Search

Ustadz Abdul Somad Ingatkan Pentingnya Sanad Keilmuan dalam Belajar Agama

Ustadz Abdul Somad menyampaikan tausiah dalam Tabligh Akbar Tahun Baru Islam 1448 Hijriah di Masjid Agung Sultan Sulaiman, Tenggarong, Minggu (5/7/2026). (Berita Alternatif/Ulwan Murtadho)

BERITAALTERNATIF.COM — Ustadz Abdul Somad (UAS) mengingatkan masyarakat, khususnya generasi muda, agar tidak mempelajari agama hanya melalui internet atau media sosial tanpa bimbingan guru yang memiliki sanad keilmuan yang jelas.

Menurutnya, kemajuan teknologi dapat dimanfaatkan sebagai sarana belajar, namun tetap tidak dapat menggantikan peran ulama dan guru dalam mewariskan ilmu agama.

Pesan tersebut disampaikan UAS saat menyampaikan tausiah dalam Tabligh Akbar memperingati Tahun Baru Islam 1448 Hijriah di Masjid Agung Sultan Sulaiman, Tenggarong, Minggu (5/7/2026).

Dalam ceramahnya, dia menjelaskan bahwa tradisi keilmuan Islam dibangun melalui sanad, yakni mata rantai keilmuan yang bersambung dari seorang murid kepada gurunya hingga sampai kepada Rasulullah Saw.

Menurutnya, sistem inilah yang menjadi kekuatan utama dalam menjaga kemurnian ajaran Islam dari generasi ke generasi.

Ia mencontohkan bagaimana ulama-ulama besar, seperti Imam Bukhari, memperoleh ilmu melalui proses belajar yang panjang dari para guru yang memiliki sanad keilmuan yang jelas, bukan dengan belajar secara instan.

“Ulama-ulama besar itu semuanya belajar kepada guru. Sanad keilmuannya jelas sampai kepada Rasulullah Saw,” ujarnya.

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi informasi, UAS mengakui media digital dapat menjadi sarana dakwah dan pembelajaran agama.

Namun, dia mengingatkan agar masyarakat tetap selektif memilih sumber ilmu dan memastikan guru yang diikuti memiliki pemahaman akidah yang benar.

“Boleh belajar lewat YouTube, tapi ada syaratnya. Gurunya harus berakidah Ahlusunah wal Jamaah,” katanya.

Selain itu, ia mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpengaruh isu-isu negatif yang kerap diarahkan kepada lembaga pendidikan Islam, khususnya pondok pesantren.

Menurutnya, apabila ditemukan dugaan pelanggaran hukum, masyarakat sebaiknya menempuh jalur hukum, bukan menyamaratakan seluruh pesantren.

“Kalau ada yang berbuat salah, kumpulkan buktinya lalu laporkan kepada aparat penegak hukum. Jangan karena satu orang, lalu semua pesantren dipandang buruk,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, UAS juga menilai rendahnya pemahaman agama sering kali menjadi penyebab munculnya perpecahan di tengah masyarakat.

Perbedaan pendapat dalam persoalan fikih, menurutnya, seharusnya disikapi dengan bijaksana karena telah lama menjadi bagian dari khazanah keilmuan Islam.

“Kalau orang paham ilmu agama, dia akan tahu bahwa dalam fikih ada perbedaan pendapat. Jadi tidak mudah saling menyalahkan,” ucapnya.

UAS turut mengingatkan para orang tua agar terus mendekatkan anak-anak kepada ulama dan lingkungan pendidikan agama.

Dia berpendapat, generasi muda yang dibimbing oleh guru yang benar akan memiliki bekal ilmu dan akhlak yang kuat dalam menghadapi tantangan zaman.

Di akhir tausiahnya, ia kembali menegaskan bahwa teknologi seharusnya menjadi jembatan untuk mendekatkan masyarakat kepada ilmu dan ulama, bukan justru menjauhkan mereka dari tradisi belajar yang memiliki sanad keilmuan yang jelas.

“Belajar agama itu harus ada gurunya; ada sanadnya. Dengan begitu, ilmu yang kita pelajari memiliki pegangan yang benar dan dapat dipertanggungjawabkan,” pungkasnya. (*)

Penulis: Ulwan Murtadho
Editor: Ufqil Mubin

Bagikan

Kunjungi Berita Alternatif di :

BACA JUGA

POPULER BULAN INI
INDEKS BERITA