Search

Bagaimana Netanyahu Menjadikan Sydney sebagai Alat untuk Menarik Yahudi

Insiden Pantai Bondi di Australia menunjukkan bahwa upaya memanfaatkan peristiwa kekerasan untuk kepentingan politik, terutama ketika tidak selaras dengan fakta kemanusiaan dan bukti di lapangan, pada akhirnya akan berujung pada kegagalan. (Mehr News).

BERITAALTERNATIF – Hanya beberapa jam setelah serangan pada 14 Desember 2025 terhadap perayaan Hanukkah di Pantai Bondi, Sydney, yang menewaskan dan melukai sejumlah warga Yahudi, Benjamin Netanyahu dalam sebuah acara di Akademi Kepolisian rezim Zionis mengklaim, “Tempat paling aman bagi orang Yahudi di dunia adalah Israel.” Ia juga memperingatkan bahwa “akan ada lebih banyak serangan,” sebuah pernyataan yang dinilai bertentangan dengan fakta. Menurut para pengamat, pernyataan ini merupakan bagian dari taktik lama Netanyahu, yaitu memanfaatkan setiap insiden anti-Yahudi di dunia untuk mendorong orang Yahudi bermigrasi ke wilayah pendudukan.

Namun, data justru menyampaikan cerita yang sepenuhnya berbeda. Berdasarkan laporan Pusat Riset dan Informasi Knesset yang dirilis pada Oktober 2025, lebih dari 125 ribu Zionis telah meninggalkan wilayah pendudukan antara tahun 2022 hingga pertengahan 2024. Angka ini dinilai sebagai kehilangan modal manusia terbesar dalam sejarah rezim tersebut.

Gilad Kariv, Ketua Komite Imigrasi Knesset, menyebut fenomena ini sebagai “tsunami” dan memperingatkan, “Ini bukan lagi sekadar tren, ini adalah tsunami. Banyak Zionis sedang membangun masa depan mereka di luar Israel dan semakin sedikit yang kembali.” Media berbahasa Ibrani Walla juga mempertanyakan taktik ini dalam laporan kritis berjudul “Israel adalah tempat paling aman bagi Yahudi? Statistik bertentangan dengan klaim Netanyahu.”

Pertanyaannya kemudian, sejauh mana tingkat pelarian Zionis dari wilayah pendudukan dalam beberapa tahun terakhir hingga Netanyahu harus berjuang keras untuk mengatasi krisis migrasi balik ini?

Dari Gerakan Anti-Reformasi Yudisial hingga Perang Multi-Front; Pelarian Tanpa Henti

Proses keluarnya Zionis, baik dari kalangan elit maupun masyarakat umum, dari wilayah pendudukan dapat ditelusuri dalam tiga tahap berbeda, yang masing-masing berkaitan dengan dinamika politik dan keamanan tertentu.

Tahap pertama dimulai dengan gelombang protes besar menentang reformasi yudisial Netanyahu pada awal 2023. Berdasarkan penelitian para akademisi Universitas Tel Aviv yang dipublikasikan di Yedioth Ahronoth, pada Januari 2023 arus keluar Zionis meningkat tajam. Periode ini, yang diwarnai demonstrasi jalanan belum pernah terjadi sebelumnya, menunjukkan bahwa sebagian Zionis tidak lagi optimistis terhadap masa depan politik negara tersebut.

Tahap kedua terbentuk setelah Operasi Thufan Al-Aqsa pada 7 Oktober 2023 dan dimulainya perang Gaza. Peristiwa ini tidak hanya memicu guncangan keamanan besar, tetapi juga menghancurkan kepercayaan banyak Zionis terhadap konsep jaminan keamanan. Menurut data Biro Statistik Pusat rezim Zionis, sepanjang 2024 saja sekitar 83 ribu Zionis meninggalkan wilayah pendudukan, sementara hanya sekitar 32 ribu orang yang masuk ke wilayah tersebut.

Tahap ketiga berlanjut dengan meluasnya serangan agresif terhadap Lebanon dan Suriah, serta serangan ke Iran pada tahun berjalan. Berdasarkan data Yedioth Ahronoth yang diterbitkan pada September 2025, sekitar 79 ribu Zionis meninggalkan wilayah pendudukan dalam satu tahun terakhir, sementara hanya 21 ribu yang kembali. Surat kabar The Times of Israel pada Oktober 2025 melaporkan bahwa tren ini kemungkinan akan berlanjut hingga akhir tahun, sehingga total mereka yang pergi antara 2022 hingga 2025 akan melampaui 170 ribu orang.

Sebagai contoh, media rezim Zionis baru-baru ini melaporkan bahwa meskipun satu tahun telah berlalu sejak gencatan senjata, sekitar setengah dari penduduk pemukiman Zionis Kiryat Shmona di perbatasan utara Palestina pendudukan dengan Lebanon belum kembali ke rumah mereka, dan mereka yang telah kembali pun tidak mendapatkan dukungan yang memadai.

Yang menjadikan migrasi balik ini sebagai krisis strategis adalah profil para migran. Berdasarkan riset yang dipublikasikan di media Ibrani seperti Calcalist dan Yedioth Ahronoth, mayoritas dari mereka adalah kaum muda, elit teknologi, dokter spesialis, dan pemegang gelar doktor.

Dalam tujuh bulan pertama 2024, Zionis memindahkan simpanan senilai 7 miliar dolar ke luar negeri, yang menunjukkan terjadinya pelarian modal bersamaan dengan pelarian otak. Salah satu indikator penting dari tren ini adalah lonjakan tajam permohonan kewarganegaraan asing. Menurut laporan Kementerian Dalam Negeri Jerman, dalam sembilan bulan pertama 2024 lebih dari 18 ribu Zionis mengajukan permohonan kewarganegaraan Jerman, lebih dari dua kali lipat dibandingkan tahun 2023. Berdasarkan estimasi penelitian yang dipublikasikan di media Ibrani, sekitar satu juta Zionis memiliki paspor asing atau memenuhi syarat untuk mendapatkannya.

Dari Ancaman Strategis hingga Kegagalan Menarik Yahudi; Biaya Berat Pelarian

Para ahli menilai dampak ekonomi dan sosial dari migrasi balik ini jauh melampaui angka statistik semata. Berdasarkan penelitian Universitas Tel Aviv, keluarnya tenaga kerja berkeahlian tinggi selama 20 bulan, dari Januari 2023 hingga September 2024, telah menghilangkan sekitar 1,5 miliar shekel, atau sekitar 400 juta dolar, dari pendapatan pajak rezim Zionis. Angka ini menjadi lebih signifikan jika mengingat bahwa sektor teknologi, meskipun hanya mencakup kurang dari 8 persen tenaga kerja, pada 2021 menyumbang 35 persen dari total penerimaan pajak penghasilan.

Selain pukulan ekonomi, dampak demografis juga sangat terasa. Menurut Biro Statistik Pusat, tingkat pertumbuhan penduduk turun dari 1,6 persen pada 2023 menjadi sekitar 1,1 persen pada 2024, yang merupakan tingkat terendah dalam beberapa dekade terakhir. Penurunan ini terutama disebabkan oleh neraca migrasi yang negatif. Populasi Zionis yang tinggal di wilayah pendudukan pada September 2025 mencapai 10,1 juta orang, tetapi angka ini mencakup 216 ribu warga asing dengan izin tinggal jangka panjang yang untuk pertama kalinya dimasukkan dalam statistik, sebuah langkah yang dinilai sebagai upaya menutupi penurunan nyata populasi Yahudi.

Pada saat yang sama, upaya Netanyahu untuk menarik Yahudi diaspora mengalami kegagalan besar. Berdasarkan data Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi OECD yang dirilis pada November 2025, imigrasi ke wilayah pendudukan berdasarkan Undang-Undang Kepulangan pada 2024 turun sekitar 30 persen dibandingkan 2023. The Times of Israel pada September tahun ini melaporkan bahwa jumlah imigran baru bahkan tidak mampu menggantikan setengah dari jumlah mereka yang pergi.

Sergio DellaPergola, pakar demografi rezim ini, mengatakan kepada The Times of Israel bahwa meskipun ada peningkatan relatif imigrasi dari negara-negara Barat, angka tersebut “sangat moderat” dan jauh dari puncak historis.

Salah satu gambaran paling jelas dari kondisi tidak aman ini adalah evakuasi besar-besaran para pemukim. Lebih dari 60 ribu orang dievakuasi dari wilayah perbatasan utara dan selatan, dan banyak di antaranya setelah lebih dari satu tahun masih takut untuk kembali. Situasi ini bertentangan secara nyata dengan klaim “tempat paling aman.”

Eric Michelson, pejabat senior Kementerian Imigrasi, dalam sidang Knesset Oktober 2025 mengakui, “Kami bukan kementerian untuk mencegah migrasi balik dan kami tidak memiliki kewenangan untuk menghentikannya.” Pengakuan ini menunjukkan bahwa kabinet Netanyahu tidak memiliki rencana untuk menghadapi “tsunami” ini.

Sydney; Alasan untuk Menutupi Ketidakamanan Total Rezim Israel

Netanyahu hanya beberapa jam setelah serangan bersenjata oleh seorang ayah dan anak yang terpengaruh ISIS terhadap perayaan Hanukkah Yahudi, segera memanfaatkan insiden tersebut secara politik. Dalam pernyataan resmi kantornya, ia mengklaim, “Tempat aman bagi orang Yahudi di dunia adalah Israel,” dan dengan nada mengancam menambahkan, “Kami tahu akan ada serangan lain.”

Media-media Ibrani bereaksi terhadap klaim usang dan propaganda ini. Walla dalam laporan berjudul “Israel adalah tempat paling aman bagi Yahudi? Statistik bertentangan dengan klaim Netanyahu” menulis bahwa Netanyahu mengundang Yahudi di luar negeri untuk datang, tetapi data dan realitas keamanan justru mempertanyakan klaim tersebut.

Anthony Loewenstein, aktivis Yahudi Australia, dalam wawancara dengan Democracy Now menyebut Netanyahu sebagai “sosok yang memalukan” dan mengatakan bahwa apa yang dilakukan Israel di Palestina membahayakan semua orang, termasuk Yahudi, serta bahwa penggunaan identitas Yahudi untuk membenarkan kekerasan brutal justru memicu antisemitisme global.

Kontradiksi mendasar dalam klaim Netanyahu adalah bahwa rezim Zionis selama 77 tahun keberadaannya tidak pernah benar-benar merasakan keamanan. Lebih dari 60 ribu pemukim yang dievakuasi tidak dapat kembali ke rumah mereka, ribuan roket dan drone yang ditembakkan ke wilayah pendudukan dalam 15 bulan terakhir, serta ekonomi yang terus melemah meskipun menerima bantuan miliaran dolar, semuanya menunjukkan bahwa keamanan tidak pernah benar-benar ada di wilayah tersebut.

Dengan demikian, upaya Netanyahu menjadikan insiden Sydney sebagai alat untuk menarik Yahudi tidak hanya gagal, tetapi juga semakin menyingkap paradoks mendalam proyek Zionis. Laporan Knesset tentang “tsunami” keluarnya lebih dari 125 ribu Zionis dalam tiga tahun, pengakuan Kementerian Imigrasi tentang ketiadaan strategi, serta kritik media Ibrani seperti Walla, menunjukkan bahwa bahkan di dalam wilayah pendudukan sendiri, narasi “Israel aman” tidak lagi dipercaya.

Pada akhirnya, yang terjadi adalah sebuah lingkaran cacat. Kebijakan agresif dan ekspansionis rezim Israel memicu meningkatnya antisemitisme global, namun alih-alih bermigrasi ke wilayah pendudukan, orang Yahudi justru meninggalkannya dan memilih bertahan di negara-negara Barat. (*)

Sumber: Mehr News
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf

 

 

 

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA