BERITAALTERNATIF.COM – Japri, seorang guru yang kini mengajar di SDN 001 Muara Jawa, Kabupaten Kutai Kartanegara, Provinsi Kalimantan Timur, menceritakan perjalanan panjangnya sebagai pendidik hingga akhirnya diangkat menjadi Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) paruh waktu.
“Saya lulus SMA tahun 1990-an. Setelah itu mulai mengajar di SMP swasta di kampung saya, di Muara Jawa, tepatnya di SMP Dondang, dengan gaji Rp 7.500 per bulan,” kisah dia mengenang awal kariernya, Jumat (31/10/2025).
Setelah beberapa tahun mengajar, SMP Dondang tersebut menjadi sekolah negeri. Kemudian, ia mengajar di SMA swasta selama satu tahun.
“Kemudian saya pindah ke SD Cokroaminoto di Kecamatan Muara Jawa. Di sana saya mengajar selama 16 tahun,” ujarnya.
Setelah itu, Japri bergabung ke SDN 001 Muara Jawa, tempat ia bertugas hingga kini. Dia mengaku sudah dua kali mengikuti seleksi PPPK.
“Saya ikut dua kali, tahun 2022 dan 2023. Tapi waktu itu saya tidak lulus. Yang enggak lulus jadi PPPK paruh waktu. Jadi, saat ini saya dilantik dalam posisi sebagai PPPK paruh waktu,” katanya.
Perjalanan panjang Japri sebagai guru tidak selalu mudah. Dia bercerita pernah mengajar di sekolah negeri dengan honor yang sangat minim.
“Saya pernah digaji Rp 25.000 per bulan. Dari Muara Jawa ke Dondang itu butuh waktu setengah jam lebih. Naik kapal tambangan bayar Rp 5.000 sekali nyebrang. Jadi, habis untuk ongkos saja,” kenangnya.
Meski begitu, ia mengaku tetap bertahan karena kecintaannya terhadap profesi guru. Dari profesi ini, Japri berharap di kemudian hari dapat diangkat sebagai pegawai negeri.
“Tapi ternyata saat sekolah tempat saya mengajar dinegerikan, saya tidak diikutkan lagi dalam program T3D (Tenaga Honorer Daerah). Sejak 2006 saya tertinggal dari pengangkatan,” tuturnya.
Kini, setelah resmi menjadi PPPK paruh waktu, dia akan mengajar mata pelajaran Seni Budaya. Status tersebut membuatnya hanya mengajar satu mata pelajaran.
“Karena statusnya paruh waktu, maka beban mengajarnya enggak harus 24 jam. Tapi sampai sekarang saya belum tahu apakah nanti ditempatkan di SD atau SMP,” ujarnya.
Meski kesejahteraannya belum meningkat signifikan, ia tetap bersyukur dan berkomitmen untuk terus mendidik anak-anak di Muara Jawa.
“Kalau dibilang sejahtera, ya belum. Dari dulu sampai sekarang tetap sederhana. Tapi saya tetap semangat karena sudah cinta dengan dunia pendidikan,” tuturnya.
Meski sudah puluhan tahun mengabdi dengan penghasilan terbatas, Japri tetap teguh menjalani profesinya sebagai guru.
Dia mengaku, yang membuatnya bertahan bukan semata-mata soal gaji, tetapi niat tulus untuk beribadah melalui pendidikan.
“Walaupun penghasilan sedikit, insyaallah kalau niatnya ibadah, pahalanya lebih besar,” ujarnya dengan senyum.
Ia percaya bahwa ilmu yang diajarkannya kepada murid-muridnya akan menjadi amal jariyah yang tak terputus.
“Saya selalu berpikir, kalau dalam setahun saya bisa membuat dua orang anak bisa membaca, selama mereka hidup dan terus membaca, itu jadi amal yang terus mengalir buat saya,” katanya.
Namun, Japri tidak menampik bahwa kebutuhan hidup kadang sulit dipenuhi hanya dari gaji guru. “Kalau dari gaji jelas tidak cukup untuk biaya hidup sehari-hari. Jadi saya juga kerja serabutan,” tuturnya.
Kini, di sela-sela tugas mengajarnya, dia membuat arang kayu bersama temannya untuk menambah penghasilan.
“Hasilnya memang tidak seberapa, tapi cukup membantu biaya hidup. Dulu saya juga sempat jadi nelayan,” ucapnya sambil tertawa kecil.
Soal penghasilan, ia kini merasa sedikit lebih lega setelah mendapatkan insentif tambahan. Japri mendapatkan insentif Rp 1,2 juta dari Pemkab Kukar.
“Setelah dipotong pajak, jadi bersihnya Rp 1 juta. Dari sekolah juga ada tambahan antara Rp 500 ribu sampai Rp 1 juta. Kalau dijumlah, ya lumayanlah buat beli rokok,” ujarnya berseloroh.
Saat ini, Japri berusia sekitar 56 tahun dan hanya memiliki empat tahun lagi sebelum pensiun.
Dia berharap pemerintah lebih konsisten terhadap kebijakan yang menyangkut kesejahteraan guru, khususnya mereka yang sudah lama mengabdi.
“Kalau sudah janji menaikkan kesejahteraan, ya direalisasikan, jangan cuman PHP (pemberi harapan palsu). Jangan memberi harapan besar, tapi kenyataannya tidak sesuai,” katanya.
Meski sadar usianya tak muda lagi, ia masih menyimpan harapan besar bisa diangkat menjadi PNS sebelum pensiun.
“Kalau dibilang enggak berharap, ya bohong. Saya berharap banget. Walaupun misalnya saya diangkat satu tahun sebelum pensiun, tetap bersyukur. Pensiunnya di PNS, bukan di PPPK. Itu sudah alhamdulillah sekali,” tuturnya. (*)
Penulis: Ulwan Murtadha
Editor: Ufqil Mubin












