BERITAALTERNATIF.COM – Perubahan sikap Donald Trump menuju perang dengan Iran bukanlah penyimpangan tak sengaja dari kebijakan America First, melainkan hasil tekanan di balik layar dari jaringan keuangan dan politik pro-Zionis.
Asal-usul yang ganjil dari tindakan Amerika Serikat dalam mengeksekusi secara ilegal seorang kepala negara asing—yang juga merupakan pemimpin spiritual bagi banyak Muslim Syiah di dunia—dalam sebuah perang berkepanjangan yang hanya didukung 21 persen warga Amerika, dapat ditelusuri ke November dan Desember 2024.
Saat itu, Trump membuat keputusan personalia Gedung Putih yang tampak biasa: menunjuk Howard Lutnick sebagai Menteri Perdagangan dan Scott Bessent sebagai Menteri Keuangan, serta tidak lagi melibatkan Robert Lighthizer, Perwakilan Dagang AS pada masa jabatan pertamanya.
Lighthizer dikenal sebagai pemikir kebijakan yang menentang “perdagangan bebas” dan mendukung tarif untuk mengembalikan lapangan kerja ke Amerika. Sebaliknya, Lutnick dan Bessent berasal dari Wall Street dan jaringan Zionis Yahudi yang sejak 1980-an mempromosikan perdagangan bebas melalui penunjukan di Gedung Putih, pendanaan lembaga pemikir, dan dukungan akademik.
Saat penunjukan tersebut, Lighthizer telah memperingatkan bahwa kebijakan America First mungkin tidak akan menjadi prioritas bagi orang-orang yang sepanjang kariernya justru menentangnya. Ia bahkan berkata: “Saya tidak tahu—saya tidak tahu bagaimana para miliarder berpikir… Saya belum pernah menjadi salah satunya.”
Namun, yang terjadi jauh lebih buruk dari yang ia perkirakan. Penyingkiran Lighthizer dan pengangkatan Lutnick serta Bessent secara efektif mengooptasi platform America First yang menjadi dasar kemenangan Trump. Alih-alih menguatkan produksi domestik dan mengurangi ketergantungan luar negeri, yang terjadi justru kebalikannya: ekspansi kekuasaan global, pembunuhan pemimpin asing, dan keterlibatan dalam perang.
Hal ini dipengaruhi oleh lingkaran yang diwakili Lutnick dan Bessent—yakni jaringan Zionis yang memanfaatkan obsesi Trump terhadap investasi asing dan eksploitasi sumber daya untuk mendorongnya ke dalam perang global demi kepentingan Israel.
Keinginan kebijakan Trump terlihat jelas kurang dari tiga bulan setelah pelantikannya yang kedua. Pada April, atas saran Lutnick dan Bessent, ia menerapkan tarif seragam yang kemudian dibatalkan oleh Mahkamah Agung AS. Kebijakan ini menciptakan ketidakpastian pasar dan menaikkan biaya hidup, serta merugikan usaha kecil.
Namun, tarif tersebut tampaknya bukan sekadar kebijakan, melainkan alat negosiasi. Tujuan utamanya adalah menarik investasi asing melalui pertukaran teknologi, serta mengamankan eksploitasi sumber daya luar negeri melalui kesepakatan komersial atau intervensi militer.
Trump juga disebut sangat terobsesi dengan investasi asing, yang menurutnya bisa mencapai $22 triliun selama masa jabatannya. Sebagian besar investasi ini diarahkan ke kecerdasan buatan dan berkontribusi besar terhadap pertumbuhan ekonomi AS.
Selain itu, Trump juga fokus pada eksploitasi sumber daya negara lain. Setelah peristiwa penculikan Presiden Venezuela Nicolás Maduro, ia menyatakan keinginan untuk menguasai minyak Venezuela dan memaksimalkan keuntungan dari sumber daya tersebut. Lutnick bahkan menambahkan bahwa Venezuela juga memiliki baja, aluminium, dan mineral penting.
Pendekatan serupa terlihat di Afrika dan Kaukasus. Dalam konflik di Republik Demokratik Kongo dan Rwanda, serta Armenia dan Azerbaijan, Trump disebut mendorong kesepakatan yang membuka akses terhadap sumber daya alam dengan dalih perdamaian.
Perubahan arah Trump ini dikaitkan dengan pengaruh jaringan Zionis yang menggunakan kekuatan finansial untuk menarik dan memengaruhi aktor politik demi kepentingan mereka.
Pada awalnya, Trump bukan pilihan utama jaringan ini. Mereka lebih mendukung kandidat seperti Joe Biden, Kamala Harris, atau Nikki Haley. Namun, perubahan terjadi setelah gelombang protes di kampus-kampus elite AS terhadap tindakan Israel di Gaza.
Protes tersebut memicu kekhawatiran di kalangan elit keuangan dan militer yang memiliki hubungan dengan Israel, sehingga mereka mulai beralih mendukung Trump sebagai kandidat yang paling berpeluang menang.
Sejumlah tokoh keuangan besar kemudian memberikan dukungan, termasuk Bill Ackman, David Sacks, Paul Singer, dan lainnya. Dukungan ini diikuti dengan pertemuan antara Trump dan para eksekutif Wall Street.
Seiring waktu, retorika Trump juga berubah. Ia mulai mendukung kebijakan yang berlawanan dengan basis pendukungnya, seperti memperluas visa tenaga kerja asing dan mengambil sikap keras terhadap protes pro-Palestina serta Iran.
Bagi sebagian pendukungnya, langkah ini awalnya dianggap strategi politik. Namun setelah pemilu 2024, menjadi jelas bahwa pengaruh jaringan Zionis ini sangat besar dalam menentukan agenda pemerintahannya, bahkan mengorbankan platform kampanyenya sendiri.
Langkah pertama dalam proses ini adalah penempatan orang-orang kunci dalam pemerintahan. Ini termasuk pengangkatan Marco Rubio sebagai Menteri Luar Negeri, Susie Wiles sebagai Kepala Staf Gedung Putih, serta sejumlah tokoh lain yang memiliki hubungan erat dengan jaringan Zionis.
Di luar pemerintahan, pengaruh juga dijalankan melalui lembaga pemikir dan media. Jurnalis Bari Weiss, misalnya, menggunakan platformnya untuk mempromosikan agenda serupa dan bahkan berupaya menarik Wakil Presiden J.D. Vance ke dalam lingkaran tersebut. (*)
Sumber: Al Mayadeen












