BERITAALTERNATIF – Dalam pernyataan yang dirilis pada Rabu, Abdul-Malik al-Houthi mengatakan bahwa keteguhan sejarah kedua negara tersebut mengandung pelajaran berharga bagi umat Islam, sekaligus memperkuat harapan dan keyakinan terhadap janji-janji Ilahi.
Ia menambahkan bahwa pengalaman bersama itu semakin menguat di tengah upaya para musuh Islam dan kemanusiaan yang terus mendorong berbagai skema mereka—termasuk proyek yang disebut sebagai “Timur Tengah Baru” dan “Israel Raya”—dengan memanfaatkan para sekutu dan proksi mereka.
Al-Houthi juga menyampaikan ucapan selamat kepada Pemimpin Revolusi Islam Iran, Ayatollah Seyyed Ali Khamenei, serta kepada rakyat Iran atas peringatan kemenangan Revolusi Islam 1979.
Ia menegaskan bahwa kemenangan Revolusi Islam di Iran telah mengantarkan pada berdirinya sebuah negara Muslim yang merdeka dan bebas dari hegemoni Amerika Serikat.
Pemimpin Yaman tersebut memuji keteguhan Iran selama 47 tahun dalam menghadapi berbagai konspirasi rezim Israel, sembari tetap mendukung bangsa-bangsa tertindas, terutama rakyat Palestina.
Pada Rabu, rakyat Iran memperingati hari jadi ke-47 Revolusi Islam yang menggulingkan kediktatoran Pahlavi yang didukung Amerika Serikat dan melahirkan Republik Islam.
Jutaan warga Iran mengikuti pawai dan perayaan di seluruh penjuru negeri untuk mengenang peristiwa bersejarah tersebut serta menegaskan kembali komitmen mereka terhadap kemerdekaan dan kedaulatan negara.
Dalam bagian lain pernyataannya, al-Houthi juga mengucapkan selamat kepada rakyat Yaman atas peringatan kemenangan bersejarah yang ditandai dengan penarikan pasukan Marinir Amerika Serikat dari ibu kota Sana’a pada 11 Februari 2015.
Ia mengatakan bahwa penarikan pasukan Amerika tersebut menjadi titik balik yang menentukan sekaligus simbol kekalahan kendali asing atas pusat politik dan administrasi Yaman.
Pemimpin Yaman itu menambahkan bahwa perkembangan terbaru telah mengungkap berbagai rencana Zionis. Ia menekankan bahwa kejahatan rezim Israel terhadap rakyat Palestina di Gaza telah membuka mata dunia terhadap hakikat sebenarnya dari Zionisme.
Menurutnya, dunia Islam memikul tanggung jawab besar untuk memperkuat kesadaran, persatuan, dan dukungan terhadap rakyat Palestina serta perjuangan mereka, sekaligus menghadapi musuh Israel dan sekutu Amerikanya.
Penarikan pasukan Marinir Amerika dari Sana’a pada 11 Februari 2015 menjadi momen penting dalam sejarah politik modern Yaman.
Selama bertahun-tahun, pasukan Amerika mempertahankan kehadiran langsung di ibu kota tersebut dan memiliki pengaruh terhadap lembaga-lembaga politik serta administrasi Yaman, sambil berupaya menerapkan kebijakan yang sejalan dengan kepentingan Washington.
Kehadiran mereka menjadi simbol dominasi asing di jantung pemerintahan Yaman dan memungkinkan Amerika Serikat menjalankan kendali terhadap para pejabat tinggi negara itu.
Pernyataan al-Houthi tersebut kembali menegaskan posisi Ansarullah yang melihat revolusi sebagai jalan pembebasan dari dominasi eksternal dan sebagai model perlawanan bagi bangsa-bangsa Muslim lainnya. Ia menilai bahwa pengalaman Iran dan Yaman menunjukkan bahwa keteguhan dalam menghadapi tekanan politik, militer, dan ekonomi dapat membuahkan hasil dalam jangka panjang.
Menurut al-Houthi, peringatan revolusi bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum untuk memperbarui komitmen terhadap prinsip kemerdekaan, kedaulatan, dan penolakan terhadap campur tangan asing. Ia juga menekankan bahwa tantangan yang dihadapi kawasan saat ini menuntut solidaritas yang lebih besar di antara negara-negara Muslim.
Dengan menyoroti dua peristiwa bersejarah—Revolusi Islam Iran pada 1979 dan penarikan pasukan Amerika dari Sana’a pada 2015—al-Houthi berupaya menggambarkan narasi perlawanan yang berkelanjutan terhadap apa yang ia sebut sebagai proyek dominasi Amerika—Zionis di kawasan.
Pernyataan tersebut muncul di tengah meningkatnya ketegangan regional, khususnya terkait perkembangan di Palestina dan Gaza, yang menurut al-Houthi semakin memperjelas posisi dan tanggung jawab dunia Islam dalam menghadapi tantangan bersama. (*)
Sumber: Presstv.ir
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf












