BERITAALTERNATIF.COM – Langkah terbaru negara-negara Eropa sebagai pihak dalam perjanjian nuklir Iran 2015 (JCPOA) untuk mengaktifkan kembali mekanisme snapback kembali memanaskan hubungan antara Teheran dan Barat. Dengan mengacu pada Resolusi Dewan Keamanan PBB 2231, tiga negara Eropa—Inggris, Prancis, dan Jerman—memberlakukan kembali sanksi PBB yang sebelumnya dicabut berdasarkan JCPOA, dengan alasan kekhawatiran terhadap aktivitas nuklir Iran.
Namun, Teheran dengan tegas menolak langkah tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan ilegal, bermotif politik, serta pelanggaran nyata terhadap semangat dan teks perjanjian.
Iran menegaskan bahwa apa yang disebut snapback itu adalah tindakan sepihak yang tidak memiliki dasar hukum maupun efek nyata. Para pejabat Iran berpendapat bahwa langkah ini kembali memperlihatkan standar ganda Barat dan keengganannya untuk terlibat dalam diplomasi yang tulus, bahkan bertahun-tahun setelah Amerika Serikat keluar dari kesepakatan tersebut pada 2018.
Di tengah meningkatnya ketegangan ini, Teheran semakin mempererat kerja sama dengan Moskow dan Beijing, menandai pergeseran strategis jangka panjang ke arah aliansi Timur. Beberapa pekan lalu, Iran dan Rusia mulai mengimplementasikan Perjanjian Kemitraan Strategis Komprehensif, yang membuka babak baru kerja sama di berbagai bidang.
Dalam konteks ini, kantor berita Mehr News Agency mewawancarai analis politik asal Amerika yang juga Christopher Helali adalah Sekretaris Internasional Partai Komunis Amerika (ACP), Christopher Helali, yang berpendapat bahwa sanksi snapback hanya akan mempercepat penyelarasan strategis Iran dengan Rusia dan Tiongkok. Menurutnya, langkah ini menandai berakhirnya diplomasi Barat terhadap Iran dan awal dari era baru yang dibentuk oleh kemitraan Timur serta kemandirian nasional.
Dampak Strategis dan Politik
Menurut Helali, aktivasi snapback ini menegaskan bahwa negara-negara Barat tidak pernah sungguh-sungguh tertarik pada solusi diplomatik atas program nuklir sipil Iran. Sejak awal, mereka hanya mencari konfrontasi, tekanan maksimal, dan bahkan aksi militer untuk menciptakan kondisi yang mengarah pada perubahan rezim.
Ia berpendapat bahwa masa depan Iran terikat dengan Timur, bukan Barat. Tidak peduli seberapa keras kelompok reformis Iran berusaha menjual ide mendekat ke Barat, negara-negara Barat akan selalu melihat Iran melalui dua lensa: ketakutan dan kebencian terhadap Islam, serta ketertarikan pada sumber daya alamnya—terutama minyak.
Dampak strategisnya, kata Helali, pertama, negosiasi mengenai JCPOA pada dasarnya sudah berakhir. Meski diplomasi secara formal masih berlangsung, niat baik yang dibangun selama satu dekade terakhir telah memudar.
Kedua, medan konflik kini bergeser dari diplomasi ke bidang ekonomi dan militer. Iran baru saja menghadapi perang agresi selama dua belas hari oleh rezim Zionis dan AS, sehingga memperkuat kemampuan pertahanannya di tengah ancaman serangan baru.
Secara politik, dampaknya sangat besar karena mengubah posisi Iran baik di dalam negeri maupun di panggung global. Iran kini harus lebih serius memikirkan cara bertahan menghadapi agresi Barat yang diperbarui.
Menurutnya, satu-satunya cara bertahan adalah dengan meniru model Korea Utara yang didasarkan pada ideologi Juche (kemandirian) dan kebijakan Songun (militer sebagai prioritas utama).
Pengaruh Snapback
Helali menjelaskan bahwa langkah snapback justru memperkuat hubungan diplomatik dan ekonomi Iran dengan Rusia. Baik Rusia maupun Tiongkok sudah dengan jelas menyatakan di PBB dan forum lainnya bahwa mereka tidak mengakui kembalinya sanksi PBB terhadap Iran yang dipicu oleh langkah tiga negara Eropa menggunakan mekanisme snapback.
Karena itu, Rusia akan tetap mempertahankan hubungan strategisnya dengan Iran di semua bidang. Ia memprediksi bahwa dalam beberapa tahun ke depan Iran akan semakin dekat dengan Rusia, baik secara diplomatik maupun ekonomi, untuk bersama-sama melawan hegemoni AS dan tatanan dunia unipolar, sambil membangun tatanan dunia multipolar yang lebih adil.
Peran Rusia
Helali menilai Rusia akan membantu Iran mengurangi dampak praktis dari sanksi tersebut melalui kerja sama di banyak bidang. Perjanjian baru antara Iran dan perusahaan energi Rusia Rosatom untuk membangun reaktor nuklir kecil senilai 25 miliar dolar AS menunjukkan komitmen Rusia untuk memperdalam hubungan strategis dengan Iran, termasuk di sektor energi nuklir.
Ia juga yakin Rusia akan terus mendukung Iran di PBB dan mendorong penyelesaian damai serta diplomatik atas akar masalah—yaitu keengganan Barat untuk bernegosiasi secara tulus.
Efektivitas Snapback
Karena Rusia dan Tiongkok tidak mengakui sanksi snapback, Helali menilai dampaknya tidak akan terlalu drastis. Iran telah bertahan selama puluhan tahun di bawah berbagai sanksi dan kampanye “tekanan maksimum” dari AS. Dengan semakin eratnya hubungan ekonomi melalui BRICS+, Belt and Road Initiative, dan SCO, Iran akan mampu melewati perang ekonomi ini dan terus mengembangkan kemampuan domestiknya tanpa bantuan Eropa atau AS.
Ini sekaligus menunjukkan ketangguhan Republik Islam Iran, yang dulu oleh beberapa pengamat Barat dan pemimpin rezim Zionis diperkirakan akan runtuh hanya dalam hitungan hari setelah perang ilegal mereka dimulai—namun kenyataannya Iran justru semakin kuat.
Alternatif Diplomatik
Alternatif diplomatik paling realistis, menurut Helali, adalah solusi damai yang berorientasi pada rakyat, yang memperhatikan kebutuhan masyarakat dan negara Iran sekaligus dapat diterima oleh pihak lain. Solusi ini harus membawa perdamaian, kemakmuran ekonomi, dan pembangunan.
Karena sanksi dan tekanan selama ini justru lebih banyak menyakiti rakyat pekerja, maka upaya diplomatik seharusnya fokus pada kesejahteraan mereka. Mengingat peluang diplomasi dengan Barat saat ini tampak kecil, Iran kemungkinan akan memperkuat kerja sama diplomatik dan ekonomi dengan sekutunya seperti Rusia dan Tiongkok, serta memperluas peran dalam organisasi seperti BRICS+ dan jaringan negara-negara Selatan global yang semakin berpengaruh.
Helali menegaskan bahwa aktivasi snapback bukan hanya memperjelas kegagalan diplomasi Barat, tetapi juga menandai munculnya tatanan baru di mana Iran, bersama Rusia dan Tiongkok, mengambil posisi lebih kuat dalam membangun dunia yang lebih seimbang dan multipolar. (*)
Sumber: Mehr News
Penerjemah: Ali Hadi Assegaf
Editor: Ufqil Mubin












