BERITAALTERNATIF.COM – Presiden Republik Islam Iran Masoud Pezeshkian menegaskan komitmen Iran untuk menyelesaikan masalah terkait program nuklirnya melalui jalur diplomasi dan interaksi.
Pezeshkian menekankan bahwa Teheran selalu mengedepankan perdamaian dan stabilitas, sembari mengecam tindakan agresi rezim Zionis.
Pernyataan itu disampaikannya dalam pertemuan dengan Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres di sela-sela KTT ke-25 Organisasi Kerja Sama Shanghai (SCO) di Tianjin, China, pada hari Senin (1/9/2025).
Dalam kesempatan itu, ia menyampaikan apresiasi atas sikap Sekjen PBB terkait kejahatan rezim Zionis terhadap rakyat Palestina di Gaza serta serangan-serangan terbaru terhadap Iran.
Ia menyebut pernyataan Guterres sebagai langkah yang konstruktif dan sangat dibutuhkan.
Presiden Iran juga mendesak PBB agar mengambil posisi yang lebih tegas dalam mengutuk kejahatan rezim Zionis terhadap Palestina maupun negara lain di kawasan.
Menurutnya, organisasi internasional—terutama PBB—diharapkan melakukan langkah nyata dan lebih tegas menghadapi provokasi serta tindakan destabilisasi Israel yang terus berulang di Timur Tengah.
Dia menyinggung bahwa bahkan saat Iran tengah terlibat dalam negosiasi dengan Amerika Serikat, negara itu tetap menjadi sasaran serangan agresif dari rezim Zionis.
Pezeshkian menambahkan, Iran sejak lama menjadi korban utama terorisme, di mana banyak pejabat senior dan tokoh penting telah gugur dalam serangan teroris.
“Hari ini, rezim Zionis membunuh siapa saja yang mereka kehendaki, di mana saja di kawasan, dengan dalih membela diri,” tegasnya sembari menyoroti ancaman berkelanjutan yang ditimbulkan Israel.
Ia juga mengkritik Badan Energi Atom Internasional (IAEA) dan direktur jenderalnya. Iran telah menjalani inspeksi paling ketat di dunia, namun IAEA tidak pernah mengutuk serangan Israel terhadap fasilitas nuklir damai Iran yang sepenuhnya berada di bawah pengawasan lembaga itu.
Pezeshkian menyebut sikap diam ini sebagai pelanggaran terhadap norma dan aturan internasional, serta menunjukkan kegagalan IAEA dalam menegakkan akuntabilitas.
Dia juga menyinggung undang-undang yang disahkan parlemen Iran untuk menangguhkan kerja sama dengan IAEA akibat sikap lembaga itu yang tidak bisa dipercaya.
Menurutnya, Dewan Keamanan Nasional Tertinggi kini diberi mandat untuk menentukan lingkup dan bentuk kerja sama Iran di masa depan. Dengan cara ini, Iran tetap menjaga kerja sama yang konstruktif sekaligus menegaskan komitmennya menyelesaikan masalah nuklir lewat jalur diplomasi.
Di pihak lain, Guterres menyatakan keyakinan pribadinya bahwa Iran tidak sedang mengejar senjata nuklir dan program nuklir negara itu sepenuhnya bersifat damai.
“Saya percaya bahwa tujuan Iran bukan memproduksi senjata nuklir, dan program nuklir damai adalah hak sah yang saya akui sepenuhnya,” ujarnya.
Sekjen PBB itu juga menyampaikan keprihatinan atas kemungkinan pengaktifan mekanisme snapback dalam kerangka JCPOA.
Ia menegaskan telah berkomunikasi dengan pejabat Eropa dan mendesak mereka agar bekerja sama dengan Iran untuk mencari penyelesaian. (*)
Sumber: Tasnim News
Penerjemah: Ali Hadi Assegaf
Editor: Ufqil Mubin












