BERITAALTERNATIF – Mengutip Al-Araby Al-Jadeed, setelah tentara pendudukan Zionis mengepung wilayah selatan Hebron di Tepi Barat bagian selatan, tanda-tanda krisis ekonomi yang melumpuhkan mulai muncul. Salah satu jalur ekonomi paling vital di kota itu nyaris sepenuhnya berhenti berfungsi. Wilayah yang dikepung ini mencakup pusat industri utama Hebron, termasuk pabrik-pabrik, perusahaan, tambang, serta lahan pertanian yang menjadi tulang punggung ekonomi kawasan tersebut. Kondisi ini berdampak langsung pada produksi dan aktivitas perdagangan, sehingga memunculkan tuntutan besar dari para pedagang dan pemilik pabrik agar fasilitas mereka kembali dibuka.
Dalam beberapa hari terakhir, pasukan Zionis memasang dua gerbang besi dan menutup akses yang menghubungkan kawasan industri ke jalan-jalan cabang. Langkah ini memperketat kontrol militer atas wilayah tersebut, memperdalam pengepungan, dan membuat aktivitas ekonomi di kawasan itu benar-benar lumpuh total.
Dampak pengepungan wilayah selatan Hebron paling dirasakan oleh sektor peternakan sapi perah, yang merupakan salah satu pilar ekonomi utama di kawasan tersebut.
Ibrahim Al-Turk, seorang petani setempat, mengatakan kepada Al-Araby Al-Jadeed bahwa kerugian yang dialami para petani semakin besar dan terus meningkat setiap hari. Puluhan ton susu terbuang setiap hari karena pengepungan dan larangan pengangkutan ke pabrik-pabrik serta truk distribusi. Ia menambahkan bahwa puluhan ekor sapi kini terancam mati akibat kekurangan pakan yang parah, sulitnya memperoleh bahan pakan, serta dampak cuaca dingin.
Perang ekonomi sebagai awal pengusiran paksa
Menurut Al-Turk, peternakan di wilayah tersebut sebelumnya memasok sekitar 70 ton susu setiap hari ke berbagai wilayah di Provinsi Hebron. Namun, distribusi itu kini terhenti, menyebabkan kerugian finansial lebih dari 63.500 dolar AS per hari, belum termasuk biaya operasional lainnya. Ia menegaskan bahwa kerugian ini tidak hanya menimpa pemilik peternakan, tetapi juga ratusan pekerja yang menggantungkan hidup mereka pada sektor ini sebagai sumber pendapatan utama.
Al-Turk memperingatkan bahwa jika pengepungan terus berlanjut, kerugian dapat mencapai jutaan shekel dalam beberapa hari ke depan.
Ancaman terhadap rantai produksi
Abdo Idris, Ketua Kamar Dagang dan Industri Provinsi Hebron, mengatakan kepada Al-Araby Al-Jadeed bahwa gangguan terhadap rantai pasok industri mengancam seluruh sektor produksi di provinsi tersebut dan memperparah krisis ekonomi yang sedang berlangsung. Ia menjelaskan bahwa kawasan industri yang kini dikepung merupakan salah satu pusat industri terpenting di Hebron.
Idris menambahkan bahwa puluhan pabrik dan perusahaan besar di wilayah selatan Hebron terpaksa menghentikan operasional mereka dan mengalami kerugian besar.
Ia menegaskan bahwa tujuan sebenarnya dari pengepungan ini adalah “menciptakan kondisi hidup yang tidak stabil bagi masyarakat, memaksa mereka meninggalkan wilayah tersebut, serta meningkatkan tekanan terhadap perekonomian Palestina.”
Pengangguran yang dipaksakan
Terkait besarnya kerugian, Idris menyebutkan bahwa dampak ekonomi yang ditimbulkan sangat signifikan. Namun, karena operasi militer dan pengepungan yang terus berlanjut, tidak tersedia data statistik yang akurat.
Ia menjelaskan bahwa wilayah selatan mencakup fasilitas industri dan operasional yang sebelumnya menyediakan lapangan kerja bagi sedikitnya 7.000 orang. Selain itu, ribuan orang lain bekerja di sektor usaha kecil seperti toko bahan makanan dan kios-kios, yang kini semuanya terpaksa berhenti bekerja akibat pengepungan tersebut.
Pejabat Palestina ini memperingatkan bahwa suasana umum yang ingin dipaksakan oleh penjajah akan mendorong stagnasi ekonomi, mengubah prioritas kerja masyarakat, serta melemahkan minat investasi.
Idris menekankan bahwa tujuan dari langkah-langkah ini adalah “memiskinkan warga Palestina di Hebron, mempersulit kehidupan mereka, dan mengubah kota tersebut menjadi lingkungan yang tidak menarik bagi investasi.”
Ia juga menyebutkan bahwa Kamar Dagang setiap hari berkoordinasi dengan Otoritas Palestina dan Kantor Penghubung Palestina untuk menekan pihak Israel agar mengizinkan masuknya bahan pangan serta membuka kembali toko dan pabrik. Namun, hingga kini, rezim Zionis tidak menunjukkan sikap positif terhadap upaya-upaya tersebut. (*)
Sumber: Mehr News
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf












