Search

Bagaimana Iran Memaksakan Persamaan Kekuatan kepada Washington?

Amerika Serikat kini berunding dengan Iran di Muscat mengenai sesuatu yang sebelumnya diklaim Washington telah dihancurkan sepenuhnya. Di sisi lain, Iran sama sekali tidak tunduk pada tekanan yang dilancarkan pihak Amerika. (Mehr News)

BERITAALTERNATIF –  Jaringan berita Al Mayadeen menyoroti meningkatnya ketegangan regional akibat ancaman Amerika Serikat terhadap Iran serta dimulainya perundingan Muscat. Media ini menulis bahwa Teheran, setelah perang selama 12 hari, menyadari bahwa kemampuan nuklir, politik, dan militernya—yang didukung oleh sokongan regional serta strategis—memberinya ruang gerak yang luas. Kondisi ini memungkinkan Iran untuk menentukan sendiri kerangka dan batasan dialog di meja perundingan, sekaligus menolak segala upaya untuk mengaitkan berkas nuklirnya dengan isu lain, seperti rudal balistik atau kebijakan regional, khususnya dukungan terhadap gerakan perlawanan. Menurut Iran, isu-isu tersebut merupakan urusan internal yang tidak dapat dicampuri oleh kekuatan asing mana pun.

Dengan demikian, perang 12 hari tersebut telah mendefinisikan ulang persamaan kekuatan antara kedua belah pihak dan memaksakan syarat serta pengaruh Iran dalam keseimbangan kekuatan regional.

Al Mayadeen menambahkan bahwa saat ini Amerika Serikat sedang bernegosiasi dengan Iran mengenai sesuatu yang sebelumnya mereka klaim telah dimusnahkan. Di sisi lain, Perdana Menteri rezim Zionis, Benjamin Netanyahu, juga menyadari bahwa ia telah mengalami kekalahan dalam perang 12 hari yang disebut sebagai “perang eksistensial Israel”. Dalam konteks ini, Republik Islam Iran berhasil mengubah program nuklirnya menjadi alat tekanan yang efektif serta menunjukkan kemampuannya untuk memainkan peran aktif dalam perundingan internasional tidak langsung dengan Washington di Muscat. Strategi Teheran memaksa Washington untuk duduk di meja perundingan sesuai dengan syarat Iran, sekaligus menantang tekanan militer dan sanksi yang selama ini diberlakukan Amerika.

Oleh karena itu, penegasan Iran untuk membatasi ruang lingkup perundingan hanya pada berkas nuklir merupakan sikap negosiasi yang bertujuan mempermudah pencabutan sanksi Amerika. Langkah ini dijalankan dengan mencegah meluasnya agenda perundingan agar tidak mencakup isu lain, seperti sekutu regional Iran maupun program rudalnya.

Di sisi lain, sikap Republik Islam Iran yang tetap membuka pintu dialog dan jalur diplomatik justru menempatkan Washington di bawah tekanan internasional yang semakin besar apabila ingin mengambil langkah keras atau militer terhadap Iran.

Mengapa Rudal Iran Tidak Masuk dalam Agenda Perundingan?

Setelah membahas dampak perang 12 hari terhadap kerangka kekuatan Iran serta keberhasilannya memaksakan syarat terkait berkas nuklir dalam perundingan, muncul pertanyaan mengapa Iran sama sekali tidak menerima dimasukkannya program rudal ke dalam agenda negosiasi.

Menurut Al Mayadeen, berkas nuklir merupakan kerangka perundingan yang terstruktur, terkait dengan kesepakatan internasional yang telah ada serta mekanisme yang jelas. Kerangka ini memungkinkan pengaitan antara komitmen nuklir Iran dengan pencabutan sanksi Amerika terhadap Teheran. Sebaliknya, Iran memandang program rudalnya sebagai bagian dari doktrin pertahanan dan kedaulatan nasional, sehingga menolak menjadikannya bahan negosiasi karena hal tersebut secara langsung membahayakan keamanan nasionalnya.

Selain itu, memasukkan program rudal ke dalam perundingan akan memperluas daftar syarat yang dipaksakan Amerika dan membuat jalur kesepahaman semakin rumit. Sebaliknya, membatasi pembahasan pada berkas nuklir akan menjaga ruang perundingan tetap berada dalam satu arena diplomatik yang jelas dan terfokus.

Apakah Iran Mengeluarkan Berkas Sekutu Regional dari Perundingan?

Opsi Amerika Serikat untuk merundingkan sekutu-sekutu regional Iran dipandang sebagai bentuk pemerasan politik dan pelanggaran terhadap kedaulatan Iran. Inilah alasan utama mengapa Teheran menolak memasukkan isu tersebut ke dalam kerangka perundingan. Selama hubungan antara Iran dan sekutu-sekutunya dibangun atas dasar kesamaan ideologis dan pilihan strategis bersama, upaya Washington untuk memperlakukan sekutu Iran sebagai “alat tekanan atau berkas negosiasi” merupakan langkah keliru yang hanya akan memicu ketegangan lebih besar.

Mengapa Iran Membatasi Perundingan pada Berkas Nuklir?

Kegagalan berulang Amerika Serikat dalam upayanya mengubah sistem pemerintahan Iran atau menciptakan perubahan mendasar—terutama di tengah bayang-bayang pemberontakan bersenjata baru-baru ini—telah memberi Iran posisi yang lebih kuat untuk memasuki meja perundingan.

Pembatasan perundingan hanya pada berkas nuklir merupakan upaya untuk menegaskan kembali posisi kuat Iran, baik dari sisi kedaulatan, kondisi internal, maupun kebijakan luar negeri. Langkah ini juga menjadi tantangan langsung terhadap pengaruh Amerika Serikat yang selama ini berusaha memaksakan syarat-syaratnya kepada pihak lain.

Di akhir laporannya, Al Mayadeen menegaskan bahwa apa pun hasil yang dicapai dari perundingan ini, satu fakta tetap tidak berubah, yaitu Republik Islam Iran berhasil memaksakan syarat-syaratnya, bertahan menghadapi berbagai bentuk tekanan, dan pada akhirnya mencapai sebuah persamaan kekuatan yang jelas.  (*)

Sumber: Mehr News
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf

 

 

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA