Search

Di Balik Ancaman Aneh Trump; Apakah Amerika Akan Menyerang Nigeria?

Sejumlah sumber media menelusuri latar belakang ancaman mendadak Donald Trump mengenai kemungkinan serangan terhadap Nigeria dan menilai seberapa besar kemungkinan langkah itu benar-benar dilakukan. (Mehr News)

 BERITAALTERNATIF – Situs analisis Al-Araby Al-Jadeed dalam laporannya menulis bahwa ancaman mengejutkan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terhadap Nigeria menimbulkan banyak pertanyaan mengenai motivasi Washington dalam mempertimbangkan tindakan militer. Seperti biasa ketika Trump tiba-tiba melibatkan dirinya dalam suatu isu, berbagai tanda tanya pun muncul mengenai apa tujuan AS di balik ancaman tersebut.

Laporan itu menambahkan bahwa gagasan tentang serangan ke Nigeria diperkuat oleh pernyataan sejumlah anggota Kongres dan kelompok-kelompok evangelis yang dekat dengan Trump. Meski pemerintah Abuja berupaya menanggapi klaim Trump, bahkan Presiden Nigeria Bola Tinubu meminta pertemuan dengan Trump, ketegangan tidak mereda. Trump justru terus meningkatkan tekanan dan bahkan meminta persiapan untuk tindakan militer di Nigeria.

Trump dan Prioritas Mendadak terhadap Nigeria

Salah satu pejabat militer AS yang tidak disebutkan namanya mengatakan kepada Reuters bahwa beberapa anggota militer memperkirakan Trump mungkin akan mengambil langkah tertentu setelah Senator Ted Cruz berbicara dalam beberapa kesempatan pada September dan Oktober lalu mengenai kondisi umat Kristen di Nigeria. Cruz menuduh para pejabat Nigeria membiarkan “genosida terhadap umat Kristen” yang menurutnya telah menyebabkan puluhan ribu korban jiwa selama 15 tahun terakhir.

Victoria Coates, pejabat pemerintahan Trump yang kini bekerja di Heritage Foundation, mengatakan kepada Reuters bahwa sebagai salah satu produsen minyak utama, Nigeria seharusnya mampu menjamin keamanan demi memastikan perusahaan minyak internasional dapat beroperasi dengan aman di wilayah tersebut.

Sementara itu, CNN pada Senin malam mengutip dua sumber yang menyatakan bahwa Trump sedang dalam perjalanan menuju Florida pada Jumat lalu ketika ia melihat laporan Fox News tentang penargetan umat Kristen di Nigeria. Laporan itu membuat Trump marah dan ia langsung meminta informasi tambahan. Setelah Trump mengunggah pesan di media sosial yang menyebut kemungkinan tindakan militer, para komandan Komando Militer Amerika Serikat di Afrika, AFRICOM, disebutkan dipanggil secara mendadak.

Bulama Bukarti, aktivis hak asasi manusia Nigeria dan pakar keamanan serta pembangunan, menyatakan keraguannya terhadap klaim Trump dalam wawancara dengan CNN. Ia menilai bahwa pernyataan Trump merupakan penyederhanaan berbahaya terhadap situasi keamanan yang kompleks di Nigeria. Bukarti menegaskan bahwa klaim adanya pembunuhan massal umat Kristen oleh kelompok ekstremis justru mendistorsi kenyataan dan berpotensi memperdalam ketegangan di negara yang sudah menghadapi tekanan besar.

Upaya Trump Menjadi Pemimpin Gerakan Kristen Dunia

Al Jazeera menulis bahwa setelah pembunuhan Charlie Kirk, aktivis sayap kanan pendukung pemerintahan Trump beberapa minggu lalu, Trump meningkatkan upayanya untuk mengubah perannya dari sekadar pemimpin populis di Amerika menjadi sosok pemimpin gerakan kanan Kristen global.

Dalam pidato pertamanya pada masa jabatan kedua di Majelis Umum PBB, Trump secara simbolis dan tidak resmi menampilkan diri sebagai pemimpin kanan Kristen Barat. Dalam pidatonya ia fokus pada apa yang ia sebut sebagai “penindasan terhadap umat Kristen” dan mengecam PBB karena dianggap gagal melindungi kebebasan beragama, khususnya umat Kristen di seluruh dunia.

Trump menyerukan para pemimpin dunia untuk berusaha “melindungi agama Kristen”. Tahun lalu, ia menggelar kampanye pemilu dengan janji memerangi apa yang ia sebut sebagai “intoleransi terhadap Kristen”, dan tahun ini ia membentuk sebuah komite khusus serta mengeluarkan perintah eksekutif untuk melindungi kebebasan beragama.

Sementara itu, Hudson, seorang pakar hubungan internasional dalam wawancara dengan Al Jazeera, menyebut langkah Trump itu sebagai tindakan simbolis. Namun, ia tidak menutup kemungkinan bahwa Gedung Putih dapat melakukan serangan terbatas untuk menunjukkan keseriusan Trump dan memengaruhi opini publik dalam negeri.

Perubahan Fakta Lapangan oleh Trump

Organisasi Armed Conflict Location & Event Data (ACLED), sebagai lembaga pemantau krisis, merilis laporan mengenai data pembunuhan warga sipil di Nigeria. Menurut laporan itu, antara Januari 2020 hingga September lalu, lebih dari 20.400 warga sipil terbunuh dalam berbagai serangan. Dari jumlah tersebut, 317 korban terkait serangan yang menargetkan umat Kristen, sedangkan 417 korban berasal dari serangan terhadap umat Muslim.

Nnamdi Obasi, analis keamanan sekaligus penasihat senior di International Crisis Group, menjelaskan kepada CNN bahwa kelompok ekstremis di timur laut Nigeria telah menyerang baik umat Kristen maupun Muslim. Mereka juga menyebabkan ketakutan di wilayah mayoritas Muslim di barat laut. Di sisi lain, komunitas petani yang didominasi umat Kristen di beberapa bagian Nigeria tengah juga mengalami kekerasan dari kelompok bersenjata.

Ia menegaskan bahwa pada kenyataannya, di sebagian besar wilayah Nigeria, umat Kristen dan Muslim hidup berdampingan dengan damai. Laporan tentang penganiayaan besar-besaran dan genosida terhadap umat Kristen dianggap sebagai kesimpulan yang berlebihan dan memperbesar masalah yang sebenarnya sangat kompleks.

Bahkan Ken Ilouma Asogwa, juru bicara Partai Buruh yang menjadi oposisi pemerintah, mengatakan kepada CNN bahwa meskipun pemerintah Nigeria dianggap gagal melindungi warganya secara memadai, tidak ada bukti yang mendukung klaim Trump bahwa umat Kristen secara khusus berada dalam ancaman pembantaian yang disengaja.

Nigeria memiliki lebih dari 232 juta penduduk dengan sekitar 250 kelompok etnis. Mayoritas Muslim tinggal di wilayah utara dan mayoritas Kristen di wilayah selatan. Kedua komunitas ini telah sama-sama menjadi korban kekerasan kelompok seperti Boko Haram dan ISIS cabang Afrika Barat. Di Nigeria tengah, konflik antara petani Kristen dan penggembala yang mayoritas Muslim sering terjadi karena perebutan lahan dan sumber air. Sementara itu, di barat laut, kelompok bersenjata kerap menyerang desa-desa dan menculik warga untuk meminta tebusan. (*)

Sumber: Mehr News
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf

 

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA