BERITAALTERNATIF.COM – Pada hari Selasa (9/9/2025), rezim Israel melancarkan serangan yang menargetkan para pimpinan Hamas di ibu kota Qatar. Agresi ini memicu kecaman luas dari berbagai negara di dunia.
Hamas mengonfirmasi bahwa lima anggotanya gugur dalam serangan tersebut, termasuk putra dari salah satu pemimpin senior, Khalil al-Hayya. Selain itu, seorang anggota pasukan keamanan Qatar juga tewas.
Para analis menyoroti lima poin penting dari peristiwa ini:
Pertama, setelah Israel menyerang Qatar, media sosial dipenuhi pesan bahwa “kompromi” sama sekali bukan “tameng aman” dari agresi Amerika dan Israel.
Bahkan, dengan melepas “perisai pertahanan,” posisi justru semakin rapuh. Contohnya, Qatar sudah mencapai tingkat kompromi yang tinggi dengan AS, dan hampir tidak ada permusuhan terbuka. AS bahkan membangun salah satu pangkalan militernya yang terbesar di dunia (Al-Udeid) di Qatar, yang dipakai untuk melancarkan serangan ke berbagai negara.
Namun, AS secara resmi mengumumkan bahwa mereka sepenuhnya mengetahui serangan Israel ke Doha. Dengan kata lain, operasi ini dilakukan dengan lampu hijau, dukungan penuh, dan tentu saja peralatan dari Amerika.
Kedua, dalam beberapa hari terakhir, Israel tidak hanya menyerang Qatar, tetapi juga menargetkan sejumlah fasilitas Turki di Suriah. Pesan yang jelas: meski Turki dan Qatar memilih sikap pasif dan tidak mengambil tindakan serius terhadap Israel, mereka tetap tidak kebal dari ancaman. Israel menunjukkan dirinya sebagai anjing gila—kompromi dan diam justru memberinya ruang lebih leluasa untuk menyerang.
Ketiga, ketua parlemen Israel (Knesset) bahkan merilis video serangan ke Qatar dengan menyebutnya sebagai pesan untuk seluruh kawasan Timur Tengah. Pernyataan ini, meski jarang, adalah salah satu pengakuan paling jujur dari pihak Zionis. Seluruh Asia Barat harus sadar bahwa Israel adalah musuh mereka.
Dengan sifatnya yang buas, cepat atau lambat Israel akan menyerang siapa pun, kecuali negara-negara tersebut memiliki “perisai pertahanan” lewat “perlawanan” dan mampu memberi balasan. Jika kawasan tidak bersatu, maka rezim itu akan menghantam setiap pemerintahan yang lemah satu per satu.
Keempat, semua mata kini tertuju pada langkah balasan apa yang akan diambil Qatar. Ada harapan Qatar berani menunjukkan tindakan nyata, meskipun hal ini tampaknya kecil kemungkinannya. Dari sisi militer, Qatar sepenuhnya bergantung pada AS. Pertahanan udara mereka praktis milik Amerika, dan jelas sistem itu tidak akan bergerak melawan serangan Israel. Doha pun menjadi kota tanpa perlindungan.
Kelima, apa pun reaksi Qatar akan dibandingkan dunia Arab dengan sikap tegas Iran. Sekali lagi, dunia Arab dan Islam menimbang kredibilitas antara “perlawanan” dan “kompromi.” Iran memberi balasan dengan serangan rudal yang kuat.
Pertanyaannya, apakah Qatar hanya akan berhenti pada kecaman lisan? Setidaknya ada harapan bahwa Qatar mulai melihat dunia dengan cara yang lebih realistis. (*)
Sumber: Tasnim News
Penerjemah: Ali Hadi Assegaf
Editor: Ufqil Mubin












