Search

Kemenangan Hamas di Medan Tempur dan Meja Diplomasi

Setelah dua tahun perjuangan tanpa henti, Hamas telah meraih kemenangan besar yang memaksa Israel mundur dari ambisinya untuk menguasai Gaza sepenuhnya. (Mehr News)

BERITAALTERNATIF.COM – Laporan awal dari proses negosiasi antara rezim Zionis dan Gerakan Perlawanan Palestina (Hamas) menunjukkan bahwa perlawanan total rakyat Gaza, keteguhan Hamas serta kelompok-kelompok Palestina, dan dukungan kuat dari anggota Poros Perlawanan, meyakinkan Israel bahwa mengalahkan Hamas secara militer dan menguasai seluruh Gaza adalah hal yang mustahil. Karena itu, rezim Zionis terpaksa mengucapkan selamat tinggal pada impian mereka yang tak dapat dicapai itu.

Setelah dua tahun mengalami kekalahan di berbagai bidang—militer, politik, ekonomi, diplomasi internasional, dan opini publik dunia—rezim Zionis akhirnya meninggalkan tujuan utamanya, yakni menghancurkan Hamas dan menduduki seluruh wilayah Gaza. Rezim tersebut kemudian meminta Amerika Serikat untuk turun tangan menjadi mediator dan membuka kembali jalur negosiasi.

Seperti halnya setelah kegagalannya dalam agresi militer terhadap Iran, Israel kembali bergantung pada Amerika untuk menyelamatkan diri dari kekalahan. Bukan tanpa alasan Donald Trump mengatakan bahwa serangan AS terhadap Iran mempercepat dimulainya pembicaraan damai, karena jika AS dan Israel berhasil dalam agresi itu, mereka tidak akan memikirkan meja perundingan dan akan terus melanjutkan jalur militer terhadap rakyat Palestina.

Kemenangan Hamas di medan perang berawal dari serangan pendahuluan terhadap posisi militer rezim Zionis dalam Operasi Badai al-Aqsa. Dukungan militer dari kelompok-kelompok pembebasan Palestina seperti Jihad Islam, serta anggota Poros Perlawanan seperti Hizbullah di Lebanon, Ansarullah di Yaman, dan kelompok perlawanan di Irak, menyebabkan pelabuhan-pelabuhan penting seperti Eilat dan Ashkelon lumpuh total dan infrastruktur ekonomi rezim tersebut mengalami kerusakan parah.

Sebaliknya, rezim Zionis yang tak berdaya di medan perang, dengan dukungan penuh AS, melancarkan serangan brutal terhadap warga sipil, melakukan pembunuhan massal terhadap anak-anak dan perempuan, serta menewaskan lebih dari 65.000 warga Palestina—menjadikannya salah satu rezim paling dibenci di dunia.

Akhirnya, setelah dua tahun melakukan kejahatan perang, Israel terpaksa menyetujui penarikan diri dari Jalur Gaza dalam perundingan yang digelar di Sharm el-Sheikh. Berdasarkan kesepakatan ini, Gerakan Perlawanan Islam Palestina (Hamas) berhasil membebaskan 250 tahanan Palestina dan 1.700 warga Gaza yang ditangkap oleh pasukan pendudukan Israel sejak awal perang.

Selain itu, dalam tahap pertama perjanjian ini, Hamas juga akan membebaskan 20 tahanan hidup dari pihak Israel.

Kesepakatan tersebut juga mencakup pengiriman 400 truk bantuan kemanusiaan setiap hari untuk rakyat Gaza yang tak berdaya, dan jumlah ini akan ditingkatkan secara bertahap pada tahap-tahap berikutnya.

Hamas menegaskan bahwa mereka tidak akan menyerahkan senjata atau melucuti kekuatan militernya, dan dalam pernyataannya, gerakan ini menekankan tekad kuatnya—bersama seluruh rakyat Palestina—untuk terus mempertahankan hak menentukan nasib sendiri dan mewujudkan negara Palestina yang merdeka dan berdaulat.

Secara keseluruhan, keteguhan luar biasa rakyat Palestina, keberanian para pejuang di medan pertempuran, dan dukungan besar masyarakat dunia terhadap perjuangan mereka, menjadikan Hamas tampil di meja perundingan dengan posisi yang kuat dan kemampuan tawar-menawar yang tinggi untuk mempertahankan tujuan perlawanan.

Kini, tugas masyarakat internasional adalah untuk terus membela rakyat Palestina dan menekan rezim pendudukan Zionis agar melaksanakan isi kesepakatan ini sepenuhnya.

Hamas dan Poros Perlawanan tidak hanya menang di medan perang, tetapi juga di ranah diplomasi—dan sudah sepantasnya dunia menghormati dan mengenang para syuhada besar yang berperan penting dalam keberlangsungan perjuangan ini, seperti Sayyid Hassan Nasrallah, Yahya Sinwar, Ismail Haniyeh, dan para pemimpin lainnya yang menjadi simbol keteguhan, pengorbanan, dan kemenangan atas musuh.

Kemenangan ini bukan hanya milik Hamas, melainkan kemenangan seluruh rakyat Palestina dan mereka yang percaya pada keadilan. Setelah dua tahun penderitaan, Gaza yang pernah dibombardir dan diblokade kini berdiri tegak sebagai simbol kehormatan dan kebangkitan dunia tertindas.

Israel, yang semula berniat menghancurkan Hamas dan menundukkan rakyat Palestina, kini justru terpaksa duduk di meja perundingan dalam posisi kalah. Sementara itu, Hamas, yang selama ini menjadi sasaran serangan, tampil sebagai pihak yang kuat dan berdaulat—menegaskan bahwa perlawanan bukan hanya bertahan, tetapi juga mampu menang.

Dengan berakhirnya perang dan dimulainya babak baru negosiasi ini, keseimbangan kekuatan di kawasan telah berubah secara mendasar.

Kemenangan Hamas, baik di medan perang maupun di meja diplomasi, telah membuka era baru bagi perjuangan Palestina dan menunjukkan kepada dunia bahwa kekuatan sejati tidak datang dari senjata, melainkan dari keyakinan, keteguhan, dan keberanian untuk mempertahankan tanah air. (*)

Sumber: Mehr News
Penerjemah: Ali Hadi Assegaf
Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA