Search

15 Krisis yang Dihadapi Warga Gaza di Tengah Genosida Terburuk dalam Sejarah

Kejahatan perang dan genosida yang dilakukan oleh rezim Zionis di Jalur Gaza selama dua tahun terakhir telah memunculkan 15 krisis besar bagi penduduk wilayah itu. Kematian dan luka-luka lebih dari 200 ribu orang hanyalah salah satunya. (Mehr News)

BERITAALTERNATIF.COM – Dalam sebuah laporan panjang, Al Jazeera menyoroti berbagai krisis yang dialami warga Gaza akibat serangan dan kekejaman rezim Zionis. Media itu menulis bahwa penduduk Gaza menderita di bawah tekanan yang disengaja—sebuah kebijakan yang dirancang Tel Aviv untuk menjadikan hidup mereka neraka yang tak tertahankan, demi memaksa rakyat menyerah, menekan gerakan perlawanan Hamas, dan mendorong pengusiran paksa.

Berikut 15 krisis utama yang disebutkan Al Jazeera: Pertama, genosida sistematis yang belum pernah terjadi sebelumnya. Perang terhadap Gaza sejauh ini menewaskan dan membuat hilang lebih dari 76 ribu orang, serta melukai sekitar 169 ribu lainnya. Puluhan ribu warga juga menjadi cacat permanen akibat luka-luka yang mereka alami.

Kedua, kekurangan kebutuhan dasar hidup. PBB dan berbagai lembaga hak asasi manusia menegaskan bahwa rezim Zionis dengan sengaja membuat warga Gaza kelaparan dengan mencegah masuknya makanan dan air bersih. Banyak keluarga hanya mendapat sedikit air setiap hari, memaksa mereka menempuh jarak jauh dan antre panjang untuk mendapatkannya. Israel hanya mengizinkan masuk sejumlah kecil bahan makanan kering, sementara daging, telur, dan susu segar dilarang.

Ketiga, krisis layanan kesehatan dan kekurangan obat-obatan. Sebagian besar rumah sakit di Gaza telah rusak atau ditutup, membuat para korban harus dirawat di lantai atau lorong rumah sakit. Banyak pasien kehilangan akses terhadap obat penting, bahkan 40 persen pasien gagal ginjal dilaporkan meninggal karena tak bisa menjalani dialisis. Obat-obatan dasar seperti antibiotik dan pereda nyeri hampir mustahil ditemukan.

Keempat, penghancuran rumah dan hidup di tenda-tenda. Sebagian besar rumah warga Gaza hancur oleh serangan udara Israel, memaksa penduduk hidup di tenda darurat yang tidak layak huni. Para pengungsi juga sering dipaksa berpindah tempat secara berulang, memperparah penderitaan dan kerugian mereka.

Kelima, tidak ada akses terhadap barang-barang pokok. Sejak dua tahun lalu, Israel melarang masuknya pakaian, sepatu, bahan bakar, semen, baterai, dan panel surya, membuat harga barang melambung tinggi. Banyak warga terpaksa memakai pakaian lama, tidak bisa menggunakan kendaraan karena tak ada bahan bakar, dan tidak mampu memperbaiki rumah karena tak ada material bangunan.

Keenam, krisis transportasi yang parah. Larangan impor bahan bakar serta penghancuran kendaraan membuat transportasi lumpuh. Banyak warga akhirnya menggunakan gerobak dan hewan untuk bepergian, bahkan membakar plastik bekas sebagai bahan bakar darurat.

Ketujuh, larangan keluar masuk Gaza. Sejak awal perang, Israel melarang warga Gaza bepergian atau kembali ke wilayah mereka. Pasien dan korban luka tidak diizinkan keluar untuk berobat di luar Gaza, sebuah pelanggaran nyata terhadap hak dasar manusia untuk berpindah dan mendapatkan perawatan.

Kedelapan, hilangnya pekerjaan dan sumber penghasilan. Seluruh sektor ekonomi Gaza hancur total, bisnis lumpuh, dan ribuan orang kehilangan pekerjaan. Harga barang naik drastis, memaksa banyak keluarga menjual perabot rumah tangga atau bergantung pada bantuan kerabat untuk bertahan hidup.

Kesembilan, penutupan bank dan kekurangan uang tunai. Bank-bank ditutup dan Israel melarang masuknya uang tunai ke Gaza. Akibatnya, warga hanya bisa menarik uang melalui perantara pasar gelap yang mengambil komisi hingga 45 persen. Uang kertas yang rusak dan usang juga membuat transaksi ekonomi semakin sulit.

Kesepuluh, hilangnya layanan publik. Sistem pemerintahan Gaza lumpuh total. Israel bahkan mengakui melakukan pembunuhan terhadap sejumlah pejabat kota, termasuk wali kota. Akibatnya, layanan kebersihan, keamanan, dan infrastruktur dasar seperti pembuangan limbah terhenti sepenuhnya.

Kesebelas, gangguan komunikasi dan internet. Serangan udara telah merusak jaringan komunikasi dan internet, membuat warga sulit menghubungi keluarga mereka atau mencari bantuan. Banyak bisnis digital juga kolaps karena terputus dari jaringan global.

Kedua belas, pendidikan terhenti total. Sekolah dan universitas di Gaza tidak beroperasi selama dua tahun terakhir. Kementerian Pendidikan setempat bahkan terpaksa menggelar ujian kelulusan SMA melalui sistem daring darurat, namun para ahli memperingatkan dampak besar dari hilangnya akses pendidikan bagi generasi muda Gaza.

Ketiga belas, pemadaman listrik total. Israel memutus pasokan listrik sepenuhnya sejak awal perang, membuat rumah sakit, sumur air, dan fasilitas publik bergantung pada generator dengan bahan bakar terbatas. Larangan impor panel surya dan baterai membuat harga energi alternatif melonjak tajam.

Keempat belas, penjarahan bantuan kemanusiaan. Karena tidak ada sistem keamanan yang berfungsi, kelompok bersenjata menjarah truk bantuan di berbagai wilayah. Pemerintah Gaza menuduh Israel terlibat karena banyak peristiwa terjadi dekat posisi pasukan pendudukan, dan beberapa kali tentara Israel justru menyerang aparat lokal yang berusaha menghentikan penjarahan.

Kelima belas, terpecahnya wilayah Gaza. Meskipun luasnya kecil, Israel berupaya memecah Gaza menjadi dua bagian, utara dan selatan, memutus hubungan keluarga dan komunikasi antarwilayah. Setelah sempat terbuka sementara usai gencatan senjata Januari 2024, jalur penghubung kembali ditutup total pada awal bulan ini.

Dari seluruh penderitaan itu, terlihat jelas bahwa penderitaan Gaza bukan sekadar akibat perang, melainkan hasil dari kebijakan sistematis yang dirancang untuk menghancurkan kehidupan di wilayah itu—secara fisik, ekonomi, dan sosial—hingga titik tak bisa pulih. (*)

Sumber: Mehr News
Penerjemah: Ali Hadi Assegaf
Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA