langsung direspons oleh Wakil Dekan III Fakultas Teknik, Ansahar. Ia menyebut bahwa pihak fakultas dan universitas telah lebih dulu mengantongi kronologi lengkap serta identitas para pelaku.
Sanksi Akademik hingga Pembekuan Organisasi
Sebagai bentuk tindak lanjut, Fakultas Teknik disebut telah mengambil keputusan tegas terhadap para provokator. Tiga mahasiswa yang terlibat langsung dalam kericuhan di dalam ruangan akan dikenakan sanksi akademik berupa nilai E.
“Keputusan dari Wakil Dekan III Teknik, tiga orang provokator akan diberikan nilai E karena keterlibatan mereka dalam keributan di dalam forum,” ungkapnya.
Selain itu, pihak universitas juga akan menjatuhkan sanksi lanjutan, termasuk kewajiban membuat pernyataan sikap, klarifikasi, serta permintaan maaf secara terbuka. Proses ini akan didokumentasikan dan dipublikasikan melalui kanal resmi kampus, termasuk Info Unikarta dan BEM Unikarta.
“Universitas akan menindak tegas dengan mengumpulkan statement dan klarifikasi dari para pelaku bahwa tindakan mereka salah dan mereka bertanggung jawab,” katanya.
Dia menyebut terdapat kemungkinan pembekuan BEM Fakultas Teknik, reshuffle kepengurusan, serta audiensi khusus antara mahasiswa Teknik dengan pihak universitas atas tindakan anarkis yang terjadi.
Forum Dilanjutkan, Kampus Pasang Badan
Meski sempat terganggu, mahasiswa menegaskan bahwa komitmen untuk melanjutkan Mubes tetap kuat. Forum dijadwalkan kembali berlangsung keesokan harinya, dengan pengawalan penuh dari pihak universitas.
“Forum akan dilanjutkan besok. Universitas berkomitmen penuh, bersama demisioner Presma, steering committee, serta tujuh pimpinan lembaga fakultas untuk menjaga kondusivitas,” ujarnya.
Ia juga menyebut bahwa pihak universitas menyatakan siap “pasang badan” apabila kembali terjadi keributan di dalam area kampus. Penanganan keamanan akan dilakukan langsung oleh pihak kampus tanpa kompromi.
“Kalau terjadi keributan lagi, universitas akan langsung bertindak. Sudah ada komitmen bersama dan surat pernyataan sikap dari universitas,” tegasnya.
Di akhir pernyataannya, mahasiswa tersebut berharap agar Mubes BEM Unikarta dapat diselesaikan hingga tuntas, tanpa diwarnai kekerasan maupun provokasi.
“Kami berharap Mubes ini bisa selesai sampai akhir. Kalau ada keributan lagi, pelaku harus langsung ditindak. Forum ini harus aman, nyaman, dan demokratis,” pungkasnya. (*)
Penulis: Ulwan Murtadha
Editor: Ufqil Mubin








