BERITAALTERNATIF – Sedikitnya 63 warga Palestina tewas dalam serangan udara besar-besaran yang dilancarkan militer Israel di seluruh Jalur Gaza pada Selasa malam, hanya beberapa hari setelah Perdana Menteri Benjamin Netanyahu memerintahkan “serangan kuat” menyusul bentrokan senjata di Rafah selatan yang melukai satu tentara Israel.
Serangan ini menjadi eskalasi paling besar sejak gencatan senjata yang disponsori oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump diberlakukan pada 10 Oktober di wilayah yang sudah porak-poranda akibat perang, seperti dilaporkan Al Jazeera.
Sayap bersenjata Hamas, Brigade Al-Qassam, menuduh Israel melanggar gencatan senjata dan mengumumkan penundaan penyerahan jenazah seorang tawanan yang semula dijadwalkan dilakukan minggu ini. Dalam pernyataannya, kelompok itu memperingatkan bahwa setiap serangan baru Israel akan “menghambat proses pencarian, penggalian, dan pengambilan jenazah” para tawanan yang tersisa di Gaza.
Sementara itu di Washington DC, Wakil Presiden AS JD Vance menegaskan bahwa gencatan senjata “masih berlaku” meski ada laporan pelanggaran di kedua pihak.
“Bukan berarti tidak akan ada bentrokan kecil di sana-sini,” kata Vance kepada wartawan di Capitol Hill. “Kami tahu bahwa Hamas—atau kelompok lain di Gaza—menyerang seorang tentara Israel. Kami paham Israel akan merespons, tapi saya yakin perdamaian yang diupayakan presiden masih akan bertahan.”
Namun Hamas membantah terlibat dalam insiden di Rafah tersebut.
Sumber medis di Gaza melaporkan bahwa korban tewas termasuk empat orang yang meninggal akibat serangan rudal di kawasan Sabra, Gaza Utara, dan lima orang lainnya di Khan Younis bagian selatan. Sedikitnya 50 orang lainnya dilaporkan terluka.
Jurnalis Al Jazeera, Hani Mahmoud, yang melaporkan dari Kota Gaza, mengatakan sebuah misil jatuh di belakang Rumah Sakit Al-Shifa, memicu kepanikan di antara pasien dan staf medis.
“Ledakannya sangat besar. Kami berada sekitar 20 menit dari lokasi, tapi dentumannya terdengar jelas sampai sini,” ujarnya.
Upaya penyelamatan di kawasan Sabra berlangsung sepanjang malam. Para relawan menggali reruntuhan dengan tangan kosong untuk mencari korban yang masih tertimbun. Petugas medis mengatakan korban luka mencakup perempuan dan anak-anak.
“Ini jelas pelanggaran terhadap gencatan senjata,” kata Ibrahim Abu Reesh, petugas pertahanan sipil di lokasi kejadian. “Kami menemukan korban tewas, dan masih berusaha mengevakuasi siapa pun yang mungkin masih hidup di bawah puing-puing.”
Beberapa jam sebelumnya, kantor Netanyahu mengeluarkan pernyataan resmi yang menyebut perdana menteri telah memerintahkan militer untuk melancarkan serangan kuat di Gaza. Tidak dijelaskan alasan spesifik di balik serangan itu, namun Menteri Pertahanan Israel Israel Katz kemudian menyalahkan Hamas atas serangan di Rafah dan berjanji kelompok itu akan “membayar mahal”.
Kantor berita Associated Press, mengutip dua pejabat AS tanpa nama, melaporkan bahwa Israel telah memberi tahu Washington sebelum melakukan serangan tersebut.
Sementara itu, Kantor Media Pemerintah Gaza menyebut total korban tewas sejak gencatan senjata diberlakukan telah mencapai setidaknya 94 orang, dan Israel masih memperketat pembatasan terhadap masuknya bantuan kemanusiaan.
Hamas menegaskan serangan-serangan terbaru Israel merupakan “pelanggaran terang-terangan terhadap kesepakatan gencatan senjata” yang ditandatangani di Sharm el-Sheikh di bawah pengawasan Presiden Trump.
“Israel harus memahami bahwa kami tetap berkomitmen pada perjanjian tersebut, dan mereka harus berhenti menuduh kami melanggarnya,” kata Suhail Al-Hindi, anggota biro politik Hamas di Gaza, kepada Al Jazeera. Ia menjelaskan bahwa kelompoknya menghadapi kesulitan besar dalam upaya mengambil jenazah 13 tawanan Israel yang masih berada di Gaza.
“Kami sudah melakukan segala upaya untuk menemukannya, dan penjajah Israel harus menanggung tanggung jawab penuh atas keterlambatan proses ini,” tambahnya.
Brigade Al-Qassam juga mengumumkan bahwa mereka telah menemukan dua jenazah tawanan Israel lainnya, yakni Amiram Cooper dan Sahar Baruch, dalam operasi pencarian yang dilakukan pada hari yang sama.
Pengumuman ini muncul setelah Netanyahu menolak jenazah yang diserahkan Hamas sehari sebelumnya, dengan mengklaim bahwa jasad tersebut bukan milik salah satu dari 13 tawanan yang masih belum dikembalikan, melainkan tubuh seorang tawanan yang telah diambil kembali oleh pasukan Israel hampir dua tahun lalu.
Menanggapi hal itu, kabinet sayap kanan Netanyahu menyerukan tindakan keras. Menteri Keuangan Bezalel Smotrich mendorong pemerintah untuk menangkap kembali warga Palestina yang dibebaskan dalam pertukaran tawanan, sedangkan Menteri Keamanan Nasional Itamar Ben-Gvir menyatakan bahwa satu-satunya jawaban adalah “menghancurkan Hamas sepenuhnya”.
Beberapa laporan media Israel menyebutkan bahwa opsi lain yang dipertimbangkan termasuk menghentikan sepenuhnya pasokan bantuan kemanusiaan, memperluas kendali militer Israel di Gaza, atau melakukan serangan udara yang menargetkan para pemimpin Hamas.
Seorang pejabat AS mengatakan kepada Al Jazeera bahwa pencarian jenazah tawanan Israel di Gaza sangat sulit dan memakan waktu lama, mengingat kondisi kehancuran luas akibat perang. Menurutnya, Pusat Kerja Sama Sipil-Militer (CIMIC) yang dipimpin AS berperan penting dalam membantu masuknya tim teknis Mesir untuk membantu proses pengambilan jenazah.
Pengamat politik Muhammad Shehada dari European Council on Foreign Relations menilai Netanyahu sengaja memicu ketegangan untuk menguji batas gencatan senjata.
“Sejak awal gencatan senjata, Netanyahu terus mencari celah untuk melanjutkan genosida di Gaza,” ujarnya kepada Al Jazeera. “Israel menolak membuka perbatasan Rafah, membatasi bantuan, dan terus melakukan pemboman dengan alasan yang tidak berdasar.”
Ia menambahkan bahwa Israel sedang menguji sejauh mana mereka bisa melanggar kesepakatan tanpa kehilangan dukungan Amerika. “Netanyahu mencoba melihat sejauh mana dia bisa melangkah sambil membangun alasan untuk kembali melanjutkan perang di Gaza,” ujarnya. (*)
Sumber: Fars News
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf












