BERITAALTERNATIF.COM – Kantor Informasi Pemerintah Gaza menyatakan bahwa kelaparan kini telah melanda seluruh wilayah Gaza. Mereka mengecam rezim Israel karena secara sengaja merekayasa kelaparan untuk membunuh dan mengusir warga sipil, sekaligus mengkritik Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang dinilai hanya berdiam diri.
Kepala Kantor Informasi Pemerintah Gaza Dr. Ismail Al-Thawabta menegaskan bahwa situasi kemanusiaan di wilayah tersebut memburuk dari hari ke hari.
Dia menyoroti bahwa meskipun PBB secara resmi telah mengumumkan status kelaparan di Kota Gaza dua minggu lalu, hingga kini tidak ada tindakan nyata untuk menghentikan bencana itu.
Dalam wawancara dengan Al Jazeera, ia mengatakan komunitas internasional hanya sebatas mengeluarkan pernyataan dan simbolis belaka, tanpa ada tekanan sungguh-sungguh terhadap penjajah untuk mencabut blokade, membuka perbatasan, dan mengizinkan bantuan kemanusiaan masuk.
Al-Thawabta menekankan bahwa kelaparan kini meluas ke seluruh wilayah Gaza, bukan hanya di Kota Gaza, seiring Israel meningkatkan kampanye kelaparan paksa dan pengusiran massal.
Menurutnya, Israel memberlakukan pembatasan ketat terhadap bantuan, hanya mengizinkan 14% dari kebutuhan penduduk yang masuk. Akibatnya, ratusan ribu orang menghadapi kelaparan parah.
“Ini bukan krisis sementara, tetapi akibat langsung dari pengepungan dan genosida sistematis yang dilakukan penjajah dengan dukungan penuh Amerika. Mereka menghancurkan pasar, infrastruktur, dan memblokir bantuan kemanusiaan,” ujarnya.
Dia memperingatkan bahwa strategi “merekayasa kelaparan” bertujuan melemahkan ketahanan rakyat sipil dan memaksa pengungsian besar-besaran.
Ia menyebut kebijakan sistematis mencegah makanan, menghalangi bantuan, dan menghancurkan pasar jelas dimaksudkan untuk mematahkan keteguhan rakyat Gaza.
Menggunakan kelaparan sebagai senjata, sambungnya, adalah pelanggaran berat hukum internasional, setara dengan kejahatan perang dan genosida.
“Komunitas internasional harus segera bertindak menghentikan kejahatan ini dan meminta pertanggungjawaban Zionis,” tambahnya.
Ia juga menyoroti dampak kampanye Israel yang memaksa lebih dari satu juta warga Palestina dari Kota Gaza dan wilayah utara menuju selatan.
Pemindahan paksa ini justru memperburuk kelaparan, karena wilayah selatan sudah hancur dan kekurangan pangan, air, serta tempat berlindung.
Laporan organisasi internasional juga menegaskan bahwa tidak ada area aman di selatan. Daerah seperti Al-Mawasi sangat padat, kekurangan air, tidak memiliki sistem pembuangan limbah, bahkan tidak cukup ruang untuk tenda.
Al-Thawabta menjelaskan, Gaza memerlukan setidaknya 600 truk bantuan setiap hari. Namun dalam 35 hari terakhir hanya 3.188 truk yang masuk, padahal kebutuhan mencapai 21.000 truk. Itu berarti hanya 15% dari kebutuhan dasar yang terpenuhi.
Ia menambahkan, pasokan terbatas yang masuk pun sering kali tidak berisi bahan pokok penting. Israel melarang telur, daging, ikan, produk susu, buah, sayuran, dan suplemen gizi yang sangat dibutuhkan anak-anak, ibu hamil, serta orang sakit masuk ke Gaza.
Data resmi menunjukkan 361 warga meninggal akibat kelaparan dan malnutrisi, termasuk 130 anak-anak.
Al-Thawabta menuding PBB lalai menjalankan kewajibannya, karena hanya terbatas pada deklarasi tanpa tindakan nyata. “Sekadar menyatakan ada kelaparan tanpa aksi berarti ikut serta dalam tragedi Gaza,” tegasnya.
Dia mendesak PBB segera mengaktifkan mekanisme hukum internasional untuk menuntut pihak-pihak yang menghalangi bantuan, serta memastikan distribusi berlangsung secara transparan.
Selain itu, ia menyerukan negara-negara Arab dan Islam agar meningkatkan tekanan politik dan diplomatik terhadap Israel, serta membuka jalur udara dan laut guna mengirimkan makanan dan obat-obatan dengan segera. (*)
Sumber: Tasnim News
Penerjemah: Ali Hadi Assegaf
Editor: Ufqil Mubin












