BERITAALTERNATIF.COM – Sebuah penelitian menarik berjudul Cara Mengatasi Bias dan Meningkatkan Kepercayaan dalam Analisis Data Media Sosial untuk Manajemen Krisis yang diterbitkan oleh Universitas Hull, Inggris, pada tahun 2024, mengidentifikasi tiga bentuk bias berbahaya yang dapat menutupi kebenaran sebuah tragedi dari pandangan dunia.
Penelitian itu menunjukkan bahwa bahkan data paling berharga sekalipun, bila melewati penyaringan tiga bias ini, akan berubah menjadi gambaran yang terdistorsi dan tidak adil.
Pertama, bias geografis. Bias ini membuat tragedi-tragedi di luar fokus media Barat—misalnya di Timur Tengah, Asia, atau Afrika—seolah tidak pernah terjadi. Jika bencana itu tidak terjadi di “wilayah penting” menurut kacamata Barat, maka dunia seakan menutup mata.
Kedua, bias bahasa. Bias ini mengabaikan suara-suara yang tidak disampaikan dalam bahasa Barat. Jika jeritan dan kesaksian disampaikan dalam bahasa Arab, Persia, atau bahasa lain yang tidak berakar di Eropa atau Amerika, maka seolah-olah tragedi itu tidak pernah eksis di dunia maya dan media internasional.
Ketiga, bias representasi. Bias terakhir ini membuat kenyataan hanya tampil sebagai pertunjukan yang tidak utuh. Dua bias sebelumnya menghasilkan narasi yang berpihak, menampilkan sebagian kecil dari kebenaran, sementara sebagian besar lainnya dikubur dalam diam.
Korban dari Tiga Bias Media
Selama puluhan tahun, tragedi Gaza menjadi contoh paling nyata dari korban tiga bias tersebut. Letaknya di Timur Tengah dan bahasa Arab yang digunakan membuat penderitaan rakyatnya jarang mendapat tempat dalam pemberitaan utama dunia. Jika pun muncul, kisah mereka sering kali dibingkai secara miring dan dangkal. Akibatnya, isu Palestina perlahan mengalami apa yang disebut “bias representasi”—penderitaan yang begitu dalam akhirnya tampak biasa di mata dunia internasional.
Kondisi media seperti itu memberi ruang bagi rezim Zionis untuk melanjutkan proyek pendudukan secara perlahan, dengan dukungan tanpa syarat dari negara-negara Barat.
Bahkan, sebagian negara Arab pun mulai menormalisasi hubungan dengan Tel Aviv, seolah tragedi kemanusiaan di Gaza hanyalah peristiwa jauh yang tidak relevan dengan mereka.
Pengaruh Badai Al-Aqsa
Namun, operasi Badai Al-Aqsa (Tuufan al-Aqsha) pada 7 Oktober datang seperti gempa geopolitik yang mengguncang seluruh tatanan lama. Peristiwa itu meruntuhkan dinding bias geografis dan linguistik, memaksa dunia untuk melihat kenyataan yang selama ini berusaha disembunyikan.
Sejak hari itu, tidak ada lagi cara bagi kekuatan besar untuk menyembunyikan kejahatan perang rezim Zionis di balik sekat-sekat informasi. Dunia menyaksikan, dan kebenaran yang selama puluhan tahun dibungkam kini menyeruak ke permukaan.
Gelombang protes mahasiswa di berbagai universitas dunia—dari Amerika Serikat hingga Eropa—menunjukkan bahwa generasi baru tidak lagi menerima begitu saja narasi arus utama media. Mereka menantang bias representasi dan menolak untuk menjadi penonton pasif atas ketidakadilan yang terjadi.
Bahkan di panggung Perserikatan Bangsa-Bangsa, saat Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu berpidato, banyak kursi dibiarkan kosong—simbol nyata dari merosotnya legitimasi moral rezim tersebut, bahkan di hadapan lembaga-lembaga internasional yang selama ini mengklaim diri netral.
Negara-negara pendukung perjuangan Palestina seperti Yaman, yang dulunya dilanda perang saudara, kini muncul sebagai pemain penting dengan langkah-langkah berani—mulai dari penahanan kapal-kapal milik Israel hingga serangan langsung terhadap pos-pos militernya. Tindakan-tindakan ini menjadi pesan bahwa narasi dunia tidak lagi bisa dikuasai oleh satu pihak.
Walau pembalasan tanpa ampun rezim Zionis setelah 7 Oktober menyebabkan gugurnya puluhan ribu warga sipil, termasuk ribuan perempuan dan anak-anak, serta sejumlah komandan perlawanan, namun peristiwa itu tetap meninggalkan satu pencapaian strategis yang tak dapat dihapus: monopoli narasi media global telah runtuh.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah modern, ketidakadilan terhadap Palestina berdiri di pusat perhatian dunia. Badai Al-Aqsa membuktikan bahwa sekalipun mesin propaganda terbesar di dunia berusaha menutupinya, kebenaran tidak bisa selamanya dikurung di balik tembok bias dan kepura-puraan informasi.
Kini, dunia tak lagi bisa berpura-pura tidak tahu. Tembok keheningan telah runtuh, dan dari reruntuhannya, suara-suara yang selama ini dibungkam mulai terdengar, menggemakan kembali satu pesan abadi: bahwa kebenaran mungkin tertunda, tapi tak akan pernah hilang. (*)
Sumber: Mehr News
Penerjemah: Ali Hadi Assegaf
Editor: Ufqil Mubin












