BERITAALTERNATIF.COM – Menurut laporan Al Jazeera yang dikutip kantor berita Mehr, lebih dari 50 kapal telah berkumpul di perairan selatan Yunani di Laut Mediterania. Mereka kemudian bergabung dengan 6 kapal lain yang datang dari Pulau Kreta, lalu berlayar bersama menuju Gaza.
Seluruh kapal itu menjadi bagian dari armada global Shumud yang berangkat untuk menembus blokade yang hampir dua tahun lamanya diberlakukan oleh rezim Israel.
Meski ada ancaman serius dari Tel Aviv dan upaya kabinet Benjamin Netanyahu untuk menghalangi kedatangan armada ke Gaza, seluruh kapal Shumud tetap bergerak bersamaan menuju tujuan akhir mereka.
Seorang peserta mengatakan kepada Al Jazeera bahwa salah satu kapal pernah diserang drone ketika berlabuh di sebuah pelabuhan. Serangan itu memicu kebakaran, namun awak kapal berhasil memadamkan api dan memperbaiki kerusakan sehingga bisa kembali melanjutkan pelayaran.
Kebanyakan kapal dalam armada Shumud memulai perjalanan sejak 23 hari lalu dari Pelabuhan Barcelona, Spanyol. Mereka sempat singgah di pelabuhan Sidi Bou Said dan Bizerte, Tunisia. Di sana, kapal-kapal lain bergabung, sementara sebagian kapal diperbaiki. Setelah itu mereka melanjutkan perjalanan menuju pelabuhan Syracuse di Sisilia, Italia, sebelum bergerak ke arah Yunani.
Armada ini membawa sekitar 1.000 aktivis politik dari berbagai negara. Mereka berlayar untuk menyampaikan pesan solidaritas kepada rakyat Gaza dan mengecam genosida serta serangan udara tanpa henti yang dilakukan tentara pendudukan Israel.
Koordinasi antara puluhan kapal menjadi tantangan besar. Apalagi sebagian besar berukuran kecil dan persediaan mereka—baik makanan, air, maupun bahan bakar—sangat terbatas. Dalam kondisi inilah peran kapal Alma, kapal terbesar dalam armada Shumud, menjadi krusial. Kapal tersebut bertugas memasok bahan bakar dan logistik untuk kapal-kapal lainnya.
Al Jazeera berbincang dengan beberapa orang di atas kapal Alma. Mereka menceritakan aktivitas harian armada Shumud, kehidupan selama lebih dari 20 hari di laut, dan juga tentang berbagai ancaman yang mereka terima dari rezim Israel.
Perjalanan ini jauh dari kata aman. Peserta armada menerima ancaman yang semakin meningkat dari Tel Aviv. Ancaman itu bukan sekadar penahanan atau penyitaan kapal di perairan internasional, tetapi juga berupa serangan langsung—seperti kasus pengeboman kapal saat berlabuh.
Namun para peserta menilai ancaman itu hanyalah upaya menakut-nakuti gerakan masyarakat sipil. Mereka meyakini bahwa ancaman Israel terhadap armada Shumud adalah bentuk nyata “pembajakan laut.” Pesan mereka tegas: inisiatif ini sepenuhnya damai. Muatan kapal pun jelas—bukan senjata, bukan agenda tersembunyi—hanya bantuan kemanusiaan dan pesan solidaritas.
Kenyataannya, malam sebelumnya, sejumlah drone Israel terbang rendah di atas armada. Menurut laporan Komite Internasional untuk Menghentikan Blokade Gaza, ada 15 drone yang terbang di atas kapal Alma dan 5 lainnya di atas kapal Deir Yassin. Kapal Yolara dan Ohuaila juga sempat diserang dengan proyektil pembakar.
Al Jazeera melaporkan bahwa malam itu terjadi 12 serangan drone yang menargetkan 9 kapal armada Shumud. Puluhan drone terlihat terus berputar di atas kapal-kapal Konvoi Shumud.
Para peserta menegaskan bahwa tujuan mereka jelas: menyampaikan pesan kemanusiaan kepada dunia. Beberapa poin utama yang mereka suarakan adalah:
Pertama, aksi kemanusiaan bukanlah petualangan, melainkan kewajiban minimal di tengah kelambanan negara-negara dan lembaga internasional yang gagal mencegah tragedi Gaza.
Kedua, inisiatif ini sepenuhnya independen—bukan bagian dari agenda politik mana pun dan tidak mendapat dukungan resmi, tetapi mereka mendapat solidaritas luas dari masyarakat di seluruh dunia.
Ketiga, armada Shumud menolak segala tuduhan miring yang mencoba mengaitkan mereka dengan kelompok tertentu.
Keempat, suasana di kapal dipenuhi cinta dan rasa tanggung jawab. Semua orang di sana sadar bahwa nyawa mereka tidak lebih berharga daripada nyawa warga sipil Palestina. (*)
Sumber: Mehr News
Penerjemah: Ali Hadi Assegaf
Editor: Ufqil Mubin












