BERITAALTERNATIF – Penyitaan kapal tanker minyak, pergantian pemerintahan di negara-negara yang kaya akan sumber daya, serta meningkatnya ketegangan di jalur-jalur laut yang sangat vital bukanlah peristiwa yang berdiri sendiri. Jika rangkaian kejadian ini diperhatikan dengan cermat, akan tampak sebuah strategi besar, di mana Amerika Serikat berupaya menghalangi China untuk mengakses energi, khususnya minyak yang murah dan mudah diperoleh. Persoalannya tidak hanya berkaitan dengan pasokan minyak semata, tetapi juga menyangkut kontrak-kontrak dan jalur distribusi yang berada di luar kendali Barat. Washington ingin sumber-sumber energi ini dihapus sepenuhnya, atau setidaknya dibuat sedemikian sulit dan mahal sehingga akses China menjadi terbatas dan dominasi global Amerika tetap terjaga.
Pasca perang Ukraina, China dengan cepat mulai membeli minyak dari negara-negara yang menjadi target sanksi Barat, termasuk Iran, Venezuela, dan Rusia. Hubungan-hubungan ini tidak terbentuk secara tiba-tiba, melainkan diperkuat secara bertahap dari waktu ke waktu. Aliansi global sedang mengalami pergeseran, jalur-jalur keuangan baru mulai bermunculan, dan banyak negara di kawasan Selatan Global kini sampai pada kesimpulan bahwa untuk kerja sama jangka panjang, menghadap ke Timur bisa menjadi pilihan yang lebih masuk akal. Ketika Barat memperketat sanksi, China memberikan bantuan kepada negara-negara tersebut, dan sebagai imbalannya memperoleh minyak dengan harga relatif murah serta kerja sama politik.
Amerika Serikat memandang kondisi ini sebagai tantangan serius. Sebagai respons, Washington mulai menerapkan berbagai langkah keras. Penerapan sanksi, pencantuman perusahaan ke dalam daftar hitam, pengajuan gugatan hukum, hingga penyitaan kapal di laut telah menjadi hal yang biasa. Meski secara tampak langkah-langkah terbaru diarahkan kepada Iran dan Venezuela, sasaran utamanya adalah mempersulit akses China terhadap energi. Setiap kali sebuah kapal disita atau muatan minyak dihentikan, rantai pasokan energi China menjadi semakin rumit dan tidak stabil.
Pada awal tahun 2026, Amerika Serikat melakukan sebuah operasi militer ofensif di Venezuela. Operasi ini berujung pada penculikan Presiden Nicolas Maduro dan pencopotannya dari kekuasaan. Tindakan tersebut dipromosikan atas nama demokrasi, namun tujuan sebenarnya adalah menguasai sumber daya minyak Venezuela. Washington secara terbuka menyatakan bahwa minyak Venezuela selanjutnya akan dikirim ke kilang-kilang Amerika, karena kilang-kilang tersebut membutuhkan minyak mentah berat. Padahal, minyak inilah yang sebelumnya dipasok ke China melalui kontrak-kontrak jangka panjang. Perubahan ini berpotensi menyebabkan China kehilangan sekitar 400 ribu barel minyak per hari dan secara langsung memengaruhi strategi energi negara tersebut.
Meski demikian, China menolak untuk mundur. Negara ini membutuhkan minyak dalam jumlah yang sangat besar dan terus mencari jalur-jalur alternatif untuk memenuhi kebutuhannya. Pada tahun 2023, China mengimpor lebih dari 11,3 juta barel minyak per hari, dengan sekitar 2,1 juta barel di antaranya berasal dari Rusia. Minyak Iran, yang dijual dengan harga di bawah pasar global, tetap mengalir ke China melalui berbagai rute. China membeli lebih dari 80 persen ekspor minyak Iran. Bagi China, minyak ini menjadi mesin pembangunan, sementara bagi Iran, setelah sanksi diberlakukan, minyak tersebut menjadi penopang utama perekonomian nasional.
Iran, meskipun berada di bawah tekanan sanksi, telah mengadopsi berbagai metode baru untuk menjual minyaknya. Metode tersebut mencakup pemindahan muatan di tengah laut, pengiriman tidak langsung, hingga penggunaan sistem pembayaran alternatif. Memblokir jalur-jalur ini tidak hanya berarti memberikan tekanan kepada pemerintah, tetapi juga berdampak langsung pada kehidupan masyarakat biasa. Ketika Amerika menutup jalur-jalur tersebut, pada kenyataannya energi dijadikan sebagai senjata terhadap negara-negara Selatan Global.
Situasi ini juga menimbulkan kekhawatiran bagi Pakistan. Negara-negara seperti Pakistan berupaya melakukan diversifikasi sumber energi demi menjaga keamanan energi nasional. Namun kini, minyak dan perdagangan tidak lagi sepenuhnya berjalan berdasarkan mekanisme pasar. Politiklah yang menentukan negara mana yang boleh mengakses energi. Jika bahkan kekuatan besar seperti China pun berada di bawah tekanan kebijakan agresif Barat, maka tantangan yang dihadapi negara-negara yang lebih kecil akan jauh lebih berat.
Kini semakin jelas bahwa energi dan kebijakan luar negeri tidak lagi dapat dipisahkan. Sanksi bukan lagi sekadar alat tekanan ekonomi, melainkan telah berubah menjadi bentuk pengepungan. Minyak telah beralih fungsi menjadi senjata politik. Jalur akses terhadap energi murah bagi negara-negara Selatan Global semakin hari semakin menyempit, dan kondisi seperti ini tidak mungkin bertahan lama.
Risiko besar lainnya adalah kemungkinan satu kesalahan perhitungan atau keputusan keliru memicu krisis yang jauh lebih besar. Ketika Amerika memperluas tindakannya ke kawasan sensitif seperti Selat Hormuz, ruang diplomasi semakin tercekik. Kesabaran Iran memiliki batas, dan China juga tidak akan selamanya menerima kebijakan agresif semacam ini.
Penyitaan satu kapal lagi atau pergantian satu pemerintahan sekutu dapat menjadi percikan konflik besar. Ini bukan semata-mata perang minyak, melainkan telah berkembang menjadi pertarungan besar antar tatanan global. Amerika berusaha mempertahankan dominasinya melalui tekanan dan kontrol, sementara China mengandalkan jalur-jalur alternatif dan kerja sama untuk memperkuat tatanannya sendiri. Iran dan Venezuela tidak lagi sekadar pemasok minyak, tetapi telah berubah menjadi simbol perlawanan terhadap sistem Amerika; sebuah sistem yang keuntungannya dinikmati oleh segelintir kekuatan dan perusahaan besar, sementara negara lain kehilangan kesempatan untuk menikmati sumber energi secara adil.
Masa depan energi dunia kini tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh mekanisme pasar, melainkan terikat erat pada keputusan kekuasaan dan politik. Iran telah memilih jalannya. Pertanyaan yang kini dihadapi negara-negara lain di Selatan Global adalah apakah mereka akan tetap netral, menyerah pada tekanan, atau dengan tegas mempertahankan kedaulatan dan kemerdekaan mereka. (*)
Sumber: Mehr News
Penerjemah dan Editor: Ali Hadi Assegaf












