BERITAALTERNATIF – Mengutip Pusat Studi Al-Zaytouna, rezim Zionis kini berada dalam situasi kehilangan keseimbangan strategis yang berpotensi berubah menjadi ancaman eksistensial. Kondisi ini semakin terlihat sejak terbentuknya koalisi Partai Likud dengan kelompok Zionisme ekstrem dan Talmudis pada akhir tahun 2022, dan menjadi jauh lebih jelas setelah dimulainya Operasi Badai Al-Aqsa.
Krisis ini mencerminkan persoalan struktural, baik di dalam maupun di luar, yang bersumber dari karakter masyarakat Zionis serta dominasi kecenderungan sayap kanan ekstrem dalam sistem pemerintahan rezim Zionis. Situasi ini membuat jalan keluar dari krisis menjadi sangat sulit. Hilangnya keseimbangan strategis berarti sebuah negara atau entitas tidak lagi mampu menjaga stabilitas strategis jangka panjangnya, sehingga terjadi kekacauan dalam perhitungan kebijakan yang menyeretnya ke kondisi ketidakstabilan berkelanjutan tanpa kemampuan untuk beradaptasi atau keluar dari situasi tersebut.
Kondisi seperti ini dapat menyeret sebuah sistem ke dalam kekacauan politik, ekonomi, keamanan, dan sosial, bahkan memicu konflik internal serta keterlibatan dalam konflik eksternal yang berat dan tidak tertahankan pada waktu yang tidak tepat. Dalam situasi tersebut, para pemimpin negara atau sistem pemerintahan sejatinya sedang menjalankan proses “penghancuran diri”, yang dampak-dampak buruknya sangat sulit untuk diatasi.
Pola Pikir yang Melahirkan Hilangnya Keseimbangan Strategis
Netanyahu dan tim penguasa wilayah pendudukan saat ini, setelah Amerika Serikat dan Donald Trump “menyelamatkan” mereka dari apa yang disebut sebagai “jebakan Gaza”, mungkin merasa bisa bernapas lega dan membanggakan dominasi militer rezim Zionis di Lebanon, Suriah, dan Gaza. Namun, perkembangan ini tidak akan menyelesaikan persoalan hilangnya keseimbangan strategis, karena akar masalahnya terletak pada pola pikir rezim Zionis itu sendiri, yakni rasa superioritas dan kecenderungan isolasionis yang dibangun di atas penerapan dominasi dan kekerasan terhadap pihak lain. Pendekatan ini secara mendasar menghilangkan kemampuan berpikir yang seimbang.
Selain itu, rasa tidak aman historis yang terus dipelihara, disertai ketidakpercayaan dan permusuhan terhadap pihak lain, mendorong lahirnya keputusan dan orientasi kebijakan yang keliru. Hal ini membuat rezim Zionis memaksakan kondisi yang menghina dan tidak setara kepada pihak lain, sedemikian rupa sehingga hidup berdampingan menjadi mustahil.
Faktor-Faktor Hilangnya Keseimbangan Strategis
Faktor-faktor hilangnya keseimbangan strategis rezim Zionis dapat dirangkum sebagai berikut:
- Gelombang protes besar pada tahun 2023 terhadap reformasi yudisial mengungkap kedalaman jurang politik dan sosial antara kelompok sekuler dan Talmudis, sekaligus menunjukkan rapuhnya struktur sosial masyarakat Zionis. Sebagian manifestasi krisis ini kini terlihat dalam persoalan wajib militer bagi Yahudi Haredi.
- Krisis yang belum pernah terjadi sebelumnya antara kabinet dengan militer dan Shin Bet, terutama dalam dua tahun terakhir selama pertempuran Badai Al-Aqsa. Di antara tanda-tandanya adalah pemecatan atau pengunduran diri Yoav Gallant, menteri perang; Herzi Halevi, kepala staf militer; Hanegbi, kepala Dewan Keamanan Nasional; Ronen Bar, kepala Shin Bet; serta Gali Baharav-Miara, penasihat hukum kabinet. Perbedaan tajam juga muncul terkait isu pembebasan tawanan Zionis, masa depan Gaza pascaperang, penguasaan perlintasan Rafah, dan Poros Salahuddin. Konflik-konflik ini akhirnya mendorong Benny Gantz dan Partai Biru Putih keluar dari kabinet.
- Kontradiksi struktural antara dorongan ideologis untuk memperluas permukiman dan dominasi regional dengan kebutuhan strategis akan stabilitas, penyelesaian politik, dan normalisasi. Proyek Yahudisasi Masjid Al-Aqsa dan Yerusalem, aneksasi Tepi Barat, pengusiran warga Palestina, gagasan “Israel Raya”, serta pendudukan wilayah Lebanon dan Suriah, semuanya merupakan elemen eksplosif yang mendorong perlawanan bersenjata di kawasan.
- Penurunan tajam kepercayaan publik terhadap kabinet dan militer, serta hilangnya sebagian besar “legitimasi internal” dalam berbagai survei selama dua tahun terakhir.
- Runtuhnya sistem pencegahan tradisional yang dibangun sejak berdirinya rezim Zionis, dan peralihannya ke model pencegahan preventif berbasis kekerasan ekstrem, penghancuran luas, dan praktik genosida, yang menyebabkan jatuhnya citra rezim ini di dunia. Kegagalan seluruh instrumen pencegahan dan ketahanan menghadapi perlawanan Palestina hingga akhir pertempuran menciptakan guncangan serius dalam sistem pemerintahan Zionis.
- Netanyahu membanggakan keberadaan tujuh atau delapan front perang, namun kondisi ini justru mempercepat kelelahan militer dan ekonomi serta menghilangkan keseimbangan internal rezim.
- Sistem pemerintahan Zionis meremehkan kemampuan Hamas dan kelompok perlawanan, serta berpegang pada asumsi keamanan yang terbukti keliru. Operasi mereka di Gaza justru menghasilkan dampak sebaliknya, meningkatkan simpati global terhadap rakyat Palestina dan perlawanan, serta memperbesar kemarahan terhadap pendudukan Zionis.
- Hilangnya keseimbangan strategis pada akhirnya menyebabkan penurunan dukungan publik, isolasi global yang belum pernah terjadi sebelumnya, proses hukum terhadap Tel Aviv di Mahkamah Internasional, meningkatnya solidaritas dunia terhadap rakyat Palestina, dan meluasnya pengakuan terhadap Negara Palestina.
Peran Perlawanan Palestina dalam Hilangnya Keseimbangan Strategis Rezim Zionis
Perlawanan Palestina, khususnya Hamas, selama pertempuran Badai Al-Aqsa memainkan peran penting dalam mendorong rezim Zionis kehilangan keseimbangan strategisnya. Perlawanan ini secara langsung menargetkan sistem pencegahan Zionis dan menjadi faktor utama kelelahan jangka panjang di bidang militer, ekonomi, sosial, dan politik, sehingga Tel Aviv terpaksa beralih dari perencanaan strategis ke sekadar “manajemen krisis”.
Sebagai faktor tekanan regional dan internasional, perlawanan menyingkap rapuhnya kondisi internal Zionis dan memperparah krisis-krisis internal serta eksternal. Di sisi lain, kekerasan terhadap warga sipil, kebijakan kelaparan, pengusiran massal, dan penghancuran luas Gaza memicu kemarahan global dan memperluas tekanan serta sanksi internasional terhadap Tel Aviv.
Dalam konteks ini, pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahwa “perang telah menempatkan Israel dalam kondisi internasional terburuk dan ia ingin mengembalikan Israel ke posisinya” tidaklah berlebihan. Yossi Verter, analis politik Zionis di harian Haaretz, menulis bahwa Trump “menyelamatkan Israel dari bunuh diri politik”.
Skenario Masa Depan
Penghentian perang di Gaza dan resolusi Dewan Keamanan terkait pengelolaan wilayah tersebut selama dua tahun ke depan memberikan solusi parsial bagi pendudukan Zionis, namun tidak mampu menyelesaikan seluruh masalah Tel Aviv karena faktor-faktor internal penyebab hilangnya keseimbangan strategis masih tetap ada.
Jika kondisi internal dan internasional rezim Zionis berlanjut seperti sekarang, terdapat tiga skenario yang mungkin terjadi di masa depan.
Pertama, Tel Aviv memanfaatkan jeda perang, dukungan pemerintah Amerika Serikat, dan rencana Trump untuk memulihkan sebagian keseimbangan, menyelenggarakan pemilu Knesset, membentuk kabinet baru, mengurangi perpecahan internal, mencapai kesepakatan regional, dan melanjutkan normalisasi. Namun, keseimbangan ini tetap rapuh karena pola pikir rezim Zionis tidak mampu memberikan konsesi nyata kepada rakyat Palestina dan tetap bersikeras pada normalisasi berbasis dominasi, bukan kesetaraan.
Kedua, berlanjutnya hilangnya keseimbangan strategis akibat perpecahan internal, melemahnya struktur pemerintahan, kesalahan membaca lingkungan strategis, serta penerapan kebijakan agresif yang memicu kemarahan global dan mempercepat erosi sistem pencegahan Tel Aviv.
Ketiga, runtuhnya keseimbangan strategis secara luas akibat dominasi kelompok Talmudis dan ekstrem, serta meluasnya keputusan-keputusan perang yang keliru dan penggunaan instrumen intervensi langsung di kawasan, yang memperluas lingkaran konflik dan memperdalam kelelahan rezim Zionis.
Secara keseluruhan, sistem politik dan pola pikir ideologis rezim Zionis telah menjadikan Tel Aviv sebagai entitas yang kehilangan keseimbangan strategis. Krisis struktural, rapuhnya sistem pencegahan, dan lemahnya kontrol internal menciptakan potensi ledakan krisis di masa depan. Oleh karena itu, euforia Zionis pascaperang Gaza hanyalah jeda sementara yang rapuh, yang dengan cepat akan berubah menjadi ketidakstabilan strategis kronis dan berkelanjutan bagi Israel. (*)
Sumber: Mehr News
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf












