Search

Eskalasi Bentrokan di Selatan dan Timur Yaman; Proyek Bersama Barat, Arab, dan Zionis

Perkembangan terbaru di Yaman merupakan bagian dari strategi bersama Uni Emirat Arab, Amerika Serikat, Inggris, dan rezim Zionis yang bertujuan memperkuat pengaruh di pelabuhan-pelabuhan strategis, mengamankan kepentingan Tel Aviv, serta menguasai pulau-pulau dan sumber daya minyak di wilayah selatan dan timur Yaman. (Mehr News).

BERITAALTERNATIF – Surat kabar Lebanon al-akhbar dalam sebuah laporan menyebutkan bahwa dinamika yang terjadi di selatan dan timur Yaman, mulai dari Aden hingga Hadramaut, Shabwah, dan Al-Mahrah, mencerminkan perubahan mendalam dalam keseimbangan kekuatan di kawasan. Laporan tersebut menegaskan bahwa apa yang berlangsung selama sepuluh hari terakhir jauh melampaui konflik lokal antara milisi dan pasukan setempat, dan telah berubah menjadi upaya menyeluruh untuk mendefinisikan ulang peta pengaruh di negara itu.

“Dewan Transisi Selatan” baru-baru ini, dengan dukungan terbuka dari Uni Emirat Arab dan kemungkinan dukungan terselubung dari Amerika Serikat, Inggris, dan rezim Zionis, bergerak memperluas pengaruhnya di sejumlah wilayah kaya minyak dan pusat-pusat strategis Yaman. Wilayah tersebut mencakup bandara, pelabuhan, dan jalur lintasan penting di Aden, pesisir Hadramaut, Al-Mahrah, dan Shabwah. Langkah ini dinilai menyerupai kudeta bertahap yang direncanakan secara sistematis terhadap kelompok yang dikenal sebagai “Dewan Kepemimpinan Presiden”, serta menjadi pemaksaan de facto pembagian wilayah guna mempersiapkan deklarasi pemisahan.

Dukungan Uni Emirat Arab dalam konteks ini tidak lagi terbatas pada bantuan finansial dan persenjataan bagi Dewan Transisi Selatan. Dukungan tersebut kini mencakup pelatihan militer, penyediaan kemampuan intelijen dan teknis tingkat tinggi, serta koordinasi operasional yang memungkinkan dewan tersebut bergerak cepat di selatan dan timur Yaman. Secara lahiriah, Abu Dhabi memanfaatkan motivasi unsur dan pimpinan dewan itu untuk mewujudkan proyek pemisahan. Namun pada kenyataannya, perkembangan ini merupakan bagian dari strategi bersama Emirat, Amerika, Inggris, dan Israel yang bertujuan memperkuat pengaruh di pelabuhan, jalur laut, pulau-pulau, dan sumber minyak di selatan serta timur Yaman. Situasi ini dapat memberi tekanan yang semakin besar terhadap Sana’a dan membatasi peran aktifnya dalam mendukung Gaza serta menghadapi Amerika Serikat, Inggris, dan rezim Zionis secara langsung.

Penarikan diri Saudi secara lahiriah dan perubahan posisi Riyadh yang semakin kompleks di Yaman, seiring meluasnya pengaruh Uni Emirat Arab melalui alat-alat lokalnya, menjadi faktor lain dalam dinamika Yaman. Dalam kondisi ini, tampaknya Arab Saudi kehilangan kemampuannya mengendalikan perilaku kelompok-kelompok lokal yang berafiliasi dengannya. Akibatnya, Riyadh dan kelompok-kelompok terkait berada dalam posisi defensif yang belum pernah terjadi sebelumnya di provinsi-provinsi Yaman yang diduduki. Mereka tampak terkejut oleh perkembangan ini dan terpaksa menyerahkan posisi, kamp, serta gudang senjata mereka tanpa perlawanan kepada pasukan bayaran Uni Emirat Arab. Sejumlah pengamat berpendapat bahwa terpecahnya pengambilan keputusan politik, militer, dan intelijen di Riyadh telah mendorong mundurnya Arab Saudi dan kelompok-kelompoknya. Hal ini kontras dengan Uni Emirat Arab yang menjalankan pendekatan intelijen dan politik yang lebih terpadu terhadap perkembangan Yaman.

Meski demikian, kalangan politik dan diplomatik di Sana’a meyakini bahwa Arab Saudi tetap memegang kendali utama di provinsi-provinsi Yaman yang diduduki, dan Uni Emirat Arab tidak dapat bertindak tanpa koordinasi sebelumnya dengan Riyadh. Terlebih lagi, bentrokan terbaru terjadi setelah kembalinya Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman dari Washington, penetapan Ikhwanul Muslimin sebagai organisasi “teroris” oleh Amerika Serikat, serta meningkatnya tekanan politik terhadap Sana’a. Menurut pandangan ini, Arab Saudi berkoordinasi langsung dengan Abu Dhabi dan kekuatan internasional terkait perkembangan Yaman, dengan beberapa poros utama sebagai berikut. Pertama, menyingkirkan Partai Al-Islah dan kekuatan yang berafiliasi dengan Ikhwanul Muslimin, yang tidak disukai oleh Mohammed bin Salman. Kedua, meninjau ulang pembentukan lembaga pengganti bagi Dewan Kepresidenan Aden yang dinilai gagal menunjukkan kinerja memadai. Ketiga, memanipulasi kedaulatan Yaman dan memaksakan realitas baru sebelum pelaksanaan kewajiban perdamaian dengan Sana’a, serta menyiapkan pengaturan-pengaturan terhadap Sana’a melalui pasukan bayaran lokal.

Peran Rezim Zionis dalam Krisis Yaman

Al-akhbar menilai rezim Zionis sebagai pihak yang paling diuntungkan dari eskalasi perang di Yaman. Surat kabar ini menjelaskan bahwa pemahaman terhadap peran potensial rezim Zionis dalam perkembangan Yaman menjadi lebih mudah dengan mencermati beberapa indikator penting. Di antaranya adalah pernyataan kesiapan Aidarus Qasim Al-Zubaidi, Ketua Dewan Transisi Selatan, untuk menormalisasi hubungan dengan rezim pendudukan Zionis sebagai imbalan atas pengakuan terhadap “Negara Yaman Selatan”. Selain itu, selama perang Badai Al-Aqsa, muncul pula bisik-bisik dari kalangan Zionis mengenai kemungkinan menjalin hubungan dengan kelompok-kelompok oposisi dan penentang pemerintah Sana’a.

Dalam konteks ini, sejumlah perwira Mossad dilaporkan memasuki Aden dan beberapa provinsi selatan dengan menyamar sebagai jurnalis, serta mengadakan pertemuan dengan para pemimpin kelompok yang saling bermusuhan. Misi mereka diduga berkaitan dengan persiapan dan pengarahan dinamika Yaman saat ini. Kerja sama keamanan dan teknis antara Uni Emirat Arab dan rezim pendudukan Zionis pasca-kesepakatan normalisasi juga bukan rahasia. Melalui kerja sama ini, Uni Emirat Arab memperoleh teknologi pengawasan canggih, keahlian siber, dan pengembangan infrastruktur intelijen. Seluruh faktor tersebut mendukung pergerakan Abu Dhabi di kawasan, termasuk di Yaman, dalam rangka memperluas pengaruh dan menggambar ulang peta keamanan maritim dari Tanduk Afrika hingga Bab Al-Mandab, serta pesisir Hadramaut dan Socotra.

Karena Uni Emirat Arab memiliki hubungan langsung dengan rezim Zionis, negara ini mampu menghubungkan kelompok-kelompok bayarannya dengan rezim tersebut untuk merealisasikan tujuan Abu Dhabi yang sepenuhnya sejalan dengan kepentingan Amerika Serikat dan Inggris. Tujuan-tujuan itu antara lain melemahkan pemerintah Yaman, mencegah Sana’a menjalankan kedaulatan atas pesisir Yaman yang diduduki, serta menjamin keamanan dan navigasi maritim bagi rezim pendudukan. Dengan demikian, perkembangan di selatan dan timur Yaman bukan sekadar insiden terpisah antara milisi lokal, melainkan mencerminkan rekonstruksi pengaruh regional di Yaman yang berpotensi mengarah pada perpecahan negara tersebut. Proyek ini secara signifikan bertemu dan selaras dengan kepentingan Amerika Serikat, Inggris, dan rezim Zionis. (*)

Sumber: Mehr News
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf

 

 

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA