Search

Apakah Amerika Serikat Akan Melancarkan Serangan Militer ke Venezuela?

Kebijakan luar negeri Amerika Serikat terhadap negara-negara Amerika Latin sejak lama berlandaskan pada teori James Monroe—sebuah doktrin yang dibangun atas prinsip peningkatan tekanan terhadap para rival tradisional Washington di kawasan yang dianggap sebagai “halaman belakang” selatan AS. (Mehr News)

BERITAALTERNATIF – Menurut laporan Al Jazeera, pada Sabtu lalu Presiden AS Donald Trump mengklaim bahwa ia telah menerima rencana operasi militer terhadap Venezuela dari Departemen Pertahanan Amerika serta telah mengambil keputusan terkait kemungkinan intervensi militer tersebut. Namun Trump tidak mengungkapkan seperti apa keputusan itu dan segala detailnya tetap disembunyikan.

Doktrin James Monroe dalam Kebijakan Luar Negeri AS

Teori politik luar negeri James Monroe, Presiden kelima Amerika Serikat sekaligus salah satu pendiri penting negara tersebut, telah menjadi fondasi utama kebijakan Washington terhadap Amerika Selatan sejak pertama kali diperkenalkan. Doktrin Monroe menegaskan bahwa Benua Amerika Selatan adalah wilayah pengaruh Amerika Serikat dan tidak ada kekuatan global mana pun yang diizinkan menanamkan pengaruh atau membangun posisi strategis di kawasan tersebut yang dapat mengancam keamanan nasional AS.

Doktrin ini muncul setelah banyak negara Amerika Selatan merdeka dari kolonialisme Spanyol dan Portugal. Kemunculan doktrin tersebut merupakan sinyal kuat bahwa Washington tidak ingin kekuatan Eropa kembali masuk dan memengaruhi wilayah tersebut serta hendak meneguhkan dominasi AS atas kawasan. Salah satu wujud paling terkenal dari doktrin ini terlihat pada masa Perang Dingin, ketika Presiden John F. Kennedy memerintahkan blokade terhadap Kuba setelah mengetahui rencana Uni Soviet membangun peluncur rudal nuklir di pulau tersebut.

Selain itu, sensitivitas kelompok kanan Amerika—yang menjadi basis elektoral penting bagi Trump—terhadap negara-negara Amerika Selatan sangat tinggi. Mereka menganggap bahwa AS harus dilindungi sebagai sebuah negara “berkulit putih” yang berbasis pada nilai-nilai moral Protestan. Pemikiran-pemikiran seperti milik Samuel Huntington bahkan menyatakan bahwa meningkatnya populasi penutur bahasa Spanyol di AS merupakan ancaman besar bagi identitas nasional kulit putih Amerika.

Kebijakan imigrasi Trump yang keras—mulai dari pembatasan imigrasi dari negara-negara Amerika Selatan, pengetatan perbatasan selatan, hingga deportasi massal—sering dikaitkan dengan pemikiran tersebut. Tahun ini saja, lebih dari dua juta imigran dideportasi.

Apakah Serangan ke Venezuela Tidak Terhindarkan?

Venezuela merupakan salah satu negara pendiri Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) pada tahun 1960. Negara tersebut meraih keuntungan besar selama embargo minyak Arab dalam Perang Oktober 1973. Namun hubungan antara AS dan Venezuela memburuk tajam setelah Hugo Chávez terpilih sebagai presiden pada 1998. Chávez menjalankan kebijakan sosialisme untuk membagi hasil kekayaan minyak kepada masyarakat miskin Venezuela serta mengurangi pengaruh perusahaan asing.

Setelah upaya kudeta gagal pada tahun 2002 dan setelah invasi AS ke Irak pada 2003, Chávez memperkuat hubungan dengan musuh-musuh tradisional AS seperti Iran dan Kuba. Ketegangan ini tidak mereda setelah Chávez wafat dan Nicolás Maduro menggantikannya pada 2013—bahkan semakin memburuk.

AS berulang kali diduga terlibat dalam upaya kudeta, percobaan pembunuhan, hingga upaya penculikan Maduro dengan menggoda pilot jet pribadi sang presiden menggunakan suap besar. Laporan terbaru menyebutkan bahwa sang pilot menolak tawaran tersebut. Pemerintah AS menuduh Maduro korup, otoriter, menekan oposisi, serta memfasilitasi penyelundupan narkoba ke Amerika. Trump bahkan menyebut Maduro sebagai ancaman serius bagi keamanan nasional AS. Selama beberapa pekan terakhir, serangan militer AS terhadap kapal-kapal Venezuela meningkat, menewaskan puluhan orang. Kelompok-kelompok hak asasi manusia mengutuk tindakan tersebut sebagai pembunuhan di luar proses hukum.

Skenario Intervensi Militer AS di Venezuela

Menurut Al Jazeera, berdasarkan cara Trump menangani krisis luar negeri dan gaya kepemimpinannya dalam operasi militer skala terbatas, kemungkinan intervensi AS di Venezuela tampak sulit dihindari. Pertanyaannya kini adalah apakah Trump hanya menginginkan serangan terbatas dengan sasaran kecil, atau apakah ia bermaksud melancarkan operasi besar untuk menggulingkan pemerintahan Nicolás Maduro.

Indikasi yang terlihat menunjukkan bahwa target politik Washington kemungkinan cukup tinggi. Trump tampak ingin menumbangkan pemerintahan Maduro, sesuatu yang selama bertahun-tahun gagal dicapai melalui sanksi, tekanan diplomatik, maupun operasi rahasia. Karena itu, beberapa pengamat menilai bahwa beberapa hari dan minggu mendatang mungkin akan dipenuhi kejutan dalam krisis Venezuela.

Meski serangan AS terhadap Venezuela tampak mudah secara militer, tindakan itu akan membawa konsekuensi serius. Risiko pecahnya perang saudara sangat besar. Selain itu, langkah tersebut berpotensi mengguncang basis politik Trump sendiri jika operasi berlangsung lama, memakan korban besar, atau gagal mencapai tujuan yang telah ia janjikan. (*)

Sumber: Mehr News
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf

 

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA