Search

Apakah Kemandirian Militer Eropa dari Amerika Sebuah Mimpi Jauh atau Kenyataan yang Mulai Mendekat?

Batas waktu dua tahun yang diberikan Washington kepada Eropa untuk mengambil alih beban pertahanan NATO mengungkap tantangan mendalam di bidang struktur, teknologi, dan anggaran yang membuat target tersebut tampak tidak realistis setidaknya dalam waktu dekat. (Mehr News).

BERITAALTERNATIF – Selama beberapa dekade, payung keamanan Amerika menjadi pilar utama pertahanan Eropa. Namun kini Washington di bawah pemerintahan kedua Trump berusaha mengubah keseimbangan tersebut. Pada 5 Desember 2025 (15 Azar 1404), sebuah pertemuan penting digelar di Washington, yang menurut para pengamat bisa menjadi titik balik dalam sejarah keamanan Eropa.

Dalam pertemuan ini, pejabat Pentagon memberi tahu para diplomat Eropa bahwa benua itu harus, dalam dua tahun ke depan yakni hingga 2027, mengambil alih sebagian besar kemampuan pertahanan konvensional NATO, mulai dari pengumpulan intelijen militer hingga sistem rudal. Pesan itu disertai peringatan bahwa jika Eropa tidak mematuhi batas waktu tersebut, Amerika bisa mengurangi keterlibatannya dalam beberapa mekanisme koordinasi pertahanan NATO. Ultimatum seperti ini—yang mengubah pola kerja sama Washington dengan mitra militernya yang paling penting—membangkitkan pertanyaan serius mengenai apakah kemandirian militer Eropa dapat direalisasikan.

Isu mengenai kemandirian dan otonomi militer Eropa dari Amerika bukanlah hal baru. Selama bertahun-tahun para pemimpin Eropa, terutama Presiden Prancis Emmanuel Macron, menekankan perlunya “kemandirian strategis Eropa”. Dalam pidatonya di Sorbonne pada September 2017, Macron menyoroti konsep kedaulatan Eropa dan kemampuan operasional yang mandiri, serta menyerukan pembentukan angkatan bersenjata bersama Eropa. Ia berulang kali menekankan bahwa Eropa tidak dapat selamanya menggantungkan keamanan dirinya pada Amerika Serikat. Namun setelah delapan tahun berlalu, pertanyaan mendasar masih belum terjawab: apakah Eropa benar-benar bisa bertahan tanpa payung keamanan Amerika?

Ultimatum Washington: Tekanan Politik atau Ancaman Serius?

Pesan Pentagon kepada delegasi Eropa di Washington terbilang belum pernah terjadi sebelumnya. Menurut laporan Reuters yang mengutip lima sumber, pejabat Departemen Pertahanan Amerika menyampaikan bahwa mereka tidak puas dengan perkembangan kemampuan pertahanan Eropa sejak invasi besar-besaran Rusia ke Ukraina pada 2022.

Padahal, dalam tiga tahun terakhir, anggaran pertahanan Eropa meningkat cukup drastis. Menurut data Badan Pertahanan Eropa, anggaran pertahanan negara-negara Uni Eropa naik dari 218 miliar euro pada 2021 menjadi 326 miliar euro pada 2024—kenaikan lebih dari 49 persen. Untuk 2025, diperkirakan anggaran itu mencapai 392 miliar euro atau 2,1 persen dari PDB.

Namun Washington menganggap peningkatan tersebut masih jauh dari cukup. Dalam KTT NATO di Den Haag pada Juni 2025, negara-negara anggota sepakat menaikkan anggaran pertahanan hingga 5 persen dari PDB pada 2035, dengan 3,5 persen untuk pertahanan inti dan 1,5 persen untuk infrastruktur pertahanan, keamanan siber, dan bidang terkait. Target ambisius ini menunjukkan bahwa Eropa sendiri menyadari mereka butuh waktu hingga 2030, tetapi kini Pentagon mengajukan tenggat 2027.

Masalahnya, tidak jelas apakah tenggat tersebut merupakan kebijakan resmi pemerintahan Trump atau sekadar pandangan sebagian pejabat Pentagon. Trump selama kampanye 2024 sering mengkritik sekutu Eropa dan bahkan menyatakan akan “mendorong” Vladimir Putin menyerang negara-negara NATO yang tidak membayar kewajiban mereka. Namun saat KTT NATO Juni lalu, Trump justru memuji para pemimpin Eropa karena menyetujui target 5 persen. Kontradiksi ini menunjukkan kebijakan Washington terhadap Eropa masih tidak stabil.

Kesenjangan Kapabilitas: Dari Pertahanan Udara hingga Intelijen Militer

Jika dilihat secara realistis, Eropa masih kekurangan kemampuan vital yang selama puluhan tahun disediakan oleh Amerika. Salah satu kelemahan paling besar terdapat pada kemampuan intelijen, pengawasan, dan pengintaian (ISR).

Menurut evaluasi para analis Eropa, kemampuan ISR berbasis satelit adalah area dengan jurang terbesar. Berdasarkan data Union of Concerned Scientists pada Mei 2023, Amerika memiliki 246 satelit militer, sedangkan seluruh satelit militer negara-negara Eropa anggota NATO hanya berjumlah 49, dengan Prancis memimpin melalui 15 satelit.

Kesenjangan besar ini menunjukkan bahwa Eropa tidak akan mampu membangun pengganti independen untuk kemampuan pengawasan berbasis ruang angkasa Amerika dalam waktu dekat. Rafael Loss dari European Council on Foreign Relations memperingatkan: “Tanpa peningkatan signifikan pada kemampuan ISR berbasis ruang angkasa, upaya lain seperti kemampuan serangan jarak jauh dengan rantai pembunuhan sangat panjang akan menghadapi hambatan besar.”

Pertahanan udara dan rudal adalah masalah kritis lainnya. Pengalaman Ukraina menunjukkan pentingnya pertahanan udara terintegrasi yang dipadukan dengan kemampuan serangan jarak jauh, tetapi Eropa kekurangan sistem perang elektronik canggih untuk menembus pertahanan udara lawan. Uni Eropa memang meluncurkan program ASAP pada 2025 dengan anggaran lebih dari 500 juta euro untuk mempercepat produksi amunisi dan membantu pengisian kembali stok negara anggota, tetapi hasilnya membutuhkan waktu bertahun-tahun.

Dalam bidang komando dan kendali, Eropa masih bergantung pada personel dan sistem Amerika. Di sisi lain, Eropa kekurangan kemampuan tanker udara, transportasi strategis, dan mobilisasi cepat. Menurut Komisaris Pertahanan UE pada Maret 2025, masih dibutuhkan investasi sekitar 70 miliar euro untuk menyesuaikan infrastruktur udara, rel, jalan, dan laut untuk mobilisasi cepat pasukan NATO.

Selain itu, pasukan Eropa selama puluhan tahun didesain untuk bertempur dalam koalisi yang dipimpin Amerika, bukan operasi mandiri skala besar. Bahkan jika kemampuan ISR ditingkatkan, koordinasi operasional antar-angkatan bersenjata Eropa tetap sulit, karena saat ini Amerika lah yang menjamin interoperabilitas melalui integrasi personel, sistem, dan komando.

Hambatan Struktural: Mengapa Tenggat Dua Tahun Tidak Realistis?

Sekalipun Eropa benar-benar ingin mengejar kemandirian militer, ada hambatan struktural yang membuat tenggat 2027 hampir mustahil.

Hambatan pertama: keterlambatan produksi dalam pemesanan peralatan militer. Amerika sendiri membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mengirim sistem-sistem penting seperti Patriot atau F-35. Jika Eropa memesan hari ini, pengirimannya bisa berlangsung hingga awal 2030-an.

Hambatan kedua: keterbatasan kapasitas industri pertahanan Eropa. Laporan Oliver Wyman pada Agustus 2025 menunjukkan bahwa Eropa membutuhkan lebih dari 250.000 insinyur dan teknisi tambahan dalam lima tahun untuk memenuhi kebutuhan industri pertahanan—lebih dari 25 persen tenaga kerja sektor itu saat ini.

Hambatan ketiga: industri pertahanan Eropa sangat terfragmentasi. Tidak seperti Amerika yang terpusat pada beberapa perusahaan besar, Eropa memiliki banyak pemain nasional yang bekerja secara terpisah. Program kerja sama seperti jet tempur generasi keenam SCAF dan tank MGCS yang diluncurkan Macron dan Merkel pada 2017 kini menghadapi hambatan serius. Pada saat yang sama, Italia, Inggris, dan Jepang mengembangkan jet siluman global GCAP secara terpisah, memecah sumber daya yang terbatas.

Hambatan keempat: keterbatasan anggaran. Menambah anggaran pertahanan menjadi 3,5–5 persen PDB berarti memotong sektor publik lainnya. Di Jerman saja, menaikkan 2 persen tambahan berarti menghabiskan 100 miliar euro per tahun. Dengan populasi pensiunan yang meningkat, memotong anggaran sosial bukan keputusan mudah.

Hambatan kelima: kegagalan menyatukan keputusan politik Eropa. Negara-negara Eropa Timur seperti Polandia dan Baltik telah menaikkan anggaran pertahanan dengan cepat, tetapi Eropa Selatan seperti Italia dan Spanyol jauh lebih lambat. Perbedaan ancaman dan prioritas ini menghambat keselarasan strategis.

Kesimpulan

Kemandirian militer Eropa dari Amerika bukanlah tujuan jangka pendek dan bukan pula sekadar slogan politik, melainkan proyek jangka panjang yang menghadapi hambatan dalam aspek struktur, teknologi, industri, dan politik. Meski anggaran pertahanan Eropa meningkat pesat, kesenjangan besar di bidang ISR berbasis satelit, pertahanan udara canggih, komando dan kendali, serta logistik strategis menunjukkan bahwa ketergantungan pada Amerika setidaknya akan berlangsung hingga satu dekade ke depan.

Oleh karena itu, batas waktu 2027 yang diajukan Pentagon lebih merupakan alat tekanan politik ketimbang target operasional. Bahkan program Uni Eropa dengan horizon 2030 pun dinilai sangat ambisius. Pada akhirnya, kemandirian militer Eropa adalah proyek lintas generasi yang membutuhkan waktu panjang, investasi berkelanjutan, reformasi industri mendalam, dan koordinasi politik yang solid. Sampai itu tercapai, payung keamanan Amerika tetap menjadi faktor penentu dalam keamanan benua tersebut.  (*)

Sumber: Mehr News
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf

 

 

 

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA