Search

Kereta Perang Gideon, saat Israel Menyelewengkan Kitab Sucinya

Kisah Alkitab tentang Gideon dan strategi yang digunakannya justru bertolak belakang dengan apa yang dilakukan Israel hari ini. (Tasnim News)

BERITAALTERNATIF.COM – Menurut laporan wartawan budaya Tasnim, nama Gideon atau Jedun belakangan kembali ramai disebut. Bukan karena kisah klasik Perjanjian Lama, melainkan karena Israel menggunakan istilah Kereta Perang Gideon untuk menamai operasi militer mereka. Pemilihan nama ini memicu kritik dari kalangan agama dan militer, sebab kisah Alkitab tentang Gideon sama sekali berbeda dengan praktik perang Israel modern.

Gideon adalah salah satu tokoh penting dalam Perjanjian Lama, disebut sebagai hakim Israel dalam Kitab Hakim-Hakim pasal 6 sampai 8. Pada masanya, bangsa Israel berada di bawah penindasan bangsa Midian. Menurut Alkitab, Tuhan memilih Gideon yang awalnya hanyalah seorang petani biasa dan penuh keraguan untuk memimpin.

Ia meminta tanda dari Tuhan agar yakin dengan misi sucinya, dan setelah mendapat kepastian, ia pun taat melaksanakan perintah itu.

Yang menarik, kekuatan Gideon tidak bertumpu pada jumlah pasukan atau senjata. Awalnya ia mengumpulkan 32 ribu orang, tetapi Tuhan memerintahkannya hanya membawa 300 orang saja. Tujuannya jelas: kemenangan Israel bukan hasil dari kekuatan militer, melainkan pertolongan ilahi.

Dalam peperangan melawan Midian, Gideon tidak menggunakan kereta perang, baju zirah, atau teknologi canggih. Bahkan ia tidak mengandalkan taktik perang konvensional. Sesuai perintah Tuhan, pasukannya hanya dibekali kendi tanah liat, obor, dan terompet.

Pada tengah malam, mereka memecahkan kendi, meniup terompet, dan menyalakan obor sehingga menciptakan ketakutan hebat di pihak lawan. Akibatnya, pasukan Midian tercerai-berai tanpa pertempuran besar.

Kisah ini menjadikan Gideon sebagai simbol pemimpin yang rendah hati, penuh iman, dan bersandar sepenuhnya pada kehendak Tuhan. Kemenangannya bukan karena kekuatan senjata, tetapi karena keyakinan dan keberanian spiritual.

Dari sudut pandang ini, penggunaan nama Kereta Perang Gideon oleh militer Israel jelas kontradiktif, bahkan bisa disebut penyimpangan. Gideon justru dilarang mengandalkan kekuatan militer, sementara Israel saat ini bersenjata lengkap dengan teknologi paling mutakhir: drone, rudal presisi, tank modern, hingga sistem pertahanan pintar.

Operasi-operasi yang memakai nama Gideon justru berlandaskan kekuatan teknologi dan penggunaan kekerasan berskala besar, bukan iman atau keberanian spiritual.

Dari sisi keagamaan, kontras ini sangat mencolok. Kisah Gideon menekankan bahwa Tuhan bersama kaum lemah, dan kemenangan datang lewat iman meski dengan pasukan kecil. Sebaliknya, Israel masa kini menggunakan nama yang sama untuk membungkus aksi militer brutal, pendudukan, dan pembunuhan warga sipil.

Banyak penafsir agama menilai ini sebagai penyalahgunaan simbol suci demi kepentingan politik dan militer. Alih-alih menjaga makna murni, Israel justru menyelewengkan kisah tersebut agar tampak sah secara religius.

Kritik pun bermunculan. Para analis menyatakan bahwa Gideon dalam Alkitab berjuang dengan pasukan kecil demi membebaskan bangsanya, sedangkan Israel modern justru menindas bangsa lain dengan kekuatan destruktif. Nama Gideon yang seharusnya menjadi teladan spiritual kini direduksi menjadi alat propaganda.

Dengan kata lain, Israel tidak lagi menjadi pewaris kisah mulia Gideon. Sebaliknya, mereka menjadikan tokoh suci itu sekadar label untuk menutupi tindakan kekerasan.

Tindakan ini memperlihatkan wajah Israel yang sebenarnya: bukan pewaris tradisi iman, melainkan pihak yang merusak dan menyelewengkan makna religius. Penggunaan nama-nama tokoh suci untuk operasi militer bukan hanya menodai kisah tersebut, tetapi juga menimbulkan kemarahan luas di dunia.

Bagi banyak orang, hal ini menegaskan bahwa Israel rela mengorbankan nilai spiritual demi kepentingan militer. Padahal, kisah Gideon justru ingin menunjukkan bahwa kemenangan hakiki tidak datang dari kekerasan, melainkan dari keimanan.

Hari ini, Israel dengan kekuatan militer dan pelanggaran hak asasi manusia justru menampilkan kebalikan dari makna sejati kisah Gideon. Bukannya mengandalkan iman, mereka mengandalkan senjata. Bukannya membela kaum lemah, mereka menindasnya.

Dengan demikian, penggunaan nama Gideon hanyalah sebuah penyalahgunaan terang-terangan atas makna kitab suci. Hal ini bukan saja merusak legitimasi moral Israel, tetapi juga memperlihatkan kontradiksi mendalam antara klaim religius yang mereka buat dengan kenyataan dari tindakan brutal mereka. (*)

Sumber: Tasnim News
Penerjemah: Ali Hadi Assegaf
Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA