BERITAALTERNATIF.COM – PAUD ‘Aisyiyah Enggang Surya Ceria turut mengambil bagian dalam membantu warga terdampak kebakaran di RT 33, Kelurahan Melayu, Kecamatan Tenggarong, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar).
Penanggung Jawab PAUD ‘Aisyiyah Enggang Surya Ceria, Dwi Susilowati, mengatakan keterlibatan pihak sekolah dalam penanganan dampak kebakaran merupakan inisiatif internal sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat yang sedang menghadapi musibah.
Susi mengatakan, meskipun pihak sekolah tidak menjadi korban langsung dalam peristiwa kebakaran tersebut, para guru dan pengelola sekolah berusaha merasakan kondisi yang dialami para korban.
“Ini memang inisiatif kami. Karena bagaimanapun, walaupun kami ini bukan korban, tetapi kami bisa merasakan seperti apa ketika kita menjadi korban sendiri,” ujarnya kepada awak media Berita Alternatif pada Rabu (7/10/2026) sore.
Menurutnya, kepedulian tersebut juga sejalan dengan semangat persyarikatan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah untuk hadir membantu masyarakat ketika terjadi bencana kemanusiaan.
“Karena memang sekolah Aisyiyah dan guru-guru Aisyiyah memang sudah diperkuat oleh persyarikatan. Ketika ada bencana kemanusiaan, kita harus tampil paling duluan untuk membantu mereka dan dapat meringankan mereka,” katanya.
Dia menjelaskan, keberadaan sekolah sebagai lembaga pendidikan Islam tidak hanya berorientasi pada kegiatan pembelajaran, tetapi juga diharapkan memberikan manfaat bagi masyarakat.
“Karena itu juga adalah visi misi sebuah sekolah Islam kami, yang di mana bahwasanya kita harus ada bermanfaat untuk umat,” jelasnya.
Menjadi Tempat Pengungsian dan Penyaluran Bantuan
Susi mengungkapkan, sejak hari pertama pascakebakaran, PAUD ‘Aisyiyah Enggang Surya Ceria juga digunakan sebagai tempat mengungsi bagi satu Kepala Keluarga (KK) yang terdiri dari lima orang.
Selain menjadi tempat pengungsian, sekolah tersebut juga dimanfaatkan sebagai salah satu titik pelayanan bagi warga terdampak.
Pada hari kedua setelah kejadian, pihak sekolah diminta membantu menyediakan tempat bagi masyarakat terdampak untuk memperoleh pakaian layak pakai.
“Di awal kejadian itu kita diminta untuk menjadi pusat bagaimana masyarakat yang terdampak bisa mengambil baju layak pakai di sini,” ungkapnya.
Pelayanan pakaian layak pakai tersebut berlangsung hingga hari berikutnya.
Selain itu, pihak sekolah bersama Persyarikatan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah juga menggalang bantuan untuk korban kebakaran.
Kegiatan tersebut melibatkan Pimpinan Daerah Muhammadiyah, Pimpinan Daerah ‘Aisyiyah, serta SD Muhammadiyah.
Dia mengatakan, PAUD ‘Aisyiyah Enggang Surya Ceria juga menjadi tempat bagi masyarakat yang ingin menyalurkan bantuan, khususnya para wali murid yang mengetahui keberadaan posko tersebut.
“Kami pun membantu pemerintah bagaimana ketika ada yang ingin menyalurkan bantuan tetapi bingung. Terutama banyak sekali wali-wali murid kami, masyarakat yang sudah tahu TK ‘Aisyiyah dan SD Muhammadiyah, akan menuju ke sini dan itu akan kita salurkan kembali kepada pemerintah,” tuturnya.
Identifikasi Kebutuhan Korban
Tidak hanya mengumpulkan dan menyalurkan bantuan, para guru dan relawan di sekolah tersebut juga membantu melakukan pendataan terhadap kebutuhan para korban.
Susi mengungkapkan, identifikasi dilakukan untuk mengetahui kebutuhan yang benar-benar mendesak. Hal tersebut penting karena bantuan tertentu, seperti pakaian layak pakai, telah tersedia dalam jumlah cukup banyak.
“Kami membantu bagaimana mendata, ada korban anak-anak atau tidak. Kami membantu mencari, para korban ini apa keperluannya. Kita identifikasi,” katanya.
Dari proses tersebut, pihaknya menemukan bahwa terdapat kebutuhan lain yang terkadang kurang mendapatkan perhatian, salah satunya perlengkapan mandi.
“Misalnya pakaian layak pakai sangat banyak. Ternyata kebutuhan urgent lainnya ini belum ada. Nah, itulah kita berusaha bagaimana melalui komite sekolah, melalui masyarakat, kita ajak bersama-sama, kita identifikasi keperluan korban apa saja,” jelasnya.
Dia menambahkan, perlengkapan mandi menjadi salah satu kebutuhan yang kemudian diupayakan untuk dipenuhi.
“Seperti peralatan mandi itu kadang kurang terperhatikan,” ujarnya.
Puluhan Guru Terlibat sebagai Relawan
Pelayanan di posko bantuan dilakukan sejak pagi hingga menjelang magrib. Karena mayoritas relawan yang bertugas merupakan perempuan, pihak sekolah mengatur pergantian penjagaan pada malam hari dengan melibatkan unsur Pemuda Muhammadiyah.
“Dari pagi sampai nanti, biasanya menjelang maghrib kami pulang. Kalau malam biasanya nanti kita akan minta bantuan kepada komandan Pemuda Muhammadiyah untuk menjaga di sini,” katanya.
Ia menjelaskan, pergantian petugas dilakukan karena bantuan dari masyarakat masih dapat datang pada malam hari.
“Karena siapa tahu malam pun harusnya kami standby, tapi karena perempuan semua, itu kita tukar shift nanti. Karena ada yang masih mengirim bantuan di malam hari,” jelasnya.
Pada siang hari, sebanyak 21 orang terlibat dalam pelayanan di lokasi tersebut. “Itu adalah guru-guru yang memang semuanya adalah ibu-ibu guru dan karyawan semuanya terlibat menjadi relawan di sini,” katanya.
Susi menegaskan, keterlibatan para guru dan karyawan tersebut dilakukan secara sukarela sebagai bentuk kepedulian terhadap warga sekitar.
“Itu murni adalah inisiatif kami. Bagaimana ketika masyarakat di sekitar kita sedang terdampak, kita tidak boleh menutup mata,” tegasnya.
Sekolah belum Kembali Normal
Di tengah aktivitas membantu korban, PAUD ‘Aisyiyah Enggang Surya Ceria juga menghadapi dampak dari kebakaran. Sejumlah bagian lingkungan sekolah masih belum tertata akibat terdampak peristiwa tersebut.
Susi menjelaskan, akses menuju sekolah masih dipenuhi reruntuhan dan puing-puing. Kondisi ruang kelas juga belum sepenuhnya kembali normal.
“Pertama, akses jalan masuk ke sekolah ini juga masih padat dengan reruntuhan, kemudian dengan puing-puing hitam. Kemudian suasana kelas ini juga belum tertata,” ujarnya.
Sejumlah barang yang sebelumnya berada di dalam ruangan telah dikeluarkan. Beberapa bagian kaca juga masih belum diperbaiki.
“Yang porak-poranda, yang barang-barangnya kita sudah keluar, dan petak-petak kaca itu belum kita perbaiki,” katanya.
Selain kondisi fisik bangunan, persoalan lain yang menjadi perhatian adalah kualitas udara di lingkungan sekolah. Bau asap masih terasa cukup kuat sehingga pihak sekolah mempertimbangkan keselamatan dan kesehatan anak-anak sebelum kembali melaksanakan kegiatan pembelajaran.
“Yang paling penting adalah suasana udara di kelas ini belum sehat. Karena masih sangat kencang bau asapnya. Jadi, ini menjaga keselamatan dan kesehatan anak-anak didik kami,” terangnya.
Fokus Membantu Korban hingga Sabtu
Susi mengatakan, pihak sekolah berencana memanfaatkan waktu hingga Sabtu ini untuk membantu warga terdampak sekaligus melakukan penataan lingkungan sekolah.
Keputusan tersebut diambil karena kegiatan pembelajaran belum dapat dilaksanakan secara optimal. Pihak sekolah masih mempertimbangkan kondisi lingkungan dan keamanan anak-anak.
“Kebetulan mungkin pembelajaran masih akan berlangsung di minggu depan. Jadi, minggu ini kita akan fokuskan untuk membantu korban,” katanya.
Dia berharap bantuan yang diberikan sekolah bersama berbagai unsur persyarikatan dapat meringankan beban warga terdampak kebakaran.
Ia juga berharap para korban dapat segera memulihkan kondisi kehidupan mereka dan kembali menata masa depan setelah mengalami musibah.
“Apa yang bisa kami bantukan ini mudah-mudahan dapat meringankan beban mereka dan ke depannya mudah-mudahan ini semuanya akan tertata kembali, mereka bangkit kembali seperti semula,” harapnya.
Menurutnya, sebagian korban kemungkinan mengalami tekanan psikologis akibat peristiwa yang mereka alami. Karena itu, dukungan dari berbagai pihak sangat dibutuhkan agar mereka dapat kembali menjalani kehidupan secara bertahap.
“Memang ada beberapa yang namanya mengalami peristiwa, mungkin shock sekali, tetapi mudah-mudahan ini semua akan ada hikmahnya. Mereka bisa menata hidupnya kembali, berlanjut kembali,” tuturnya.
Susi menegaskan bahwa pihak sekolah hanya dapat membantu sesuai dengan kemampuan mereka, termasuk menyediakan tempat, memfasilitasi kebutuhan korban, dan membantu menghubungkan bantuan masyarakat dengan pemerintah.
“Mudah-mudahan nanti pemerintah daerah juga membantu mereka bagaimana menyiapkan kembali hunian mereka, untuk siap kembali ke kehidupan mereka,” tutupnya. (*)
Penulis: Ahmad Rifa’i
Editor: Ufqil Mubin











