BERITAALTERNATIF.COM – Wakil Ketua Dewan Pimpinan Pusat Ahlulbait Indonesia (DPP ABI) Ustadz Ahmad Hidayat menegaskan bahwa perang yang terjadi di Palestina, khususnya sejak peristiwa Badai Al-Aqsa, telah membongkar mitos kekuatan militer Israel yang selama ini diagung-agungkan oleh media Barat.
Dalam pandangannya, konflik berkepanjangan di Palestina merupakan bagian dari proyek global Zionisme yang telah berlangsung sejak berdirinya Israel pasca-Perang Dunia II.
“Setelah Perang Dunia II, kita tahu bahwa proyek pendirian negara Israel didukung oleh negara-negara super power seperti Inggris dan Amerika Serikat. Pendirian itu bukan atas dasar hak bangsa asli, tapi hasil dari proses imigrasi besar-besaran yang menyingkirkan pemilik sah tanah Palestina,” ujar Ustadz Hidayat dalam forum diskusi publik di Balikpapan baru-baru ini.
Dia menjelaskan, sejak awal berdirinya Israel, sebagian besar penduduknya merupakan imigran dari berbagai negara, bukan penduduk asli kawasan tersebut.
Mereka datang dari berbagai wilayah: Eropa Timur, Rusia, Afrika Utara, dan Asia Barat. Tidak ada yang bisa disebut penduduk asli Israel. “Semua ini adalah bentuk kolonisasi modern yang didukung oleh kekuatan global,” tegasnya.
Menurutnya, hal ini menjadi akar dari ketidakadilan yang dirasakan bangsa Palestina hingga saat ini.
“Tanah yang secara historis dimiliki bangsa Palestina direbut secara sistematis dengan justifikasi politik dan dukungan internasional,” ujarnya.
Ia menyinggung Perang Enam Hari tahun 1967 sebagai titik balik trauma negara-negara Arab. Kekalahan enam negara Arab dalam perang enam hari itu menciptakan trauma besar bagi dunia Arab. “Sejak itu, muncul mitos bahwa Israel adalah kekuatan militer yang tak terkalahkan,” ujarnya.
Namun, menurutnya, perang tersebut hanyalah bagian dari propaganda besar untuk memperkuat legitimasi proyek “Israel Raya”—sebuah gagasan ekspansi yang mencakup sebagian wilayah Lebanon, Suriah, Yordania, dan Mesir.
“Proyek Israel Raya masih menjadi agenda laten Zionisme internasional, dan sisa-sisa konflik di wilayah seperti Dataran Golan, Sinai, dan Yerusalem Timur adalah bukti konkret dari agenda itu,” tambahnya.
Ustadz Hidayat menilai bahwa sejak intifada pertama tahun 1987, bangsa Palestina mulai menemukan kembali semangat perlawanan terhadap penjajahan.
“Intifada menjadi simbol kebangkitan rakyat Palestina. Dan hari ini, melalui Badai Al-Aqsa yang dimulai oleh Hamas pada 7 Oktober dua tahun lalu, dunia menyaksikan bahwa kekuatan rakyat bisa mengguncang hegemoni Zionis,” katanya.
Menurut dia, serangan Hamas tersebut bukan sekadar aksi balasan, tetapi bentuk perlawanan terencana terhadap kejahatan kemanusiaan Israel yang terus terjadi selama puluhan tahun.
“Kemenangan bukan diukur dari banyaknya korban atau wilayah yang direbut, tetapi dari keberanian bangsa Palestina mengguncang simbol kekuatan militer yang selama ini dijual oleh Amerika dan sekutunya,” tuturnya.
Ustadz Hidayat juga mengkritik sikap sebagian masyarakat dan media di dunia Islam yang dinilainya kurang aktif menyuarakan narasi perlawanan Palestina.
“Sayangnya, banyak di antara kita yang pasif. Kita kurang serius menyebarkan informasi dan edukasi yang benar tentang perjuangan rakyat Palestina. Padahal perang ini adalah ujian kesadaran umat,” ujarnya.
Ia mengajak umat Islam di Indonesia untuk lebih aktif dalam menyuarakan solidaritas dan dukungan terhadap Palestina, baik melalui media sosial, kegiatan kemanusiaan, maupun pendidikan publik.
“Palestina bukan hanya isu politik, tapi juga ujian moral dan kemanusiaan. Di sana kita melihat siapa yang benar-benar berpihak pada keadilan,” pungkasnya. (*)
Penulis: Ulwan Murtadha
Editor: Ufqil Mubin












