Search

Kemenag dan BRIN Kolaborasi Rancang Asesmen Literasi Beragama Nasional

Direktur Pendidikan Agama Islam Kemenag, M Munir (kiri). (Kemenag.go.id)

BERITAALTERNATIF.COM – Direktorat Pendidikan Agama Islam (PAI) Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama terus memperkuat langkah dalam merancang Desain Asesmen Literasi Beragama bagi guru dan siswa sekolah.

Program strategis ini dikembangkan bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) serta Badan Moderasi Beragama dan Pengembangan SDM (BMBPSDM) untuk memastikan kualitas akademik dan validitas ilmiahnya.

Dirjen Pendidikan Islam Amien Suyitno menegaskan pentingnya literasi dasar beragama dalam membentuk karakter generasi muda.

Sebelumnya, ia telah menggagas Gerakan Nasional Literasi Alquran (GNLQ) bertajuk Tahun Membaca Alquran sebagai upaya menumbuhkan budaya baca dan pemahaman Alquran secara luas di Indonesia.

Ia menyebut literasi beragama sebagai fondasi moral bangsa yang harus diperkuat melalui pendidikan.

Direktur PAI, M. Munir, menjelaskan bahwa asesmen ini bukan sekadar alat ukur kemampuan guru dan siswa dalam hal literasi agama, tetapi juga diharapkan menghasilkan peta nasional kualitas layanan Pendidikan Agama Islam (PAI).

Data yang dihasilkan menjadi acuan penting bagi perumusan kebijakan pendidikan agama di masa mendatang.

Menurut Munir, pelaksanaan asesmen harus memiliki dasar akademik yang kuat. Ia menekankan agar hasilnya dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah tanpa cacat metodologi.

Untuk menjaga legitimasi akademik, BRIN dan Pusat Strategi Kebijakan Pendidikan Agama dan Keagamaan (Pustrajak Penda) dilibatkan secara aktif guna memastikan pelaksanaan asesmen sesuai koridor ilmiah.

Dia juga mengingatkan pentingnya konsistensi antara desain akademik dan implementasi di lapangan. Dia menegaskan bahwa instrumen asesmen yang diberikan kepada guru dan siswa harus tepat sasaran dan selaras dengan rancangan awal.

Selain itu, penyusunan timeline dan pembagian kerja tim juga perlu dilakukan secara rinci, mencakup tim surveyor, pendamping lapangan, hingga pengelolaan data pasca pelaksanaan.

Rancangan asesmen ini akan mengukur kemampuan dan kompetensi siswa PAI di seluruh jenjang pendidikan di sekolah umum. Data hasil asesmen akan diintegrasikan ke dalam Sistem Informasi Administrasi Guru Agama (SIAGA) sebagai basis peningkatan kebijakan pendidikan nasional.

Munir menyebut ada 41,8 juta siswa muslim yang menjadi sasaran program ini, sehingga perencanaan dan monitoring harus tertata secara sistematis dan efisien.

Untuk mendukung kelancaran, Direktorat PAI menyiapkan kemungkinan pelaksanaan asesmen secara bertahap atau bergelombang dengan durasi waktu yang proporsional.

Skema ini dinilai lebih efisien, seperti sistem ujian berbasis elektronik yang telah diterapkan lembaga penilaian lain.

Direktorat PAI menargetkan finalisasi desain dan timeline asesmen dalam dua pekan ke depan sebelum masuk ke tahap persiapan teknis di daerah.

Peneliti BRIN, Muhammad Murtadlo, menyampaikan bahwa kegiatan ini menjadi langkah awal dalam membangun instrumen pengukuran literasi dasar beragama siswa secara nasional.

Menurutnya, asesmen ini akan mengukur tiga aspek utama, yaitu kemampuan membaca Alquran, praktik ibadah keagamaan dan sosial, serta penguatan karakter religiusitas siswa.

Ia menambahkan bahwa masih banyak permasalahan yang ditemukan di lapangan, seperti rendahnya kemampuan dasar membaca Alquran dan belum adanya instrumen yang mengukur ibadah sosial seperti zakat, gotong royong, dan pelayanan masyarakat.

Selain itu, masih diperlukan penguatan karakter religius dalam menghadapi isu sosial, budaya, lingkungan, dan kebangsaan.

Survei asesmen ini akan melibatkan 13.600 siswa dari seluruh Indonesia dengan metode pengambilan sampel acak.

Setiap provinsi akan diambil empat kabupaten atau kota, masing-masing lima sekolah, dan tiap sekolah 20 siswa. Totalnya, sebanyak 400 siswa per provinsi atau 34 provinsi secara nasional.

Kegiatan berlangsung selama tiga hari, 22–24 Oktober 2025, di Jakarta, dengan melibatkan dua peneliti BRIN, dua analis kebijakan Pustrajak Penda, serta jajaran pegawai Direktorat PAI.

Melalui kerja sama lintas lembaga ini, Kemenag berharap asesmen nasional literasi beragama dapat menjadi tolok ukur baru dalam meningkatkan mutu pembelajaran PAI di sekolah serta memperkuat moderasi beragama generasi muda Indonesia secara ilmiah, faktual, dan terukur. (*)

Sumber: Kemenag.go.id
Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA