BERITAALTERNATIF.COM – Panggung teater Tan Hian Beng, Mei Lin, dan nama lainnya tidak hanya menyajikan sebuah cerita, tetapi juga membawa penonton menelusuri kembali ingatan tentang sejarah, nama, dan kehidupan masyarakat Tionghoa di Kota Padang.
Karya Zaky Satriya yang disutradarai Ab Asmarandana tersebut dipentaskan di Amphitheater Ladaya Kutai Kartanegara, Sabtu (26/9/2026) malam.
Pertunjukan itu dikemas sebagai teater arsip yang bermula dari sebuah studio radio tua di Kampung Pondok.
Di tempat tersebut, sejumlah nama muncul dalam siaran terakhir sebelum sebuah rumah toko diserahkan kepada pemilik baru. Nama-nama seperti Tan Hian Beng, Mei Lin, Tan Sui Lan, Yim Nio, hingga Niko kemudian menjadi bagian dari ingatan yang coba ditelusuri kembali.
Penemuan sebuah kaset lama kemudian membuka kembali rekaman suara para perempuan Tionghoa yang menyebut nama rumah dan nama resmi mereka.
Dari sana, cerita bergerak pada ketakutan terhadap masa lalu, penyesalan, serta upaya untuk menyelamatkan ingatan yang perlahan hilang.
Sejumlah peristiwa dan jejak sejarah yang menjadi latar cerita dihadirkan melalui percakapan, benda, serta berbagai simbol yang mengajak penonton membaca kembali sesuatu yang pernah terjadi.
Sutradara Ab Asmarandana mengatakan gagasan teater arsip tersebut berangkat dari keinginan untuk memperkenalkan kembali peristiwa yang tidak banyak diketahui masyarakat.
Menurutnya, pertunjukan tersebut setidaknya ingin menginformasikan bahwa berbagai peristiwa pernah terjadi di Padang dan menjadi bagian dari sejarah masyarakat.
“Ini benar-benar teater arsip, di mana ini bagian dari sejarah kita juga,” ujar Ab.
Salah satu persoalan yang diangkat dalam pertunjukan ialah perubahan dan penghilangan nama. Persoalan tersebut menjadi bagian penting dalam cerita yang dibangun Zaky Satriya.
Di atas panggung, radio juga menjadi salah satu elemen penting. Radio tidak hanya digunakan sebagai bagian dari latar cerita, tetapi juga menjadi simbol cara manusia menyimpan dan menerima informasi pada masa lalu.
Penggunaan radio kemudian dipertemukan dengan konteks perubahan zaman, ketika radio dan televisi mulai ditinggalkan masyarakat yang kini memperoleh informasi melalui perangkat digital.
Dia mengatakan bahwa perubahan tersebut mengajak penonton mempertanyakan kembali apa yang tersisa ketika berbagai media lama perlahan ditinggalkan.
“Kira-kira ketika semuanya ditinggalkan, apa yang terus dalam diri kita?” katanya.
Pertanyaan tersebut tidak diberikan jawaban secara langsung. Penonton justru diajak mencari sendiri makna dari berbagai simbol dan peristiwa yang muncul selama pertunjukan.
Dengan demikian, kata Ab, penonton tidak hanya diarahkan untuk melihat radio sebagai sebuah benda atau memahami satu simbol berdasarkan penjelasan tertentu. “Penonton itu diajak untuk tetap berpikir,” ujarnya.
Pertunjukan juga menyisipkan rujukan terhadap peristiwa 1998. Namun, sejumlah simbol tersebut tidak dijelaskan secara gamblang sehingga penonton diberi ruang untuk menghubungkan satu bagian dengan bagian lainnya.
Secara struktur, ia mengatakan alur pertunjukan mengikuti tiga bagian utama, yakni prolog, isi, dan epilog.
Tiga bagian tersebut menjadi kerangka untuk membawa cerita dari pembukaan hingga akhir pertunjukan.
Di balik seluruh rangkaian cerita dan simbol tersebut, Ab berharap penonton membawa pulang satu pesan sederhana. “Jadikan namamu adalah doa,” katanya.
Pesan tersebut menjadi bagian dari refleksi pertunjukan yang mengajak penonton memikirkan kembali hubungan antara nama, identitas, ingatan, dan sejarah yang tersimpan di baliknya. (*)
Penulis: Ulwan Murtadho
Editor: Ufqil Mubin











