Search

Bagaimana Inflasi Berkepanjangan Sedang Menghapus Kelas Menengah Amerika?

Seluruh data menunjukkan bahwa kelas menengah di Amerika Serikat kini berada dalam tekanan terberat dalam beberapa dekade. Melemahnya kemampuan finansial, meningkatnya utang rumah tangga, serta melonjaknya biaya perumahan telah mengguncang fondasi kehidupan kelas menengah di negara itu. (Mehr News)

BERITAALTERNATIF – Meskipun Amerika tampak berada dalam kondisi ekonomi makro yang cukup stabil—seperti pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) dan angka pengangguran yang rendah—namun sebuah realitas lain sedang terjadi secara perlahan tetapi konsisten di lapisan sosial menengah: erosi kelas menengah yang belum pernah terjadi sebelumnya. Laporan yang diterbitkan oleh Wall Street Journal hanyalah salah satu gambaran tentang kondisi ini. Ketika berbagai data dan analisis independen ditinjau, terlihat jelas bahwa proses yang berlangsung bersifat struktural dan jauh lebih dalam, sehingga tidak dapat diatasi hanya dengan perubahan suku bunga atau paket kebijakan jangka pendek.

Kenaikan Harga 25 Persen dalam Lima Tahun

Menurut data Departemen Tenaga Kerja AS, indeks harga konsumen sejak 2020 hingga akhir 2025 meningkat sekitar 25 persen. Kenaikan ini bukan hanya memecahkan rekor inflasi puluhan tahun terakhir, tetapi juga menciptakan rasa jenuh dalam masyarakat Amerika—sebuah fenomena yang banyak disebut sebagai “kelelahan inflasi”. Walaupun laju inflasi menurun dibanding tahun 2022, harga barang-barang tetap terus naik. Artinya, inflasi yang melambat bukan berarti barang-barang kembali murah.

Harga kebutuhan sehari-hari seperti kopi, daging giling, biaya perbaikan mobil, hingga jasa teknis rumah tangga terus meningkat. Data dari National Retail Federation menunjukkan biaya kebutuhan pokok keluarga kelas menengah kini meningkat sekitar 4000 dolar per tahun dibanding sebelum pandemi.

Definisi Luas Kelas Menengah, Namun Tekanannya Sama

Menurut pusat penelitian Pew Research Center, kelas menengah Amerika terdiri dari keluarga dengan pendapatan antara 66.000 hingga 200.000 dolar per tahun. Rentang ini terlihat sangat lebar, namun hampir seluruh keluarga dalam kelompok ini mengalami tekanan biaya hidup yang sama beratnya.

Sebuah survei dari Universitas Michigan menunjukkan bahwa 44 persen keluarga kelas menengah merasa kondisi finansial mereka memburuk dibanding tahun lalu, sementara hanya 23 persen yang merasa ada perbaikan. Perbedaan ini menunjukkan krisis kepercayaan ekonomi—sesuatu yang bahkan jarang terlihat pada masa resesi resmi.

Perubahan Pola Konsumsi, Sinyal Bahaya untuk Ekonomi

Perilaku belanja keluarga kelas menengah pada tahun 2025 berubah drastis. Perusahaan-perusahaan ritel besar turut mencatat perubahan tersebut. Toko Target melaporkan penurunan pendapatan dari barang-barang non-esensial seperti pakaian dan dekorasi rumah. Rantai restoran seperti Wingstop mengatakan bahwa pelanggan kelas menengah kini menunjukkan pola berhemat yang sebelumnya hanya umum terlihat pada masyarakat berpendapatan rendah.

Sebaliknya, Walmart—yang dikenal dengan harga-harganya yang jauh lebih murah—mengalami lonjakan pelanggan dari semua kelompok pendapatan. Para analis menyebut fenomena ini sebagai “migrasi konsumen menuju barang lebih murah”, sebuah gejala yang biasanya terjadi pada masa resesi. Namun kini terjadi ketika ekonomi secara teknis tidak berada dalam resesi.

Kisah Lapangan: Dari Mematikan Lampu hingga Mencari Pekerjaan Kedua

Penggambaran terbaik tentang krisis ini muncul dari pengalaman warga. Dalam laporan Wall Street Journal, seorang ibu tunggal di Atlanta menjelaskan bahwa setelah membeli rumah, ia harus menerima suku bunga hipotek sebesar 6,5 persen—angka yang membuat cicilan rumahnya melonjak ribuan dolar. Kenaikan pajak properti sebesar 1000 dolar dan biaya asuransi yang meningkat 600 dolar memaksanya mengurangi perlindungan asuransi dan mencari pekerjaan kedua untuk bertahan hidup.

Di Connecticut, beberapa keluarga harus mematikan lampu hampir sepanjang hari untuk menghemat listrik. Tingkat penghematan ekstrem seperti ini, terutama di kalangan kelas menengah, menggambarkan betapa dalamnya tekanan ekonomi yang mereka hadapi.

Hilangnya Tabungan Era Covid-19

Pada masa 2020–2022, bantuan pemerintah dan berkurangnya pengeluaran akibat pembatasan membuat keluarga Amerika mampu menabung sekitar 500 miliar dolar. Namun data terbaru dari Moody’s Analytics menunjukkan bahwa hampir semua tabungan tersebut telah habis pada 2023–2025. Kenaikan harga makanan, biaya sewa rumah, serta layanan dasar telah menghabiskan simpanan tersebut dan membuat banyak keluarga kini tanpa cadangan finansial sama sekali.

Kenaikan gaji—walaupun di beberapa negara bagian mencapai lebih dari 5 persen—tetap tidak mampu mengejar laju kenaikan harga kumulatif. Para analis mengatakan bahwa inflasi telah menciptakan “harga baru” yang tidak akan kembali ke masa sebelum pandemi.

Krisis Perumahan: Pukulan Paling Berat untuk Kelas Menengah

Biaya perumahan adalah penyebab utama terkikisnya kelas menengah Amerika. Suku bunga tinggi yang diberlakukan Federal Reserve untuk menekan inflasi membuat bunga kredit rumah mencapai level tertinggi dalam tiga dekade. Rumah yang beberapa tahun lalu dapat dibeli dengan cicilan bulanan 1500 dolar, kini membutuhkan lebih dari 2500 dolar. Asuransi rumah yang semakin mahal memperparah krisis.

Laporan dari Brookings Institution menunjukkan bahwa porsi biaya perumahan dalam pendapatan keluarga kelas menengah pada 2025 mencapai level tertinggi sejak 1980-an.

Dampak Politik: Biaya Hidup Jadi Penentu Pilihan Pemilu

Kenaikan biaya hidup menjadi isu utama pemilu 2024 dan tetap berpengaruh pada tingkat kepuasan publik terhadap pemerintahan Donald Trump. Janji menurunkan biaya hidup dan mengendalikan inflasi menjadi fokus kampanye dan tetap menjadi tolok ukur utama bagi para pemilih.

Profesor ekonomi Harvard, Stefanie Stantcheva, menyatakan bahwa warga Amerika merasa “standar hidup mereka mengalami kemunduran”. Walaupun statistik resmi tidak sepenuhnya mencerminkan kenyataan tersebut, persepsi rakyat—yang dipengaruhi pengalaman sehari-hari—mampu mengubah arah politik negara.

Inflasi Berkepanjangan: Akar Krisis Ekonomi Amerika

Analisis yang diterbitkan Wall Street Journal dan berbagai pusat riset menunjukkan bahwa masalah utama ekonomi Amerika bukan hanya mahalnya harga barang, namun lamanya periode harga mahal tersebut. Inflasi yang bertahan bertahun-tahun membuat kenaikan gaji dan bantuan pemerintah tidak mampu memulihkan daya beli seperti sebelumnya. Akibatnya, kelas menengah—yang selama ini menjadi penyangga stabilitas ekonomi dan sosial—terjebak dalam tekanan yang semakin berat.

Para ekonom kini memperingatkan bahwa bila tren ini terus berlanjut, Amerika akan menghadapi fenomena “penyusutan kelas menengah”, di mana sebagian besar kelompok ini beralih ke kategori berpendapatan rendah.

Seluruh data dan kisah warga menunjukkan bahwa kelas menengah di Amerika saat ini menghadapi tekanan terburuk dalam sejarah modern. Melemahnya kemampuan finansial, meningkatnya utang, hilangnya tabungan, serta melonjaknya biaya perumahan membuat pilar kehidupan kelas menengah semakin rapuh. Krisis ini bukanlah kejadian sementara, melainkan sebuah tren struktural yang berpotensi membawa dampak sosial dan politik serius bagi masa depan Amerika. (*)

Sumber: Mehr News
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf

 

 

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA