BERITAALTERNATIF.COM – Anggota DPRD Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) Taufik Ridiannur ingin para pemuda di daerah selalu solid.
Taufik mendorong para pemuda agar tak hanya menjadi penonton, melainkan turut memberikan masukan serta kritik yang membangun terhadap pemerintahan Kukar.
“Pemuda di Kukar harus menjadi pemberi masukan maupun kritikan secara membangun. Kalau kami melihat di zaman saat ini, tidak akan dihargai kita kalau tidak bersatu,” ucapnya di Graha DPD KNPI Kukar pada Sabtu (23/8/2025) malam.
Dia mengatakan, salah satu contoh yang baik untuk dilakukan para pemuda ialah seperti perjuangan mahasiswa saat menuntut hak beasiswa secara utuh kepada pemerintah daerah.
Hal tersebut menjadi bukti nyata bahwa kesolidan pemuda mampu mengubah kebijakan.
Semula Pemkab Kukar hanya membayar Rp 1,6 juta kepada setiap penerima beasiswa, namun setelah mendapat tekanan mahasiswa, kebijakan itu pun berubah secara drastis.
“Ini karena kita solid. Kalau tidak solid, tidak pernah didengar orang-orang. Jadi, intinya jangan pernah terpecah-pecah,” ujarnya.
Menurutnya, soliditas merupakan benteng utama agar para pemuda tidak mudah dipecah belah oleh isu-isu yang menyesatkan.
Dengan wilayah yang sangat luas, yakni 27.263 km² mencakup 20 kecamatan, 44 kelurahan, dan 195 desa, pemerintah daerah tidak mungkin bisa bekerja maksimal tanpa dukungan pemuda.
“Siapa yang bisa membantu pemerintah? Ya, kawan-kawan pemuda. Senang tidak senang, pemuda ini adalah aset Kutai Kartanegara 5 sampai 20 tahun ke depan. Daerah ini akan ditentukan oleh kualitas pemuda saat ini,” katanya.
Taufik menilai para pemuda Kukar memiliki potensi besar karena didukung sumber daya alam yang melimpah.
Meski demikian, tanpa SDM yang baik, kekayaan tersebut hanya akan dinikmati orang lain.
“Kita punya sumber daya alam lebih kaya dari daerah lain. Tapi kalau pemudanya tidak bagus saat ini, jangan heran kalau ke depan kita hanya jadi penonton,” tegasnya.
Dia menegaskan, persaingan ke depan semakin ketat. Kehadiran pendatang dari berbagai daerah di Indonesia tidak bisa dihalangi karena mereka juga warga negara yang memiliki hak yang sama.
“Jadi, kita harus mempersiapkan diri untuk bersaing secara sehat. Jangan takut, tapi jadikan persaingan itu positif. Kalau bersaingnya salah arah, kacau,” pungkasnya. (adv)
Penulis: M. As’ari
Editor: Ufqil Mubin












