BERITAALTERNATIF.COM – Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan kembali kritiknya terhadap kelalaian berulang pihak Eropa dalam menjalankan kewajiban mereka terkait kesepakatan nuklir (JCPOA/Barjam).
Araghchi meminta Brussel agar berhenti memutarbalikkan fakta dan justru berperan sebagai koordinator yang netral dan adil.
Dalam surat resmi yang ditujukan kepada Kaja Kallas, pejabat tinggi urusan luar negeri Uni Eropa sekaligus koordinator Komisi Bersama Barjam, dia menulis bahwa Eropa harus berhenti melakukan interpretasi sepihak, serta membantu jalannya diplomasi yang tulus demi menjaga semangat multilateral.
Menurutnya, Republik Islam Iran tetap berpegang pada jalur diplomasi dan siap melanjutkan pembicaraan untuk menemukan solusi yang adil dan seimbang.
Ia menekankan, isi surat Kallas yang tertanggal 18 Agustus 2025 telah menyajikan gambaran yang tidak lengkap, bahkan mengabaikan realitas penting.
Araghchi menuduh Eropa menyelewengkan prosedur, menutup mata terhadap pelanggaran berulang Prancis, Jerman, dan Inggris dalam menjalankan kewajiban mereka di bawah Barjam maupun Resolusi 2231 PBB.
Dia mengingatkan bahwa sejak Amerika Serikat keluar dari Barjam, Iranlah pihak pertama yang mengaktifkan mekanisme penyelesaian sengketa, justru karena Eropa gagal memenuhi janji untuk menormalkan hubungan dagang dan ekonomi dengan Teheran. Namun, hal ini sengaja diabaikan dalam narasi Uni Eropa.
Ia juga menolak klaim bahwa mekanisme itu hanya dipakai dua kali (oleh Eropa pada Januari 2020 dan oleh Iran pada Juli 2020).
Araghchi menegaskan, Iran sudah memanfaatkannya lebih awal sejak Mei 2018, yang kemudian memicu rapat Komisi Bersama di level menteri luar negeri.
Dia menilai klaim Eropa bahwa mereka masih mematuhi Barjam hanyalah ilusi. Faktanya, Uni Eropa dan tiga negara Eropa tidak pernah serius menjalankan janji-janjinya, bahkan memperluas sanksi terhadap perusahaan dan institusi Iran, termasuk sektor penerbangan sipil dan perkapalan.
Ia menambahkan, upaya seperti mekanisme INSTEX hanyalah simbolik dan gagal memberikan dampak nyata. Sementara itu, pembicaraan Wina pada 2021–2022 juga gagal akibat sikap keras Amerika serta upaya Eropa mengaitkan negosiasi dengan isu-isu yang tak ada hubungannya.
Araghchi mengkritik keras Uni Eropa karena tidak pernah mengecam serangan ilegal Amerika dan Israel terhadap fasilitas nuklir Iran, padahal tindakan itu jelas melanggar Piagam PBB. Sebaliknya, Eropa justru memberi senjata dan dukungan politik.
Dia menyoroti pernyataan Kallas yang meminta “akhir dari program nuklir Iran”, yang menurutnya bertentangan dengan semangat dasar Barjam. Hal ini membuat peran Uni Eropa sebagai mediator netral semakin dipertanyakan.
Di akhir suratnya, ia kembali menegaskan bahwa setiap upaya Eropa untuk menghidupkan kembali resolusi lama PBB yang sudah dibatalkan lewat Resolusi 2231 adalah sia-sia dan tidak sah.
Araghchi meminta Uni Eropa berhenti dari tafsir sepihak dan justru membuka jalan bagi diplomasi yang tulus. Iran tetap berkomitmen pada dialog, asalkan pihak lain menunjukkan keseriusan nyata dan menghindari langkah-langkah yang bisa merusak peluang perundingan. (*)
Sumber: Tasnim News
Penerjemah: Ali Hadi Assegaf












