Search

Kejahatan Zionis dalam Perang Melawan Iran Tidak Boleh Dibiarkan tanpa Hukuman

Penulis dan jurnalis asal Oman, Faezeh Mohammed. (Mehr News)

BERITAALTERNATIF.COM – Faezeh Mohammed, seorang penulis dan jurnalis asal Oman, mengecam tindakan teroris yang dilakukan oleh rezim Israel, dan menyebutnya sebagai pelanggaran terang-terangan terhadap hukum internasional dan hak asasi manusia.

Dilansir dari Mehr News pada Sabtu (26/7/2025), Faezeh menilai bahwa serangan teroris yang didukung oleh negara ini memperlihatkan wajah asli rezim Israel. Menurutnya, ketergantungan Israel pada metode pembunuhan untuk mengeliminasi ancaman mencerminkan kebijakan inti mereka: menghancurkan secara langsung setiap ancaman politik atau militer terhadap eksistensinya.

Berbicara tentang penargetan terhadap warga sipil di Iran, ia menambahkan bahwa tingginya jumlah korban perempuan dan anak-anak menunjukkan bahwa tujuan sebenarnya adalah untuk menghancurkan semangat bangsa-bangsa, menakut-nakuti masyarakat, dan mengacaukan negara-negara yang menentang agenda ekspansionis Israel. Berikut adalah wawancara lengkap dengan Faezeh Mohammed:

Beberapa hari yang lalu, dunia menyaksikan serangan langsung Israel terhadap Iran dan rakyatnya. Menurut Anda, mengapa rezim Israel melakukan kejahatan seperti ini terhadap warga sipil tak berdosa di Gaza, Lebanon, dan Iran? Apa pendorong utama di balik berlanjutnya serangan ini, termasuk pembunuhan terencana?

Rezim ini secara fundamental dibangun di atas kebijakan ekspansi, dominasi, dan pemaksaan pendudukannya melalui kekuatan. Sejak awal berdirinya, ia bergantung pada kekerasan untuk mencapai tujuan politik, militer, dan keamanannya. Penargetan terhadap warga sipil tak bersenjata di Gaza, Lebanon, dan Iran merupakan bagian dari upaya berkelanjutan untuk melemahkan setiap kekuatan atau perlawanan yang mengancam kelangsungan atau pengaruhnya.

Selain itu, impunitas yang dinikmati Israel—berkat dukungan tanpa syarat dari Amerika Serikat dan Barat—memberinya keberanian untuk terus melakukan kejahatan ini tanpa takut akan konsekuensi. Agresi yang terus-menerus ini terkait langsung dengan tidak adanya sikap tegas dari komunitas internasional yang seharusnya memaksa rezim ini untuk mematuhi hukum internasional dan hak-hak bangsa lain.

Rezim Israel mengklaim tujuannya adalah menghentikan program nuklir dan misil Iran, namun faktanya mereka menargetkan rumah sakit, infrastruktur, dan kantor media, dengan banyak korban berasal dari perempuan dan anak-anak. Bagaimana Anda menjelaskan kontradiksi ini? Apa sebenarnya tujuan mereka?

Kontradiksi ini mengungkap agenda tersembunyi dari rezim Israel dan pelindungnya, Amerika Serikat—agenda yang jauh melampaui isu program nuklir atau pengaruh regional Iran. Agresi Israel-Amerika terhadap Iran menunjukkan niat sebenarnya mereka. Serangan yang disengaja terhadap rumah sakit, infrastruktur, dan lembaga media, disertai dengan banyaknya korban perempuan dan anak-anak, membuktikan bahwa tujuan utama mereka adalah mematahkan semangat bangsa-bangsa, menebar ketakutan, dan mengacaukan negara-negara yang menolak rencana ekspansi Israel. Ini adalah bentuk hukuman kolektif yang bertujuan menciptakan teror, kekacauan, dan kelumpuhan sosial agar masyarakat menyerah. Pada intinya, ini adalah upaya mempertahankan dominasi dengan membungkam setiap suara yang menentang eksistensi dan pengaruh mereka.

Meski PBB dan organisasi HAM telah mendokumentasikan kejahatan perang Israel, pemerintah Barat tetap memberikan dukungan politik dan militer. Mengapa negara-negara ini tetap diam terhadap kejahatan seperti itu?

Diamnya negara-negara Barat—meskipun ada laporan dari PBB dan organisasi hak asasi manusia—berakar pada kepentingan politik, ekonomi, dan strategis yang mendalam dengan rezim Israel. Mereka memandang Israel sebagai sekutu strategis yang melindungi kepentingan mereka dan memperluas pengaruh di Timur Tengah.

Selain itu, lobi pro-Israel yang sangat kuat memberi tekanan besar terhadap lembaga-lembaga pengambil keputusan, menyamarkan kebenaran dan membenarkan kejahatan atas nama keamanan dan perang melawan terorisme. Akibatnya, nilai-nilai HAM dan kemanusiaan dikorbankan demi kekuasaan dan kepentingan—dan bangsa-bangsa tak berdaya harus menanggung akibatnya.

Media Barat sering menggambarkan rezim Israel sebagai ‘membela diri’, sembari mengabaikan pembunuhan warga sipil di Gaza, Lebanon, dan Iran. Bagaimana Anda menafsirkan bias media ini, dan apa yang bisa dilakukan untuk melawannya?

Bias media ini bukanlah kebetulan; ia adalah hasil dari sistem media besar yang dikendalikan oleh entitas dengan kepentingan politik dan ekonomi yang terkait erat dengan rezim Israel. Israel terus digambarkan sebagai korban, sementara kejahatannya terhadap warga sipil di Gaza, Lebanon, dan Iran diminimalkan atau diputarbalikkan. Tujuan dari narasi ini jelas: untuk meraih simpati dunia dan membenarkan pelanggaran di mata opini publik Barat.

Melawan bias ini memerlukan investasi dalam media independen yang efektif, mampu menyampaikan kebenaran ke seluruh dunia dalam berbagai bahasa. Dokumentasi akurat terhadap kejahatan dengan bukti kuat, penggunaan alat komunikasi modern untuk memecah dominasi media arus utama, serta keterlibatan jurnalis dan aktivis independen dari berbagai negara sangat penting untuk membuka kedok distorsi dan menunjukkan realitas yang sebenarnya.

Amerika Serikat secara konsisten menolak resolusi PBB yang mengecam kejahatan Israel. Baru-baru ini, bahkan meninggalkan jalur diplomasi dan ikut langsung dalam perang. Bagaimana Anda menilai pendekatan ini?

Pendekatan ini menunjukkan dengan jelas standar ganda Amerika Serikat terhadap hukum internasional dan hak asasi manusia. Meski mengaku mendukung demokrasi dan diplomasi, pada kenyataannya Washington memveto setiap resolusi yang mengecam kejahatan Israel dan menggunakan pengaruhnya untuk melindungi rezim tersebut dari pertanggungjawaban.

Ketika tekanan politik gagal, mereka menjauh dari dialog dan memilih tindakan militer—seperti yang baru-baru ini mereka lakukan terhadap Iran, bahkan saat negosiasi masih berlangsung. Perilaku ini menunjukkan bahwa kebijakan AS tidak didorong oleh prinsip, melainkan oleh kepentingan strategis dan aliansi—meskipun harus terus mendukung penjajahan dan kejahatan perang terhadap warga sipil.

Rezim Israel memiliki senjata nuklir ilegal di luar pengawasan Badan Energi Atom Internasional (IAEA), namun menyerang Iran dengan dalih program nuklirnya. Bukankah ini contoh nyata standar ganda global? Apa yang seharusnya dilakukan komunitas internasional?

Benar, kepemilikan senjata nuklir Israel yang tersembunyi dan sepenuhnya berada di luar pengawasan internasional, sementara Iran diserang karena program nuklir damainya, merupakan contoh nyata dari standar ganda yang merajalela dalam sistem internasional. Kontradiksi ini melemahkan kredibilitas lembaga-lembaga global dan mengikis kepercayaan terhadap hukum internasional, karena prinsip seperti non-proliferasi dan akuntabilitas diterapkan secara selektif demi kepentingan kekuatan besar.

Jika komunitas internasional benar-benar berkomitmen pada keadilan dan supremasi hukum, maka harus ada tuntutan transparansi nuklir dari semua negara—tanpa pengecualian—dan memaksa Israel untuk mematuhi perjanjian internasional. Mereka juga harus mendukung secara adil dan tanpa campur tangan hegemonik inisiatif-inisiatif kawasan yang bertujuan menciptakan Timur Tengah yang bebas senjata nuklir.

Rezim Israel sering mengklaim menyerang target militer, tetapi kenyataannya mereka menghantam wilayah sipil. Di Gaza dan sekarang Iran, perempuan dan anak-anak adalah mayoritas korban. Apa sebenarnya tujuan dari tindakan ini?

Penargetan warga sipil dengan dalih menyerang target militer adalah strategi yang diperhitungkan oleh rezim Israel untuk menghancurkan semangat bangsa dan memaksa masyarakat menyerah melalui ketakutan dan intimidasi. Ketika korban utama adalah perempuan dan anak-anak, pesannya jelas: menanamkan keputusasaan dan memaksa rakyat menerima kenyataan yang dipaksakan dengan harga kemanusiaan yang tak tertahankan.

Serangan ini bukan kesalahan acak; mereka adalah tindakan hukuman kolektif yang disengaja untuk menghancurkan struktur sosial dan menciptakan krisis kemanusiaan yang digunakan sebagai alat tekanan politik. Tujuan utamanya adalah melemahkan perlawanan dan meruntuhkan semangat rakyat agar rezim dapat mempertahankan dominasi militer dan psikologisnya serta melanjutkan rencana ekspansionis tanpa hambatan.

Apa tujuan akhir dari kebijakan agresif dan ekspansionis Israel? Ancaman seperti apa yang ditimbulkan kebijakan ini bagi negara-negara tetangga?

Tujuan akhir rezim Israel adalah mengukuhkan dominasi militer dan politiknya di kawasan dengan menginstitusionalisasi pendudukan dan merebut kendali atas sumber daya vital serta titik-titik strategis. Kebijakan ini dirancang untuk menciptakan kondisi kekacauan dan penangkalan permanen, sehingga setiap potensi ancaman tetap lemah, terpecah, atau terjebak dalam krisis internal.

Bagi negara-negara tetangga, ancamannya bersifat ganda: pertama, keamanan dan stabilitas mereka terancam langsung oleh perang, agresi, pembunuhan, dan sabotase; kedua, Israel secara aktif berupaya memecah belah persatuan kawasan, melibatkan negara-negara dalam konflik internal agar tetap teralihkan sementara mereka menjalankan agendanya tanpa hambatan. Menghadapi ancaman ini memerlukan kesadaran regional, penguatan kerja sama, dan pembangunan kekuatan penangkal untuk menjaga kedaulatan dan menegakkan hak-hak sah rakyat. (*)

Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA