Search

Zaky Satriya Angkat Ingatan Masyarakat Tionghoa Padang dalam Tan Hian Beng, Mei Lin, dan Nama Lainnya

Penulis Zaky Satriya, pemenang sayembara naskah drama Lanjong 2026 sekaligus pencipta naskah Tan Hian Beng, Mei Lin, dan nama lainnya. (Berita Alternatif/Ulwan Murtadho)

BERITAALTERNATIF.COM – Zaky Satriya membawa cerita tentang masyarakat Tionghoa di Kota Padang ke dalam karya teater berjudul Tan Hian Beng, Mei Lin, dan Nama Lainnya.

Karya tersebut berangkat dari ketertarikannya terhadap kebudayaan, kehidupan kota, sejarah lokal, serta hubungan antarmasyarakat di Sumatera Barat.

Zaky merupakan penulis kelahiran Padang, 21 Agustus 2004. Ia tercatat sebagai mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Andalas dan aktif menulis artikel serta esai, sekaligus mengembangkan karya yang berangkat dari pengalaman sosial di Sumatera Barat.

Melalui karya ini, dia memilih masyarakat Tionghoa di Kota Padang sebagai latar untuk membicarakan nama, suara yang tertahan, serta ingatan keluarga yang perlahan hilang.

Atas karyanya ini, ia Menjadi juara pertama Sayembara Naskah Drama (Sandra) Lanjong 2026.

Dalam sinopsis karyanya, Zaky menyebut, cerita bermula dari sebuah studio radio tua di Kampung Pondok.

Di tempat tersebut, sejumlah nama muncul dalam siaran terakhir sebelum sebuah rumah toko diserahkan kepada pemilik baru.

Nama-nama seperti Tan Hian Beng, Mei Lin, Tan Sui Lan, Yim Nio, hingga Niko kemudian menjadi bagian dari ingatan yang coba ditelusuri kembali.

Penemuan sebuah kaset lama kemudian membuka kembali rekaman suara para perempuan Tionghoa yang menyebut nama rumah dan nama resmi mereka.

Dari sana, cerita bergerak pada ketakutan terhadap masa lalu, penyesalan, serta upaya generasi muda untuk menyelamatkan ingatan yang hampir hilang.

Zaky mengatakan salah satu hal yang ingin ia angkat melalui karya tersebut ialah persoalan perubahan nama masyarakat Tionghoa.

“Saya ingin menulis sesuatu yang selama ini tidak diketahui oleh masyarakat Indonesia. Salah satunya itu, pergantian nama Tionghoa tadi,” ujarnya kepada awak media Berita Alternatif di Ladaya Tenggarong pada Sabtu (26/9/2026) malam.

Menurutnya, persoalan tersebut penting karena nama bukan hanya persoalan administratif. Nama juga berkaitan dengan identitas, keluarga, dan ingatan seseorang terhadap asal-usulnya.

Latar cerita kemudian ditempatkan di Padang dan berhubungan dengan peristiwa gempa yang terjadi pada 30 September 2009.

Dalam sinopsis pertunjukan, waktu juga menjadi elemen penting. Jarum jam yang berhenti pada pukul 17.16 merujuk pada waktu terjadinya gempa Padang yang menjadi titik penting dalam cerita.

Ia menjelaskan hilangnya salah satu tokoh perempuan dalam cerita tidak dimaksudkan sebagai kisah penculikan atau tindakan represif aparat.

Kehilangan tersebut berkaitan dengan bencana gempa yang menjadi bagian dari latar peristiwa.

Bagi Zaky, pengalaman masyarakat Tionghoa di Sumatera juga perlu dilihat dari sudut pandang Sumatera sendiri.

Dia melihat karya mengenai masyarakat Tionghoa selama ini kerap dibicarakan melalui perspektif Jawa.

Karena itu, ia ingin menghadirkan pengalaman masyarakat Tionghoa di Padang melalui latar sosial dan sejarah setempat.

“Kenapa sampai saat ini belum ada yang dari Sumatera?” katanya.

Zaky kemudian berinisiatif mengangkat pengalaman masyarakat Tionghoa di Sumatera Barat melalui karya tersebut.

Dia berpendapat, masyarakat Tionghoa di Sumatera memiliki pengalaman dan konteks sosial yang tidak selalu sama dengan masyarakat Tionghoa di Jawa.

“Bahwasannya antara etnis Tionghoa yang ada di Sumatera itu perspektifnya berbeda dengan yang ada di Jawa,” ujarnya.

Ia berharap karya tersebut dapat menjadi ruang bagi penonton untuk mengenal lebih jauh pengalaman masyarakat Tionghoa di Sumatera, khususnya di Kota Padang.

Zaky tidak ingin pertunjukan hanya berhenti sebagai cerita tentang masa lalu, tetapi juga menjadi pintu untuk melihat bagaimana nama, keluarga, identitas, dan ingatan dapat bertahan atau justru hilang dari generasi ke generasi.

“Semoga penonton bisa mempelajari etnis Tionghoa di Sumatera,” harapnya.

Melalui Tan Hian Beng, Mei Lin, dan Nama Lainnya, dia kemudian mencoba menyatukan sejarah lokal, pengalaman masyarakat, dan ingatan keluarga ke dalam sebuah cerita yang dapat dibaca kembali melalui panggung teater. (*)

Penulis: Ulwan Murtadho
Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

This error message is only visible to WordPress admins

Error 400: API key not valid. Please pass a valid API key..

Domain code: global
Reason code: badRequest

Error: No videos found.

Make sure this is a valid channel ID and that the channel has videos available on youtube.com.

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA