BERITAALTERNATIF.COM – Iran berhasil meraih kemenangan diplomatik penting setelah mencapai kesepakatan gencatan senjata selama dua minggu dengan Amerika Serikat, menyusul negosiasi intens dan mediasi regional, demikian diumumkan pejabat Iran pada Rabu (8/4/2026).
Dalam kesepakatan tersebut, angkatan bersenjata Iran sepakat untuk menghentikan operasi defensif jika AS dan Israel menghentikan serangan mereka. Selain itu, jalur aman melalui Selat Hormuz yang sangat strategis akan dibuka selama dua minggu ke depan di bawah koordinasi dengan militer Iran serta pembatasan teknis tertentu.
Dalam pernyataan atas nama Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan:
“Sebagai tanggapan atas permintaan persaudaraan Perdana Menteri Sharif melalui cuitannya, serta mempertimbangkan permintaan Amerika Serikat untuk bernegosiasi berdasarkan proposal 15 poin mereka, dan pengumuman Presiden AS mengenai penerimaan kerangka umum dari proposal 10 poin Iran sebagai dasar pembicaraan, saya dengan ini menyatakan atas nama Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran: Jika serangan terhadap Iran dihentikan, maka Angkatan Bersenjata kami yang kuat akan menghentikan operasi defensifnya.”
Araghchi juga menyampaikan terima kasih kepada Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif dan Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Marsekal Lapangan Asim Munir atas “upaya tanpa lelah mereka untuk mengakhiri perang di kawasan,” seraya menambahkan bahwa gencatan senjata ini mencerminkan pengorbanan pasukan Iran serta dukungan berkelanjutan dari rakyat sejak awal konflik.
Sebagai bagian dari kesepakatan gencatan senjata dengan AS, Iran mengajukan serangkaian tuntutan rinci yang bertujuan menjamin keamanan nasional, kedaulatan ekonomi, serta pengaruh regionalnya.
Poin utama adalah desakan Iran agar AS dan sekutunya berkomitmen untuk tidak melakukan agresi. Iran juga menuntut jaminan bahwa jeda sementara ini tidak dimanfaatkan untuk melanjutkan aksi militer di kemudian hari.
Hal penting lainnya adalah tuntutan Iran untuk tetap mengendalikan Selat Hormuz, jalur maritim vital yang dilalui sebagian besar pasokan minyak dunia. Dengan mempertahankan kendali atas jalur ini, Iran memperkuat posisi strategisnya dalam pasar energi global.
Iran juga menekankan pengakuan atas haknya untuk melakukan pengayaan uranium, yang selama ini menjadi isu utama dalam negosiasi nuklir internasional. Selain itu, pencabutan sanksi, baik primer maupun sekunder, menjadi fokus penting demi stabilitas ekonomi dan pemulihan akses perdagangan serta keuangan internasional.
Iran juga menyerukan penghentian seluruh resolusi Dewan Keamanan PBB dan Dewan Gubernur yang dianggap membatasi atau menghukumnya, sebagai bagian dari upaya memperbaiki posisi internasionalnya dalam isu nuklir dan keamanan.
Di sisi lain, Iran menuntut kompensasi atas kerusakan yang dialami serta penarikan penuh pasukan AS dari kawasan, guna mengurangi kehadiran militer asing yang dianggap sebagai ancaman.
Terakhir, Iran meminta penghentian operasi militer di semua front, termasuk Lebanon, yang mencerminkan kepentingannya terhadap sekutu regional dan pengaruh yang lebih luas.
Sepuluh poin tuntutan gencatan senjata Iran meliputi komitmen untuk tidak melakukan agresi, kelanjutan kontrol Iran atas Selat Hormuz, pengakuan hak Iran untuk pengayaan uranium, pencabutan seluruh sanksi primer, pencabutan seluruh sanksi sekunder, penghentian seluruh resolusi Dewan Keamanan PBB, penghentian seluruh resolusi Dewan Gubernur, pembayaran kompensasi kepada Iran, penarikan pasukan AS dari kawasan, dan mengakhiri perang di semua front, termasuk Lebanon.
Sementara itu, seorang pejabat senior Gedung Putih mengatakan kepada CNN bahwa Israel telah menyetujui untuk bergabung dalam gencatan senjata sementara dan menghentikan kampanye pengebomannya selama negosiasi berlangsung.
Gencatan senjata ini diumumkan oleh Presiden AS Donald Trump sekitar 90 menit sebelum batas waktu yang ia tetapkan sendiri bagi Iran untuk membuka kembali Selat Hormuz atau menghadapi eskalasi serangan AS terhadap infrastruktur sipil.
Pejabat Gedung Putih tersebut juga mengonfirmasi bahwa Israel ikut serta dalam kesepakatan ini dengan menghentikan sementara serangan udara selama proses negosiasi. (*)
Sumber: Al Mayadeen












