BERITAALTERNATIF.COM – Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah menggerakkan pasar hanya dengan kata-kata sejak perang Iran dimulai. Namun minyak, obligasi, dan ekonomi riil tunduk pada hukum fisika, bukan Truth Social.
Pada pukul 06:49 pagi waktu New York, Senin 23 Maret, dalam rentang satu menit saja, sekitar 6.200 kontrak berjangka minyak—senilai sekitar 580 juta dolar—diperdagangkan. Transaksi itu tidak didahului oleh pengumuman, rilis data, atau pernyataan pejabat The Fed. Hanya sebuah taruhan besar dan sangat tepat waktu bahwa harga minyak akan segera turun.
Lima belas menit kemudian, pukul 07:04, Trump mengumumkan di Truth Social bahwa AS dan Iran telah melakukan “PEMBICARAAN YANG SANGAT BAIK DAN PRODUKTIF” untuk mengakhiri perang.
Harga minyak turun 15% dalam satu jam, pasar saham global bertambah nilai hingga 1,7 triliun dolar dalam hitungan menit, dan pihak yang melakukan transaksi satu menit sebelum pengumuman itu meraup keuntungan besar.
Iran membantah adanya pembicaraan tersebut, dan dalam 24 jam harga minyak kembali naik.
Mesin “Gaslighting”
Untuk memahami apa yang dilakukan pemerintahan Trump terhadap pasar global sejak 28 Februari, penting memahami pola transaksi yang di Wall Street disebut TACO: “Trump Always Chickens Out”.
Istilah ini muncul saat perang tarif tahun lalu, ketika Trump berulang kali mengumumkan kebijakan besar lalu diam-diam menariknya kembali. Polanya sederhana: Trump menaikkan tensi → pasar panik → Trump meredakan → pasar naik → orang dalam mendapat keuntungan.
Ketika Selat Hormuz tertutup, harga minyak cenderung naik. Namun saat Trump memberi sinyal “perdamaian”, pasar optimis selat akan dibuka kembali sehingga harga turun.
Jeda antara pernyataan Trump dan bantahan Iran biasanya hanya beberapa jam—namun bernilai miliaran dolar bagi mereka yang tahu pernyataan itu akan muncul.
Kata-Kata Trump vs Realitas Minyak
Siklus ini terjadi berulang:
Pertama, 9 Maret: Trump menyebut perang “hampir selesai” → minyak turun lebih dari 6% dalam satu jam.
Kedua, 10 Maret: klaim AS mengawal tanker (yang ternyata tidak benar) → minyak anjlok 17% dalam hitungan menit.
Ketiga, 23 Maret: klaim “pembicaraan produktif” → minyak jatuh 15% sebelum akhirnya naik lagi.
Analis mulai menyadari pola ini. Jim Bianco dari Bianco Research menyatakan bahwa pernyataan Trump kini menjadi “noise putih” bagi pasar—tidak lagi dipercaya.
Mengapa Trump Melakukan Ini?
Pengelolaan narasi pasar ini terkait langsung dengan kelangsungan politik.
Kepala Staf Gedung Putih Susie Wiles memperingatkan bahwa kenaikan harga minyak dan bensin bisa menjadi “bencana” bagi Partai Republik dalam pemilu paruh waktu.
Sentimen konsumen AS jatuh ke titik terendah dalam 12 tahun. Indeks saham S&P 500 juga turun di bawah level sebelum pemilu.
Namun ada paradoks: dengan menekan harga minyak melalui pernyataan, pemerintah justru menghilangkan tekanan pasar yang bisa memaksa penyelesaian konflik.
Dengan kata lain, manipulasi ini juga menjadi jebakan yang memperpanjang perang.
Ketika Pasar Berhenti Percaya
Awalnya pasar masih bereaksi kuat. Namun lama-lama tidak.
Pertama, 9 Maret: penurunan harga bertahan sampai penutupan pasar.
Kedua, 23 Maret: penurunan 15% hanya bertahan kurang dari 24 jam.
Ketiga, 26 Maret: setelah Iran menolak proposal gencatan senjata → minyak melonjak lagi.
Pasar saham AS mengalami penurunan beruntun selama lima minggu—terpanjang dalam hampir empat tahun.
Saham teknologi besar ikut turun: Nvidia -2,2%, Amazon -4%, dan Meta -4%.
Sektor konsumsi juga terpukul: Starbucks -4,8%, Chipotle -4,1%, dan Norwegian Cruise Line -6,9%.
Putusan Pasar Obligasi
Sinyal paling penting justru datang dari pasar obligasi AS.
Biasanya saat krisis, investor membeli obligasi pemerintah AS sebagai aset aman. Namun kini yang terjadi justru sebaliknya—investor menjualnya.
Yield obligasi 10 tahun naik dari 3,97% menjadi 4,44%. Yield 30 tahun bahkan sempat menembus 5%. Ini menunjukkan pasar tidak percaya konflik akan segera berakhir.
Mengapa Ini Terjadi?
Tiga alasan utama: Pertama, inflasi meningkat. Harga minyak naik lebih dari 55% sejak perang → investor menuntut imbal hasil lebih tinggi.
Kedua, defisit AS membengkak. Defisit diproyeksikan 1,9 triliun dolar, utang nasional 39 triliun dolar, dan biaya perang sudah lebih dari 200 miliar dolar
Ketiga, The Fed tidak bisa bertindak. Tidak bisa menurunkan suku bunga karena inflasi akibat minyak.
Hasilnya: risiko inflasi, jangka waktu, dan geopolitik menumpuk sekaligus dalam obligasi AS.
Petrodollar Terancam
Perang ini juga menguji sistem petrodollar—di mana perdagangan minyak global menggunakan dolar AS.
Jika sistem ini melemah, dampaknya besar bagi kekuatan ekonomi AS.
Ekonomi Riil Mulai Panas
Harga bensin AS naik dari sekitar $3,40 menjadi lebih dari $4,20 per galon, solar naik 50% dibanding tahun lalu, dan bahan bakar jet hampir dua kali lipat. Ini bukan angka yang bisa diubah dengan pernyataan di media sosial.
Jurang April
Langkah-langkah darurat mulai habis: pelepasan cadangan minyak terbesar dalam sejarah, pelonggaran sanksi sementara, dan subsidi dan kebijakan logistik. Namun semua itu hanya solusi sementara.
Produksi minyak global diperkirakan kehilangan hingga 10 juta barel per hari pada pertengahan April.
Siapa yang Diuntungkan?
China muncul sebagai pihak yang paling siap: ketergantungan pada Hormuz kecil, cadangan minyak terbesar di dunia, dan diversifikasi energi luas.
Perusahaan baterai China naik nilai lebih dari $70 miliar sejak perang.
Munculnya “Petroyuan”
Iran mulai mempertimbangkan transaksi minyak menggunakan yuan China, bukan dolar. Setiap transaksi seperti ini menggerus dominasi dolar AS dalam perdagangan global.
Kesimpulan
Trump mungkin bisa menggerakkan pasar dalam jangka pendek dengan pernyataan. Namun pasar mulai tidak percaya, realitas fisik (pasokan energi) tidak bisa dimanipulasi, dan tekanan ekonomi terus meningkat.
Pada akhirnya, bukan kata-kata yang menentukan—melainkan realitas ekonomi dan geopolitik. (*)
Sumber: Al Mayadeen












